Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Makna Manuver Trump dari Tangkap Maduro sampai Incar Greenland

Wisnu Arto Subari
22/1/2026 18:13
Makna Manuver Trump dari Tangkap Maduro sampai Incar Greenland
Donald Trump.(Al Jazeera)

MEMASUKI awal 2026, dunia dikejutkan oleh tindakan unilateral Amerika Serikat yang sangat drastis di kawasan Karibia. Presiden AS Donald Trump tidak hanya membidik Nicolas Maduro atas tuduhan kriminal, tetapi secara strategis menargetkan kontrol penuh atas cadangan minyak mentah terbesar di dunia milik Venezuela.

Pada Sabtu, 3 Januari 2026, AS meluncurkan Operasi Absolute Resolve. Operasi militer yang melibatkan 150 pesawat tempur ini berhasil menangkap Maduro di Caracas. Pengamat geopolitik dan analis madya Humas Biro Infohan Kemenhan, Kolonel Dedy Yulianto, menilai ini gaya kepemimpinan 'presiden koboi' yang bertujuan mengamankan kedaulatan energi AS.

"Penangkapan Maduro adalah pertunjukan di ring kelas berat dunia. Trump ingin memastikan bahwa aliran minyak Venezuela kembali ke orbit kepentingan AS dan tidak lagi menjadi alat politik bagi Tiongkok atau Rusia," ujar Dedy dalam keterangan tertulis, Kamis (22/1). Namun, penangkapan ini menyisakan risiko vakum kekuasaan yang berpotensi memicu kekerasan internal dan gelombang migrasi baru yang lebih besar.

Perselisihan itu segera merambat ke jalur pelayaran vital. Pada 7 Januari 2026, militer AS menyita kapal tanker Bella-1 berbendera Rusia di dekat Islandia. Tindakan ini merupakan bagian dari strategi blokade total untuk melumpuhkan ekonomi lawan.

Dampak ekonominya sangat masif. Dedy mencatat bahwa Samudera Atlantik kini berubah menjadi zona pengawasan militer. 

"Penyitaan ini bukan sekadar masalah diplomasi, tetapi serangan langsung terhadap urat nadi ekonomi Rusia. Akibatnya, biaya asuransi pengiriman laut melonjak, harga minyak dunia bergejolak, dan stabilitas ekonomi Eropa terancam akibat gangguan logistik di Atlantik Utara," jelasnya.

Di sisi lain Atlantik, Trump mempercepat rencana pengambilalihan Greenland. Selain posisi strategis untuk pertahanan rudal, Greenland menyimpan potensi mineral tanah jarang (rare earth) yang sangat krusial bagi teknologi masa depan.

Menurut Dedy, Greenland adalah pintu depan militer dan ekonomi yang coba dikuasai AS untuk menutup ruang gerak Tiongkok di Arktik. "Dengan dukungan kemerdekaan dari 84% rakyat Greenland, AS memanfaatkan celah kedaulatan Denmark. Ini upaya penguasaan wilayah paling signifikan di abad ini, meskipun harus mengabaikan komitmen Pasal 5 NATO," tambahnya.

Tindakan single fighter Trump itu memaksa dunia untuk meninjau kembali aliansi mereka. Penarikan AS dari 66 organisasi internasional menandai mundurnya Washington dari kerja sama global. Hal ini justru berpotensi mempererat poros Rusia-Tiongkok dan memaksa negara-negara Eropa untuk mencari otonomi pertahanan mereka sendiri.

Dedy menegaskan bahwa strategi Halaman Depan dan Belakang AS dengan menempatkan Greenland sebagai pintu depan militer dan Amerika Latin sebagai benteng pertahanan menciptakan keretakan transatlantik yang permanen.

Dunia kini berada di ambang tatanan baru yang penuh risiko. Manuver Trump di awal 2026 bukan sekadar kebijakan domestik, melainkan dekonstruksi total terhadap hukum internasional. Jika kekuatan otot menjadi satu-satunya mata uang dalam diplomasi, stabilitas ekonomi global yang kita kenal selama ini mungkin akan segera menjadi sejarah. Bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dan penguatan diplomasi yang lebih lincah di tengah api persaingan kekuatan besar. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya