Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Thailand Nilai Perdamaian dengan Kamboja Versi Trump Dibuat Tergesa-gesa

Ferdian Ananda Majni
23/12/2025 11:30
Thailand Nilai Perdamaian dengan Kamboja Versi Trump Dibuat Tergesa-gesa
Warga Kamboja yang dievakuasi dari konflik perbataKamboja-Thailand berkumpul di sebuah tempat pengungsian, Provinsi Oddar Meanchey, Kamboja, Sabtu (26/7/2025)(Xinhua/Sao Khuth)

MENTERI Luar Negeri Thailand Sihasak angkat bicara terkait dengan deklarasi bersama Thailand dan Kamboja yang ditandatangani di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Kuala Lumpur pada 26 Oktober silam. 

Ia menilai deklarasi yang disepakati pada Oktober itu dibuat secara tergesa-gesa. "Amerika Serikat ingin deklarasi itu ditandatangani tepat waktu sebelum kunjungan Presiden Donald Trump," katanya seusai Pertemuan Para Menteri Luar Negeri ASEAN Khusus di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (23/12). 

"Terkadang kita benar-benar perlu duduk dan membahas berbagai hal agar hal-hal yang kita sepakati benar-benar berlaku, benar-benar dihormati," tambahnya.

Pada pekan lalu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan  bahwa Washington berharap gencatan senjata baru dapat tercapai pada awal pekan ini.

Trump, yang pemerintahannya bersama Malaysia dan Tiongkok turut memediasi gencatan senjata sebelumnya, mengeklaim bahwa Thailand dan Kamboja telah sepakat menghentikan pertempuran.

Namun klaim tersebut dibantah oleh Bangkok. Bentrokan justru terus berlanjut selama dua pekan terakhir dan meluas ke hampir seluruh provinsi perbatasan di kedua sisi wilayah. 

Konflik ini berakar dari sengketa wilayah terkait penetapan garis perbatasan sepanjang sekitar 800 kilometer, yang merupakan warisan era kolonial, serta klaim atas sejumlah reruntuhan candi kuno yang berada di kawasan perbatasan.

Kedua negara saling menuding sebagai pemicu bentrokan terbaru, masing-masing mengeklaim bertindak untuk membela diri dan menuduh pihak lain melakukan serangan terhadap warga sipil.

Bentrok bersenjata yang kembali pecah bulan ini, sekaligus menggugurkan gencatan senjata sebelumnya, telah menewaskan sedikitnya 23 orang di Thailand dan 20 orang di Kamboja. 

Selain itu, lebih dari 900.000 warga terpaksa mengungsi di kedua sisi perbatasan, demikian menurut keterangan pejabat setempat. (AFP/Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik