Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Konflik Thailand-Kamboja: Gencatan Senjata Gagal Tercapai

Irvan Sihombing
23/12/2025 10:49
Konflik Thailand-Kamboja: Gencatan Senjata Gagal Tercapai
Kendaraan militer terlihat di dekat perbatasan Thailand-Kamboja di provinsi Surin, Thailand, 3 November 2025.(Anadolu/Valeria Mongelli)

THAILAND dan Kamboja gagal mencapai kesepakatan gencatan senjata dalam pertemuan menteri luar negeri ASEAN di Malaysia pada Senin (22/12). Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menyatakan bahwa perundingan akan dilanjutkan pada 24 Desember 2025.

Ia mengatakan pembahasan dilakukan dalam satu forum bersama seluruh delegasi ASEAN, termasuk Kamboja. "Kami mengusulkan agar para pemimpin militer kedua belah pihak bertemu dan bernegosiasi untuk gencatan senjata," kata Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow, Senin (22/12).

Menurut Phuangketkeow, Kamboja menyetujui usulan tersebut. Pertemuan lanjutan dijadwalkan berlangsung pada 24 Desember 2025 dalam format Komite Umum Masalah Perbatasan yang diketuai bersama oleh menteri pertahanan Thailand dan Kamboja.

Ia menambahkan kehadiran delegasi Thailand dan Kamboja dalam pertemuan ASEAN tidak bertujuan untuk saling menyalahkan, melainkan mendorong proses deeskalasi konflik di wilayah perbatasan.

Phuangketkeow juga menyinggung deklarasi bersama Thailand dan Kamboja yang ditandatangani di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Kuala Lumpur pada 26 Oktober silam. Menurutnya, deklarasi tersebut menjadi jalur langsung menuju gencatan senjata dan perdamaian.

Namun demikian, ia menekankan Kamboja harus mematuhi seluruh ketentuan dalam deklarasi tersebut. Beberapa poin utama yang disorot meliputi penarikan senjata berat dari wilayah perbatasan, pembatasan jumlah pasukan, dimulainya pembersihan ranjau, serta penanganan kejahatan lintas batas.

Phuangketkeow menyoroti pentingnya pembersihan ranjau bagi Thailand, seraya mengungkap adanya sejumlah insiden yang menyebabkan prajurit Thailand kehilangan anggota tubuh akibat ranjau, baik sebelum maupun setelah deklarasi ditandatangani.

Kembali memanas

Sengketa perbatasan Thailand dan Kamboja yang telah berlangsung puluhan tahun kembali memanas menjadi konflik bersenjata pada 24 Juli, ketika kedua negara saling melancarkan tembakan artileri dan serangan udara.

Pada 4 Agustus, kedua pihak sempat mengumumkan gencatan senjata yang kemudian diperkuat dengan perjanjian pelaksanaan beberapa hari setelahnya. Namun, bentrokan kembali terjadi sejak awal Desember.

Akibat serangan Kamboja di wilayah perbatasan Thailand, sedikitnya 22 orang dilaporkan tewas, 140 orang terluka, dan sekitar 140.000 warga terpaksa dievakuasi dari daerah rawan konflik. (Sputnik/RIA Novosti/Ant/I-1)

Ringkasan:

- Kedua belah pihak menyetujui format pertemuan berikutnya:

  •     Format: Komite Umum Masalah Perbatasan.
  •     Ketua: Bersama Menteri Pertahanan Thailand dan Kamboja.
  •     Tujuan: Negosiasi pemimpin militer untuk deeskalasi konflik.

- Syarat dan Ketentuan Deklarasi Perdamaian:

Thailand menekankan bahwa Kamboja harus mematuhi Deklarasi Bersama (ditandatangani 26 Oktober di Kuala Lumpur) yang mencakup:

  •     Penarikan senjata berat dari perbatasan.
  •     Pembatasan jumlah pasukan.
  •     Pembersihan ranjau (prioritas utama akibat jatuhnya korban prajurit Thailand).
  •     Penanganan kejahatan lintas batas.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik