Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Bantuan untuk Gaza Menumpuk di Yordania dan Mesir akibat Ditolak Israel

Wisnu Arto Subari
17/11/2025 22:26
Bantuan untuk Gaza Menumpuk di Yordania dan Mesir akibat Ditolak Israel
Warga Gaza.(Al Jazeera)

SKY News melihat beberapa gudang di ibu kota Yordania, Amman, penuh dengan bantuan penting yang dialokasikan untuk Jalur Gaza, Palestina.

Ada tiga lokasi serupa lain di negara itu yang dikelola oleh otoritas Yordania dan menyimpan bantuan yang ditujukan untuk Gaza.

Ada juga sejumlah besar bantuan yang disimpan secara terpisah oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di Yordania.

Baik otoritas Yordania maupun PBB mengatakan sebagian besar bantuan yang dikumpulkan tertahan di Yordania sejak Maret. Hanya sedikit bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza karena pembatasan Israel terhadap masuknya bantuan ke Jalur Gaza.

Bantuan yang disimpan setara dengan bantuan yang diangkut ribuan truk. Ini di Yordania saja.

PBB mengatakan ada lebih banyak bantuan yang ditahan di Mesir juga. Secara total, itu semua cukup untuk menyediakan makanan bagi seluruh penduduk Gaza selama sekitar tiga bulan. Demikian menurut wakil komisaris jenderal UNRWA, Natalie Boucly, yang diwawancarai oleh The Guardian.

Koresponden khusus Sky, Alex Crawford, yang berada di Amman, mengatakan, "Bantuan di Yordania saja mencakup pasokan penting seperti tenda dan terpal, selimut, kasur, obat-obatan, seperti parasetamol dan susu formula bayi. Semua disimpan di sini dan ditahan. Menurut PBB di Yordania dan otoritas Yordania, semua ditolak masuk oleh Israel."

Apa kata UNICEF?

Badan bantuan PBB untuk anak-anak telah meminta Israel untuk mengizinkan semua pasokannya masuk ke Gaza.

Menulis di X, UNICEF mengatakan telah mendistribusikan lebih dari 5.000 tenda, 220.000 terpal, dan 29.000 perlengkapan pakaian musim dingin.

Badan pertahanan Israel yang bertanggung jawab atas bantuan kemanusiaan di Gaza, COGAT, mengatakan pihaknya mengizinkan masuknya bahan-bahan musim dingin termasuk selimut dan terpal yang merupakan lembaran tahan air yang terbuat dari kanvas atau plastik yang digunakan untuk melindungi diri dari cuaca.

Namun, organisasi-organisasi bantuan memperingatkan bahwa upaya tersebut sama sekali tidak memadai dan jauh lebih sedikit jumlahnya dibandingkan mereka yang membutuhkan. Diperkirakan 1,4 juta orang diklasifikasikan sebagai rentan oleh lembaga-lembaga bantuan.

Sebaliknya, di X, COGAT mengatakan memfasilitasi hampir 140.000 terpal langsung kepada penduduk Jalur Gaza dan telah menghabiskan beberapa bulan terakhir berkoordinasi dengan komunitas internasional.

Mereka melanjutkan, "Kami menyerukan kepada organisasi-organisasi internasional untuk mengoordinasikan lebih banyak tenda dan terpal serta respons kemanusiaan musim dingin lain."

Namun, PBB bersikeras bahwa Israel melanggar hukum humaniter internasional dan memiliki tanggung jawab sebagai pasukan pendudukan untuk memastikan distribusi dan koordinasi bantuan yang menyelamatkan jiwa secara aman.

Apa kata militer Israel?

Seorang pejabat militer Israel mengatakan kepada Sky News bahwa bantuan dihentikan dari Yordania setelah perlintasan perbatasan utama dengan Israel ditutup menyusul serangan di sana pada September. Serangan itu melibatkan seorang pengemudi truk Yordania yang menewaskan dua tentara Israel.

Meskipun pejabat Yordania dan tokoh PBB di negara itu mengatakan hampir tidak ada bantuan--jumlah yang sangat kecil--diizinkan masuk ke Gaza dari Yordania beberapa bulan sebelumnya, sejak Maret.

Pejabat militer Israel mengatakan penyeberangan tidak akan dibuka sampai penyelidikan atas insiden tersebut selesai. 

Mereka menunjukkan bahwa ada rute lain bagi bantuan untuk memasuki Gaza di sepanjang perbatasan Mesir dan ratusan truk memasuki jalur tersebut setiap hari berdasarkan perjanjian gencatan senjata Israel-Hamas.

Namun, PBB dan berbagai organisasi bantuan mengatakan ini hanyalah sebagian kecil dari yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan besar di Gaza. Ada ribuan truk bantuan yang juga menumpuk dan menunggu akan diizinkan datang dari Mesir juga.

Sementara itu, di kamp tenda Muwasi yang luas di Gaza, hujan deras pertama di musim dingin membuat air mengalir deras melewati tenda-tenda rapuh, yang kini menjadi rumah bagi puluhan ribu keluarga pengungsi.

Warga berusaha menggali parit agar air tidak membanjiri tenda mereka. Hujan yang turun sejak Jumat lalu, membasahi terpal dan tempat penampungan sementara yang robek.

Genangan air setinggi beberapa inci

Assil Naggar mengatakan ia menghabiskan sepanjang hari (Jumat) untuk mendorong air keluar dari tendanya. Ia menambahkan bahwa tenda dan barang-barang tetangganya hancur.

"Genangan air setinggi beberapa inci. Tidak ada drainase yang memadai," lanjutnya.

PBB mengatakan Muwasi menampung hingga 425.000 warga Palestina yang mengungsi awal tahun ini, sebagian besar di tenda-tenda darurat, setelah perang Israel dengan Hamas mengungsi sebagian besar penduduk Gaza yang berjumlah lebih dari dua juta orang.

Sebagian besar infrastruktur Gaza diperkirakan telah hancur atau rusak parah akibat pengeboman Israel.

Apa perkembangan terbaru dari gencatan senjata ini?

Tahap pertama perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang mulai berlaku pada 10 Oktober, kini hampir berakhir dengan pasukan Israel mundur ke 'garis kuning' dan Hamas membebaskan semua warga Israel yang masih hidup yang ditawan di Gaza.

Hamas belum mengembalikan jenazah tiga sandera lain, yang dituntut Israel sebelum melanjutkan ke tahap kedua, yang mencakup pasukan stabilisasi internasional untuk mengawasi keamanan di Gaza.

Pada Senin, Dewan Keamanan PBB diperkirakan akan memberikan suara atas usulan AS untuk mandat PBB bagi pasukan semacam itu meskipun ada penentangan dari Rusia, Tiongkok, dan beberapa negara Arab.

Pengeboman Israel di Gaza berlangsung selama lebih dari dua tahun, menewaskan hampir 70.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan wilayah Palestina, yang tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan.

Kampanye militer Israel ini merupakan respons atas serangan di Israel selatan oleh militan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 orang. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya