Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
AURORA dikenal sebagai salah satu fenomena alam paling indah di dunia. Cahaya berwarna hijau, ungu, hingga merah muda yang menari di langit malam ini kerap terlihat di negara-negara dekat kutub seperti Norwegia, Islandia, Kanada, hingga Antarktika. Namun, satu pertanyaan sering muncul: kenapa aurora tidak pernah terlihat di Indonesia?
Jawabannya bukan karena cuaca, polusi cahaya, atau kurangnya pengamatan, melainkan berkaitan langsung dengan ilmu fisika Bumi dan medan magnet planet kita.
Penjelasan ini banyak diulas dalam kajian astronomi yang dirujuk oleh lembaga sains dunia seperti NASA dan National Geographic. Intinya sederhana: letak geografis Indonesia tidak memungkinkan terjadinya aurora.
Aurora terjadi akibat interaksi antara angin surya dan medan magnet Bumi. Matahari secara terus-menerus melepaskan partikel bermuatan listrik melalui angin surya. Partikel-partikel ini kemudian diarahkan oleh medan magnet Bumi menuju dua wilayah utama, yaitu kutub utara dan kutub selatan.
Di daerah kutub, garis medan magnet Bumi menukik langsung ke atmosfer. Ketika partikel Matahari bertabrakan dengan gas di atmosfer atas, seperti oksigen dan nitrogen, energi dilepaskan dalam bentuk cahaya. Fenomena inilah yang dikenal sebagai aurora borealis (di utara) dan aurora australis (di selatan).
Masalah utamanya terletak pada posisi geografis Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa. Di wilayah ini, garis medan magnet Bumi bersifat lebih mendatar, tidak langsung masuk ke atmosfer seperti di wilayah kutub.
Akibatnya, partikel bermuatan dari Matahari tidak diarahkan ke atmosfer Indonesia, melainkan dibelokkan ke lintang yang lebih tinggi. Dengan kata lain, meskipun sumber energi aurora ada, tidak terjadi tumbukan partikel di atmosfer atas Indonesia, sehingga aurora tidak terbentuk.
Dalam kondisi tertentu, aurora memang dapat meluas ke lintang yang lebih rendah. Saat terjadi badai geomagnetik besar, area kemunculan aurora (auroral oval) bisa melebar hingga wilayah lintang menengah, seperti Jepang bagian selatan atau Amerika Serikat bagian selatan.
Namun, berdasarkan catatan ilmiah, aurora di dekat khatulistiwa sangat jarang dan bersifat ekstrem. Peristiwa seperti ini hanya tercatat beberapa kali dalam sejarah modern dan tidak pernah menjadi fenomena rutin. Indonesia tetap berada di luar jangkauan praktis aurora, bahkan saat aktivitas Matahari berada di level tinggi.
Aurora tidak terlihat di Indonesia bukan karena faktor lokal, melainkan karena hukum fisika global. Selama struktur medan magnet Bumi tetap stabil, aurora akan terus terfokus di wilayah kutub.
Kesimpulannya, satu-satunya cara melihat aurora bukan dengan menunggu langit Indonesia berubah, melainkan dengan melakukan perjalanan ke wilayah lintang tinggi yang memang menjadi “rumah” alami fenomena cahaya ini. (Star Walk/Unicus Olympiads/National Geographic/Z-10)
Sebagian partikel atmosfer Bumi ternyata “bocor” dan berpindah ke permukaan Bulan. Proses ini diduga telah berlangsung selama miliaran tahun.
Medan magnet Bumi terbentuk oleh inti Bumi yang terdiri dari besi cair yang berputar di kedalaman sekitar 2.900 kilometer. Medan ini melindungi permukaan Bumi dari partikel bermuatan
Badan Antariksa Eropa (ESA) baru saja menyelesaikan simulasi cuaca antariksa paling ekstrem yang pernah dilakukan.
Anomali magnetik di atas Samudra Atlantik Selatan terus melebar sejak 2014. Fenomena ini melemahkan medan magnet Bumi di wilayah tersebut.
Medan magnet Bumi sendiri terbentuk dari pergerakan logam cair di inti planet kita, terutama besi dan nikel. Medan ini memanjang hingga puluhan ribu kilometer ke angkasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved