Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
NASIB kesepakatan tarif dagang Indonesia-Amerika Serikat (AS) kembali menjadi tanda tanya setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif global 10% untuk impor. Kebijakan baru itu muncul di tengah dinamika putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan kebijakan bea masuk sebelumnya.
Padahal, dalam pertemuan di Gedung Putih pada Kamis (20/2), Presiden Prabowo Subianto dan Trump disebut telah menyepakati skema tarif resiprokal 19% untuk ekspor Indonesia ke AS.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan, kelanjutan Agreement on Reciprocal Trade (ART) RI–AS masih menunggu tahapan lanjutan dari kedua negara.
“Artinya, terhadap perjanjian ini pihak Indonesia juga masih perlu proses ratifikasi dan perjanjian ini belum langsung berlaku,” kata Haryo kepada Media Indonesia, Sabtu (21/2).
Haryo menambahkan, pihak AS juga harus menjalani proses domestik seiring perkembangan kebijakan terbaru. Pemerintah Indonesia, lanjutnya, akan memantau situasi dan tetap membuka ruang pembicaraan lanjutan dengan mengutamakan kepentingan nasional.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa dalam rancangan kesepakatan tersebut, kedua negara sepakat memberi tarif 0% untuk sejumlah produk.
Dari sisi Indonesia, fasilitas 0% antara lain disebut mencakup minyak sawit, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta komponen pesawat terbang. Untuk tekstil dan produk tekstil (TPT), tarif 0% direncanakan diberikan pada volume impor tertentu yang akan ditetapkan kemudian melalui skema kuota volume atau tariff rate quota (TRQ), disesuaikan dengan penggunaan kapas dan input serat buatan asal AS.
“Dan khusus untuk tekstil dan produk tekstil Amerika juga akan memberikan tarif 0% dengan mekanisme tariff rate quota atau TRQ,” ujar Airlangga dalam konferensi pers pengumuman Kesepakatan Dagang Indonesia dengan AS di Washington, Jumat (20/2).
Airlangga menilai pembebasan tarif untuk produk TPT berpotensi membawa dampak besar bagi industri dalam negeri. “Kalau kita hitung dengan keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia,” klaimnya, merujuk pada sekitar 4 juta pekerja di sektor tersebut.
Sebagai timbal balik, Indonesia disebut berkomitmen memberi fasilitas tarif 0% bagi sejumlah produk AS, terutama komoditas yang selama ini diimpor seperti produk pertanian, gandum (wheat), dan kedelai (soybean). Airlangga menegaskan kebijakan itu tidak akan menambah beban biaya bagi masyarakat.
“Jadi, masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat,” tuturnya. (Z-10)
Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total nilai impor Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai US$241,86 miliar, atau meningkat 2,83% dibandingkan tahun sebelumnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 kembali mencatatkan surplus signifikan.
Fastrex hadir sebagai solusi atas sulitnya mobilisasi hasil panen di medan yang sering kali memiliki kontur tanah tidak rata.
Pemenuhan kebutuhan alutsista TNI dan Polri harus mengutamakan produksi dalam negeri, serta diperkuat oleh berbagai kebijakan turunan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved