Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
KONFLIK antara penjajah Israel dengan pemilik sah tanah yang diduduki mereka, Palestina, telah merenggut banyak korban jiwa tanpa pandang usia, dari orang dewasa, anak-anak hingga bayi. Kekerasan yang tak berkesudahan ini telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Di tengah tragedi yang terus berlangsung, banyak pihak berharap kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjadi penengah yang adil dan membantu Palestina meraih kemerdekaan. Namun, hingga kini, langkah-langkah PBB sering kali tidak membawa hasil konkret dan menimbulkan pertanyaan mengapa PBB selalu gagal?
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah organisasi internasional yang bertugas menjaga perdamaian dan keamanan dunia, sekaligus memberikan bantuan kemanusiaan dalam situasi darurat seperti kelaparan, bencana alam, dan konflik bersenjata. Namun, dalam menjalankan tugas ini PBB sering kali mengalami kesulitan, terutama dalam kasus konflik Israel dan Palestina.
Menurut Kepala Perwakilan PBB untuk Indonesia, Julliand, mandat PBB sangat bergantung pada kesepakatan negara-negara anggotanya.
"PBB beranggotakan 193 negara. Apa yang kami lakukan sebagai perwakilan PBB, mandat, tindakan kami ditentukan oleh negara-negara anggota," jelasnya sebagaimana dilansir dari ANTARA.
Dewan Keamanan PBB, sebagai badan tertinggi yang bertanggung jawab menjaga perdamaian internasional, juga kerap gagal mencapai kesepakatan bersama. Hal ini disebabkan oleh hak veto lima anggota tetapnya, termasuk Amerika Serikat, yang sering memblokir resolusi terkait Israel.
Perlu diketahui bahwa keterlibatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menyelesaikan konflik Israel dan Palestina dimulai dengan dikeluarkannya Resolusi Majelis Umum PBB 181 pada tahun 1947.
Resolusi ini mengusulkan pembagian wilayah Palestina menjadi dua negara, satu untuk orang Yahudi dan satu untuk orang Arab, tetapi rencana ini gagal menghentikan konflik.
Sejak itu, PBB telah mengeluarkan berbagai resolusi, baik melalui Dewan Keamanan maupun Majelis Umum, untuk mengupayakan penyelesaian konflik yang berlarut-larut ini.
Beberapa resolusi penting dari Dewan Keamanan mencakup Resolusi 388 (1973), Resolusi 1402, dan Resolusi 2334, yang secara langsung menyoroti isu-isu seperti pendudukan wilayah, kekerasan, dan pemukiman ilegal Israel.
Majelis Umum juga turut mengeluarkan resolusi, seperti A/RES/ES-10/21, A/RES/77/208, dan A/RES/77/247, yang menyerukan penghormatan terhadap hak-hak Palestina serta solusi damai. Namun, resolusi-resolusi dari Majelis Umum ini bersifat imbauan dan tidak mengikat secara hukum, sehingga hanya memiliki kekuatan moral dan politik.
Dari berbagai upaya tersebut, terlihat bahwa PBB telah mencoba menjalankan perannya sebagai mediator. Namun, pengaruhnya terhadap Israel tetap terbatas. Konflik terus berlanjut tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas.
Salah satu faktor utama ketidak adaan titik terang ini adalah keterbatasan kekuatan hukum dari resolusi Majelis Umum PBB, yang tidak dapat memberikan sanksi langsung terhadap Israel.
Di sisi lain, Dewan Keamanan PBB sering kali gagal mengeluarkan resolusi yang mengutuk tindakan Israel karena hak veto yang dimiliki oleh lima anggota tetapnya, termasuk Amerika Serikat.
Bahkan ketika resolusi mendapat dukungan mayoritas, veto dari satu negara cukup untuk membatalkannya. Akibatnya, Dewan Keamanan tidak mampu memberikan tekanan hukum yang tegas terhadap Israel.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyampaikan kritik keras terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena dianggap gagal membantu mendirikan kembali negara Palestina.
Abbas menegaskan bahwa kegagalan ini sebagian besar disebabkan oleh tekanan dari Amerika Serikat.
"PBB tidak mampu menjalankan misinya untuk memberikan solusi atau mengadopsi resolusi yang menjamin hak rakyat Palestina untuk memiliki negara," ujar Abbas, seperti dilansir dari ANTARA.
Abbas juga menyoroti krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza. Ia mencatat bahwa sejak Oktober, lebih dari 40.000 orang tewas, sekitar 80.000 terluka, dan lebih dari 15.000 orang dinyatakan hilang.
Situasi ini diperparah dengan blokade Israel yang menghentikan pasokan listrik, air, makanan, dan kebutuhan lainnya. Meskipun bantuan kemanusiaan telah mulai masuk, jumlahnya masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga Gaza.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah mendesak adanya gencatan senjata kemanusiaan di Gaza. Bahkan dewan keamanan juga telah mengadakan beberapa pertemuan darurat untuk membahas serangan Israel. Meski begitu, upaya menyerukan jeda kemanusiaan di Gaza tetap gagal karena veto dari 'Negeri Paman Sam' itu.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu penyebab utama belum tercapainya penyelesaian konflik Israel dan Palestina adalah keterbatasan kekuatan hukum dari resolusi Majelis Umum PBB. Dirangkum dari IMEMC News selain faktor tersebut, berikut adalah penyebab lain kegagalan PBB dalam penyelesaian konflik ini sehingga menyulitkan kemerdekaan palestina.
1. Ketidakseimbangan Kekuatan Politik
PBB menghadapi kendala besar dalam mengatasi veto oleh negara-negara besar. Dalam kasus Palestina, Amerika sering kali menggunakan veto untuk melindungi kepentingan Israel, seperti saat menolak resolusi yang mengutuk pendudukan ilegal dan kekerasan terhadap warga Palestina. Hal ini menghambat kemampuan PBB untuk bertindak tegas.
2. Pendekatan Fragmentaris
Alih-alih menangani akar masalah, banyak upaya PBB terfokus pada krisis individual, seperti mengelola pengungsi melalui UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East) atau menyediakan bantuan kemanusiaan di Gaza. Pendekatan ini penting, tetapi tidak menyelesaikan inti persoalan, yaitu pendudukan dan hak kemerdekaan Palestina.
3. Kurangnya Penegakan Hukum Internasional
Meski PBB menyatakan bahwa pemukiman Israel di wilayah Palestina adalah ilegal, tidak ada sanksi serius yang dikenakan. Pelanggaran seperti pembangunan pemukiman baru dan blokade Gaza terus berlangsung tanpa konsekuensi nyata bagi Israel.
Pada dasarnya, meskipun PBB telah berupaya menyelesaikan konflik Israel dan Palestina melalui berbagai resolusi, ketergantungan pada hak veto dan sifat tidak mengikat dari hukum resolusi Majelis Umum, membuat organisasi ini tidak memiliki daya yang cukup untuk memaksa Israel menghormati hak-hak Palestina. (ANTARA/IMMEC NEWS/Media Indonesia/UN Press/I-2)
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir, Kuncoro Giri Waseso, melakukan pertemuan di Kairo, Mesir pada Ahad (8/2).
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak merespons perihal rencana pengiriman pasukan perdamaian menyusul bergabungnya Indonesia dalam BoP.
Keikutsertaan Indonesia di Board of Peace berisiko dimanfaatkan sebagai legitimasi politik bagi agenda yang tidak sejalan dengan nilai yang diperjuangkan terkait kemerdekaan Palestina
PADA 3 Februari, Presiden RI Prabowo Subianto mengadakan pertemuan tertutup dengan spektrum organisasi kemasyarakatan Islam di Istana Negara.
Korban jiwa di Gaza mencapai 72.027 orang. Meski gencatan senjata berlaku sejak Oktober 2025, evakuasi jenazah dan serangan sporadis Israel masih terus memakan korban.
Citra satelit ungkap militer Israel buldoser Pemakaman Perang Gaza. Makam tentara Sekutu PD I & II hancur, memicu kecaman atas penodaan situs bersejarah militer.
PEMERINTAH Jerman mengecam keras langkah Kabinet Israel yang memperluas otoritas sipil di Tepi Barat.
GELOMBANG kecaman internasional kembali menghantam Israel setelah pemerintahnya mengesahkan aneksasi ilegal di Tepi Barat.
Kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog ke Australia berujung kericuhan. Polisi tangkap 27 demonstran di Sydney di tengah tuduhan kekerasan aparat.
Langkah baru Israel perketat kontrol di Tepi Barat menuai kecaman global. Kebijakan ini dinilai melanggar hukum internasional dan mematikan solusi dua negara.
PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggunakan fokus yang kembali tertuju pada berkas Epstein untuk menyerang pendahulunya, Ehud Barak.
MENURUT dokumen FBI tahun 2020, Jeffrey Epstein dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak dan dilatih sebagai mata-mata di bawah arahannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved