Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
YAYASAN Kemanusiaan Gaza (GHF), yang dibentuk pada Februari lalu dan diketuai oleh seorang "operator krisis berpengalaman", berencana mendirikan pusat-pusat bantuan di Jalur Gaza tanpa keterlibatan langsung Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Proyek ini akan mengandalkan kontraktor asal Amerika Serikat (AS), termasuk perusahaan yang dipimpin oleh mantan kepala unit paramiliter CIA, untuk mengamankan distribusi bantuan.
Menurut Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, pasukan Israel tidak akan ditempatkan secara langsung di pusat-pusat bantuan, namun tetap hadir dalam pengawasan jarak jauh.
Penduduk Gaza, lanjutnya, akan diarahkan menuju selatan untuk mengakses bantuan di wilayah baru yang dijaga militer Israel.
Pada Minggu lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan kepada Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan bahwa warga Gaza yang diusir tidak akan kembali.
"Mereka tidak akan berada di sana. Kami akan mengendalikan tempat itu," katanya seperti dilansir France 24, Jumat (16/5).
Yayasan ini menyebutkan bahwa pengelolaan bantuan akan dilakukan dengan model independen yang diaudit secara ketat. Namun, banyak pejabat dari PBB, pemerintah AS, dan lembaga kemanusiaan menyatakan kekhawatiran atas kapasitas GHF dalam menjalankan misi kemanusiaan berskala besar.
Wakil juru bicara PBB, Farhan Haq menegaskan bahwa PBB tidak dapat bergabung dalam upaya apa pun yang tidak memenuhi prinsip-prinsip mereka untuk penyaluran bantuan kemanusiaan, termasuk kemanusiaan, netralitas, independensi, dan netralitas.
James Elder dari UNICEF menilai rencana itu sebagai bentuk tekanan dan ancaman terhadap warga Gaza.
"Rencana tersebut tampaknya dirancang untuk memperkuat kendali atas barang-barang penopang hidup sebagai taktik tekanan dan akan mendorong pengungsian lebih lanjut,” katanya.
“Sangat berbahaya meminta warga sipil untuk pergi ke zona militer untuk mengumpulkan ransum … bantuan kemanusiaan tidak boleh digunakan sebagai alat tawar-menawar," tambah Elder.
Meski GHF menjanjikan kepatuhan terhadap prinsip kemanusiaan, para pengkritik menyoroti absennya komitmen pada hukum humaniter internasional dalam proposal tersebut.
Laporan dari OCHA menyebut rencana ini tidak layak, menyoroti bahwa distribusi bantuan hanya direncanakan satu hingga dua kali sebulan.
Rencana GHF menyebutkan empat titik distribusi yang ditargetkan menjangkau 1,2 juta warga Palestina, atau sekitar 60% populasi Gaza, dengan estimasi biaya US$1,30 per porsi makanan, termasuk logistik dan keamanan.
Kontroversi makin memanas karena keterlibatan beberapa mantan pejabat tinggi PBB dalam yayasan ini.
Bill A. Miller, eks anggota Departemen Keamanan PBB, tercatat dalam dewan penasihat, dan David Beasley, mantan Direktur Eksekutif WFP, disebutkan meski belum dikonfirmasi.
“Ini adalah pengkhianatan di tingkat tertinggi,” ujar seorang sumber dari PBB yang rutin bertugas di Gaza kepada France 24.
“Mereka datang untuk mengambil alih, mempersenjatai bantuan," lanjutnya.
PBB sendiri mengaku tak memiliki kuasa untuk menghentikan rencana tersebut.
“PBB bukanlah tentara. Kami tidak dapat menghentikan mereka melakukannya. Pemerintah Israel memiliki kendali atas wilayah tersebut,” ujar salah satu pejabat senior.
Seorang sumber dari pemerintah AS menyebut bahwa proyek ini adalah ide Israel dan mengaku skeptis terhadap efektivitasnya.
Ia menyebutnya versi yang kurang aman dari dermaga terapung era Biden dan menambahkan bahwa hal itu lebih mematikan.
Utusan Israel untuk PBB, Danny Danon, mengatakan pada 7 Mei bahwa ide dari model tersebut adalah Hamas tidak akan dapat memanfaatkan bantuan kemanusiaan, meskipun hingga kini Israel belum memberikan bukti konkret bahwa Hamas mencuri bantuan.
Saat ini, forum koordinasi PBB, IASC, masih meninjau posisi mereka terkait inisiatif ini dan mempertimbangkan untuk mengajukan alternatif proposal. (I-3)
PEMERINTAH Arab Saudi menyatakan dukungannya atas keputusan Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang secara bulat mengadopsi resolusi terkait dampak serangan Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkap adanya pesan dari AS melalui perantara. Di sisi lain, PBB peringatkan Lebanon jangan jadi 'Gaza kedua'.
Israel mengatakan pihaknya tidak menargetkan tentara Libanon karena pertempuran mereka bukan dengan mereka, melainkan dengan Hizbullah.
Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk melaporkan dugaan penyiksaan dan penahanan sewenang-wenang di Venezuela masih berlanjut di bawah kepemimpinan Delcy Rodríguez.
Tim pencari fakta PBB melaporkan kondisi memprihatinkan warga sipil Iran yang terjepit di antara serangan udara AS-Israel dan represi pemerintah yang kian sistematis.
Iran menyatakan empat diplomat mereka tewas dalam serangan udara yang diluncurkan Israel ke sebuah hotel di Beirut, Libanon, pekan lalu.
MENTERI Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak akan maju ke meja perundingan dan memilih melanjutkan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel di tengah konflik
Penasihat kebijakan luar negeri Trump menyebut AS tidak berkepentingan memperpanjang konflik dengan Iran lebih dari tiga bulan.
WFH adalah salah satu ‘aksi cepat’ yang dapat menghemat konsumsi BBM untuk sementara waktu.
Panglima militer Uganda Muhoozi Kainerugaba ancam akan terjun ke perang Iran demi membela Israel jika terdesak. Hubungan kedua negara semakin erat pasca-insiden Entebbe.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu umumkan perluasan zona keamanan di Libanon Selatan hingga Sungai Litani. Langkah ini memicu kekhawatiran pendudukan jangka panjang.
ORGANISASI kemanusiaan Oxfam menilai Israel menerapkan pola operasi militer yang serupa dengan yang sebelumnya dilakukan di Gaza. Kini Israel menyerang wilayah selatan Libanon.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved