Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Mengapa Tiongkok Menargetkan Pertumbuhan Ekonomi 4,5% hingga 5% pada Tahun 2026?

Haufan Hasyim Salengke
24/1/2026 05:54
Mengapa Tiongkok Menargetkan Pertumbuhan Ekonomi 4,5% hingga 5% pada Tahun 2026?
Ilustrasi - Pelabuhan di Tiongkok.(SCMP)

Pemerintah Tiongkok dilaporkan tengah bersiap menetapkan target pertumbuhan ekonomi resmi pada kisaran 4,5% hingga 5% untuk tahun 2026. Angka ini mencerminkan sikap pragmatis Beijing yang mulai menoleransi perlambatan moderat demi mengejar narasi "pembangunan berkualitas tinggi" dan stabilitas jangka panjang.

Berdasarkan laporan South China Morning Post, Jumat (23/1) waktu setempat, yang mengutip sumber-sumber internal, target ini menjadi sinyal kuat bahwa Beijing tidak lagi mengejar pertumbuhan eksplosif (breakneck expansion). Sebaliknya, di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, fokus kini beralih pada penyeimbangan kembali struktur ekonomi (rebalancing) menjelang Kongres Nasional Partai Komunis pada 2027.

Antara Surplus Rekor dan Konsumsi Lemah

Meski berhasil mencatatkan pertumbuhan 5,0% pada 2025 dan membukukan surplus perdagangan masif sebesar US$1,2 triliun, fondasi ekonomi Tiongkok tidak sepenuhnya kokoh. Strategi mengandalkan ekspor untuk menutupi lesunya konsumsi domestik dianggap mulai mencapai titik jenuh.

Para ekonom memperingatkan bahwa 'banjir' barang murah asal Tiongkok ke pasar global demi mempertahankan angka pertumbuhan akan memicu deflasi profit. Alicia Garcia Herrero, Kepala Ekonom Asia-Pasifik di Natixis, menyoroti risiko ini.

"Tiongkok hanya bisa terus meningkatkan ekspor dengan harga yang semakin rendah. Hal ini membunuh keuntungan (profit) dan pada akhirnya membunuh ekonomi itu sendiri," ujar Herrero.

Bayang-bayang Stagnasi Jepang

Di tingkat domestik, tantangan nyata justru datang dari sektor investasi. Lembaga pemikir Rhodium Group memperkirakan pertumbuhan riil Tiongkok tahun lalu mungkin hanya berada di angka 2,5% hingga 3,0% jika melihat penurunan tajam pada investasi aset tetap.

Beijing kini berada di bawah tekanan besar untuk merombak 'juggernaut' manufakturnya. Tujuannya adalah memobilisasi 1,4 miliar penduduknya agar lebih konsumtif, sekaligus mencegah risiko 'stagnasi gaya Jepang', yaitu kondisi di mana ekonomi berhenti tumbuh dalam waktu lama akibat krisis properti dan populasi yang menua.

Stimulus Moneter dan Optimisme IMF

Merespons situasi tersebut, Gubernur Bank Sentral China (PBOC), Pan Gongsheng, mengisyaratkan masih adanya ruang bagi kebijakan moneter. Penurunan rasio cadangan wajib bagi perbankan tetap menjadi opsi utama untuk menyuntikkan likuiditas ke pasar.

Senada dengan optimisme hati-hati tersebut, Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini merevisi proyeksi pertumbuhan Tiongkok menjadi 4,5% untuk 2026. Angka ini sejalan dengan konsensus 73 ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Target resmi ini diharapkan akan diumumkan secara formal dalam sesi parlemen tahunan pada Maret mendatang, yang juga menandai dimulainya Rencana Lima Tahun terbaru Tiongkok. (SCMP/Manila Times/B-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya