Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

3 Senjata Baru AS di Operasi Epic Fury: Rudal PrSM hingga Stealth Tomahawk

Media Indonesia
03/3/2026 22:05
3 Senjata Baru AS di Operasi Epic Fury: Rudal PrSM hingga Stealth Tomahawk
Warga Iran.(Al Jazeera)

MEMASUKI hari ketiga Operasi Epic Fury, kampanye militer Amerika Serikat terhadap Iran memberikan gambaran jelas mengenai peta kekuatan teknologi terbaru Pentagon. Setelah lebih dari 60 jam pertempuran intensif, rekaman medan laga mengonfirmasi penggunaan setidaknya tiga sistem senjata baru yang belum pernah digunakan dalam skala tempur sebesar ini.

Berikut analisis mendalam mengenai tiga senjata game changer yang menjadi ujung tombak AS dalam operasi tersebut.

1. Debut Tempur Rudal Jarak Jauh PrSM (Precision Strike Missile)

Rekaman dari Komando Pusat AS (CENTCOM) menunjukkan sistem M142 HIMARS meluncurkan proyektil yang secara visual berbeda dari MGM-140 ATACMS yang legendaris. Senjata ini dipastikan sebagai PrSM (Precision Strike Missile).

  • Karakteristik: PrSM merupakan hasil proyek gabungan AS-Australia yang dirancang untuk menggantikan ATACMS. Memiliki bentuk yang lebih ramping, memungkinkan satu pod HIMARS membawa dua rudal (berbanding satu pada ATACMS).
  • Kemampuan: Dengan jangkauan resmi sekitar 250 mil (400 km) dan hulu ledak 200 pon, rudal ini memberikan presisi tinggi dengan kecepatan supersonik.
  • Analisis Penggunaan: Mengingat jangkauannya, militer AS kemungkinan besar menempatkan unit HIMARS di lokasi strategis untuk menghantam instalasi militer Iran di wilayah barat daya.
Info Menarik: PrSM mulai masuk layanan pada tahun 2023 dan Operasi Epic Fury menjadi ajang pembuktian efektivitasnya dalam menembus pertahanan udara yang rapat.

2. Drone LUCAS: Senjata Makan Tuan bagi Iran

Salah satu kejutan terbesar dalam Operasi Epic Fury adalah munculnya LUCAS, sistem pesawat tanpa awak (UAS) one-way attack atau drone kamikaze. Ironisnya, LUCAS merupakan replika dari drone seri Shahed milik Iran yang sering digunakan Rusia di Ukraina.

  • Filosofi Desain: Dikelola oleh Task Force Scorpion Strike, drone ini dirancang sebagai opsi kinetik berbiaya rendah untuk memberikan balasan menggunakan metode yang dipopulerkan lawan.
  • Keunggulan Biaya: Satu unit LUCAS diperkirakan hanya berbiaya US$35.000 (sekitar Rp550 juta). Ini jauh lebih efisien dibandingkan meluncurkan rudal jelajah seharga jutaan dolar untuk target yang kurang bernilai strategis tinggi.
  • Fungsi Strategis: Meski tidak secepat atau sesiluman rudal jelajah, LUCAS memungkinkan AS melakukan serangan jenuh (swarming) untuk menguras sistem pertahanan udara lawan sebelum rudal utama masuk.

3. Misteri Stealth Tomahawk Berwarna Hitam

Angkatan Laut AS (US Navy) disinyalir telah mengerahkan varian terbaru dari rudal jelajah legendaris Tomahawk. Dalam cuplikan video peluncuran dari kapal perang, terlihat satu rudal berwarna hitam pekat di antara deretan rudal abu-abu standar.

  • Teknologi Siluman: Warna hitam tersebut diyakini sebagai lapisan low-observable (LO) yang dirancang untuk menyerap gelombang radar dan meningkatkan daya tahan rudal terhadap intersepsi.
  • Taktik Penetrasi: Rekaman menunjukkan rudal ini terbang sangat rendah (sekitar 100 kaki dari permukaan tanah) dengan kecepatan lebih dari 500 mph untuk menyelinap di bawah payung radar pertahanan udara Iran.
  • Daya Rusak: Varian RGM-109 Tomahawk mampu membawa hulu ledak seberat 1.000 pon, cukup untuk menghancurkan bunker atau pusat logistik utama.
Senjata Keunggulan Utama Estimasi Peran
PrSM Presisi Tinggi & Jarak Jauh Serangan Artileri Darat
LUCAS Biaya Rendah (Low-Cost) Serangan Jenuh (Swarming)
Stealth Tomahawk Anti-Radar (Siluman) Penghancuran Target Strategis

Kesimpulan Operasional

Penggunaan PrSM, LUCAS, dan Stealth Tomahawk menandai era baru peperangan AS yang mengombinasikan presisi tinggi, efisiensi biaya, dan kemampuan siluman. Operasi Epic Fury bukan sekadar kampanye militer, melainkan panggung pembuktian bagi doktrin tempur masa depan Pentagon di tahun 2026 dalam menghadapi lawan dengan sistem pertahanan udara yang canggih. (National Interest/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya