Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kamboja Tutup Perbatasan, Thailand Bantah Klaim Gencatan Senjata Trump

Khoerun Nadif Rahmat
14/12/2025 13:24
Kamboja Tutup Perbatasan, Thailand Bantah Klaim Gencatan Senjata Trump
Peta wilayah Kamboja dan Thailand.(Dok. Google Earth)

KAMBOJA menutup seluruh perlintasan perbatasan dengan Thailand setelah Bangkok membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait tercapainya gencatan senjata untuk mengakhiri bentrokan mematikan yang telah berlangsung beberapa hari terakhir.

Kementerian Dalam Negeri Kamboja pada Sabtu (13/12) menyatakan Phnom Penh segera menutup perlintasan negaranya dengan Thailand. Hal tersebut dilakukan menyusul jatuhnya korban terbaru dalam konflik tersebut.

"Menangguhkan seluruh aktivitas keluar masuk di semua perlintasan perbatasan Kamboja–Thailand," tulis Kementerian Dalam Negeri Kamboja, dikutip dari TRT World.

Kekerasan antara dua negara Asia Tenggara itu dipicu sengketa lama terkait penetapan batas wilayah era kolonial sepanjang sekitar 800 kilometer.

Konflik yang kembali memanas itu telah memaksa sekitar setengah juta warga di kedua sisi perbatasan mengungsi.

Sedikitnya 25 orang tewas sepanjang pekan ini. Di antaranya empat prajurit Thailand yang, menurut Kementerian Pertahanan Thailand, tewas pada Sabtu di wilayah perbatasan.

Kedua negara saling menyalahkan atas pecahnya kembali pertempuran, sebelum Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata telah disepakati.

Namun Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menegaskan klaim tersebut tidak sesuai dengan pembicaraannya dengan Trump. Anutin mengatakan Trump tidak menyebutkan apakah kita harus melakukan gencatan senjata dalam percakapan telepon pada Jumat. Ia menambahkan, kedua pemimpin tidak membahas isu tersebut, seperti disampaikannya kepada wartawan pada Sabtu.

Sebelumnya, Trump memuji percakapannya dengan Anutin dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet sebagai pembicaraan yang sangat baik.

Melalui platform Truth Social, Trump menulis bahwa kedua negara telah sepakat untuk menghentikan seluruh tembakan secara efektif mulai malam ini, dan kembali pada Perjanjian Perdamaian awal yang disepakati pada Juli.

Amerika Serikat, China, dan Malaysia selaku ketua ASEAN sebelumnya memediasi gencatan senjata pada Juli setelah bentrokan awal selama lima hari.

Pada Oktober, Trump juga mendukung deklarasi lanjutan antara Thailand dan Kamboja yang memperpanjang gencatan senjata, sembari menyoroti peluang kesepakatan dagang baru. Namun, Thailand menangguhkan kesepakatan tersebut sebulan kemudian setelah sejumlah prajuritnya terluka akibat ranjau darat di kawasan perbatasan.

Di Thailand, seorang pengungsi, Kanyapat Saopria, mengaku tidak lagi percaya pada upaya damai. “Saya tidak percaya Kamboja lagi. Upaya perdamaian sebelumnya tidak berhasil. Saya tidak tahu apakah yang ini juga akan berhasil,” kata perempuan berusia 39 tahun itu.

Sementara di sisi Kamboja, seorang pengungsi bernama Vy Rina menyatakan kesedihannya karena pertempuran belum berhenti meski ada intervensi dari Trump. “Saya tidak senang dengan tindakan brutal,” ujarnya. (H-3)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya