Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

5 Mitos Gerhana Bulan dari Berbagai Budaya dan Fakta Sains di Baliknya

N Apuan Iskandar
02/3/2026 16:04
5 Mitos Gerhana Bulan dari Berbagai Budaya dan Fakta Sains di Baliknya
5 mitos gerhana bulan dari berbagai budaya dunia.(Dok. Gemini AI)

GERHANA bulan selalu berhasil memukau mata siapa pun yang memandangnya. Namun, jauh sebelum teleskop canggih ditemukan, fenomena langit ini sering kali dianggap sebagai peristiwa mistis yang mendebarkan.

Dari naga yang menelan bulan hingga simbol perdamaian, setiap peradaban memiliki cara unik untuk menjelaskan mengapa satelit alami Bumi ini tiba-tiba meredup atau berubah warna menjadi kemerahan.

Mari kita telusuri lebih dalam lima mitos gerhana bulan yang paling populer di dunia dan bandingkan dengan penjelasan ilmiah modern yang melatarbelakanginya.

1. Tiongkok Kuno: Naga Langit yang Lapar

Dalam catatan sejarah Tiongkok kuno, gerhana bulan tidak dipandang sebagai posisi orbit benda langit, melainkan sebuah serangan. Masyarakat percaya bahwa seekor naga langit sedang berusaha menelan bulan bulat-bulat.

Untuk menyelamatkan bulan, warga akan berkumpul di jalanan sambil memukul genderang, panci, dan alat musik apa pun yang bisa menghasilkan suara bising. Tujuannya satu: menakut-nakuti sang naga agar memuntahkan kembali bulan tersebut.

Fakta Sains: Secara astronomi, gerhana bulan terjadi karena konfigurasi Syzygy, yaitu kondisi di mana Matahari, Bumi, dan Bulan berada di satu garis lurus. Cahaya matahari terhalang oleh tubuh Bumi, sehingga bayangan Bumi jatuh ke permukaan Bulan.

2. Mitologi Hindu: Balas Dendam Rahu

Di India, mitologi Hindu menceritakan kisah Rahu, seorang iblis yang meminum ramuan keabadian (Amrita). Matahari dan Bulan melaporkan perbuatan Rahu kepada Dewa Wisnu, yang kemudian memenggal kepala Rahu.

Namun, karena sudah meminum ramuan abadi, kepala Rahu tetap hidup dan mengejar Matahari serta Bulan untuk membalas dendam.

Fakta Sains: Fenomena ini adalah peristiwa yang sangat dapat diprediksi. Gerhana bulan hanya terjadi pada fase bulan purnama ketika bulan melintasi titik simpul (node) orbitnya yang berpotongan dengan ekliptika Bumi.

3. Suku Inca: Ancaman Jaguar Terhadap Bulan

Bagi peradaban Inca di Amerika Selatan, gerhana bulan adalah momen yang menakutkan. Mereka percaya seekor jaguar raksasa sedang menyerang dan memakan bulan.

Ketakutan terbesar mereka adalah setelah jaguar selesai memakan bulan, hewan buas itu akan turun ke Bumi untuk memangsa manusia.

Fakta Sains: Warna merah yang sering terlihat saat gerhana bulan total (Blood Moon) muncul karena atmosfer Bumi membiaskan cahaya matahari dan menyebarkan spektrum warna merah ke permukaan bulan, fenomena yang dikenal sebagai Hamburan Rayleigh.

4. Suku Batammaliba: Pesan Perdamaian dari Langit

Berbeda dengan mitos lain yang bernuansa ketakutan, suku Batammaliba di Togo dan Benin memiliki sudut pandang yang lebih bijak. Bagi mereka, gerhana bulan adalah simbol konflik antara Matahari dan Bulan.

Masyarakat melihat ini sebagai peringatan bagi manusia untuk menyelesaikan perselisihan mereka sendiri.

Fakta Sains: Gerhana bulan memang melibatkan interaksi antara Matahari dan Bulan, namun bukan dalam bentuk konflik. Ini adalah tarian gravitasi yang harmonis yang terjadi rata-rata dua hingga lima kali dalam setahun.

5. Mitos Global: Pertanda Bencana dan Malapetaka

Salah satu mitos yang paling bertahan lama adalah anggapan bahwa gerhana bulan merupakan pertanda akan datangnya bencana besar. Hal ini sering dikaitkan dengan penampakan bulan yang berwarna merah gelap yang dianggap sebagai simbol pertumpahan darah.

Fakta Sains: Berdasarkan data dari International Astronomical Union (IAU), tidak ada korelasi statistik antara kemunculan gerhana bulan dengan bencana alam. Gerhana adalah siklus rutin yang diatur oleh hukum fisika.

Kesimpulan

Meskipun sains modern telah memberikan jawaban pasti, mitos-mitos tentang gerhana bulan memberikan kita wawasan berharga tentang sejarah kebudayaan manusia.

Menghargai mitos ini berarti menghargai cara manusia purba mencoba memahami alam semesta sebelum adanya teknologi modern.

FAQ Mengenai Gerhana Bulan

  • Apakah melihat gerhana bulan berbahaya bagi mata? Tidak, gerhana bulan sangat aman dilihat dengan mata telanjang.
  • Mengapa bulan berwarna merah saat gerhana total? Karena atmosfer Bumi membiaskan cahaya matahari dan hanya spektrum merah yang mencapai permukaan bulan.
  • Kapan gerhana bulan berikutnya terjadi? Jadwal gerhana dapat dipantau melalui situs resmi BMKG atau NASA secara berkala. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya