Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
SITUASI politik di Venezuela kembali memanas setelah tokoh oposisi terkemuka, Juan Pablo Guanipa, ditangkap kembali oleh sekelompok pria bersenjata pada Minggu malam waktu setempat. Penangkapan ini terjadi hanya berselang beberapa jam setelah ia dibebaskan dari statusnya sebagai tahanan politik.
Keluarga dan sekutu politik Guanipa menyebut aksi ini sebagai "penculikan" dan menuduh rezim Karakas bertanggung jawab sepenuhnya. Kantor Jaksa Agung kemudian mengonfirmasi permintaan agar Guanipa dikenakan tahanan rumah atas tuduhan pelanggaran syarat pembebasan, meski tanpa rincian lebih lanjut.
Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, menyatakan Guanipa ditangkap kembali karena dituduh "memobilisasi massa ke jalanan."
“Mereka dibebaskan, mereka berkumpul kembali dengan keluarga, sampai kebodohan dari beberapa politisi membuat mereka percaya mereka bisa melakukan apa pun yang mereka mau dan membuat keributan di negara ini,” ujar Cabello menanggapi penangkapan tersebut.
Pemimpin oposisi dan peraih Nobel, María Corina Machado, melaporkan Guanipa, 61, disergap di lingkungan Los Chorros, Karakas. Menurutnya, pelaku adalah pria bersenjata berpakaian sipil yang datang menggunakan empat kendaraan.
Putra Guanipa, Ramón, menceritakan melalui sebuah video, ayahnya "dijebak" saat menghadiri acara malam hari oleh sekitar 10 agen tak dikenal.
“Mereka menodongkan senjata, mereka bersenjata berat, dan mereka membawa ayah saya,” ungkap Ramón sembari menuntut bukti bahwa ayahnya masih hidup.
Partai Primero Justicia yang dipimpin Guanipa mengecam keras tindakan ini dan meminta pertanggungjawaban dari para pejabat tinggi, termasuk Presiden interim Delcy Rodríguez dan Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello.
Pembebasan Guanipa awalnya merupakan bagian dari upaya Karakas memenuhi tuntutan Amerika Serikat setelah penangkapan Nicolás Maduro oleh pasukan khusus AS bulan lalu. Sebagai syarat dukungan, pemerintahan transisi di bawah Delcy Rodríguez diminta membuka akses minyak dan membebaskan tahanan politik.
Namun, kasus Guanipa menimbulkan keraguan atas janji amnesti massal yang dijanjikan pemerintah sebelum 13 Februari mendatang. Organisasi hak asasi manusia Foro Penal mencatat bahwa meskipun sekitar 30 orang dibebaskan pada Minggu lalu, ratusan tahanan politik lainnya masih mendekam di penjara.
Guanipa sebelumnya ditangkap pada Mei 2025 atas tuduhan rencana teror terhadap pemilu, tuduhan yang selalu ia bantah dengan tegas. Hingga kini, ketidakpastian nasib Guanipa menjadi cermin rapuhnya proses rekonsiliasi nasional yang tengah diupayakan di Venezuela. (CNN/Z-2)
Ribuan pendukung Nicolas Maduro berdemo di Caracas menuntut pembebasannya pascaoperasi militer AS. Presiden Interim Delcy Rodriguez kini hadapi tekanan politik.
Hubungan AS-Kolombia memasuki babak baru. Presiden Gustavo Petro dan Donald Trump bertemu di Gedung Putih untuk mengakhiri setahun konflik diplomatik dan sanksi.
Narasi pemerintah AS terkait penembakan dua imigran Venezuela di Oregon runtuh di pengadilan. Tak ada bukti keterlibatan geng Tren de Aragua seperti yang diklaim DHS.
BADAN Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat (AS) secara diam-diam disebut tengah berupaya membangun kehadiran permanen AS di Venezuela guna memengaruhi masa depan negara tersebut.
Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez menolak tekanan AS terkait produksi minyak. Di sisi lain, ratusan tahanan politik mulai dibebaskan sebagai isyarat perdamaian.
Tokoh oposisi Venezuela María Corina Machado dilaporkan telah meninggalkan Oslo. Ia tengah fokus menjalani pemulihan akibat cedera tulang belakang saat pelariannya.
Pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado, akhirnya muncul di Oslo untuk menyapa publik setelah berbulan-bulan bersembunyi, usai memenangkan Nobel Perdamaian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved