Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Iran Akui Terima Pesan Rahasia dari AS, Namun Tolak Negosiasi Damai

Thalatie K Yani
26/3/2026 06:00
Iran Akui Terima Pesan Rahasia dari AS, Namun Tolak Negosiasi Damai
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkap adanya pesan dari AS melalui perantara. Di sisi lain, PBB peringatkan Lebanon jangan jadi 'Gaza kedua'.(Media Sosial X)

KETEGANGAN di Timur Tengah memasuki babak baru yang penuh teka-teki diplomatik. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan Amerika Serikat telah mengirimkan berbagai pesan melalui negara-negara perantara selama beberapa hari terakhir. Namun, Teheran menegaskan pertukaran pesan tersebut bukanlah tanda dimulainya negosiasi damai.

Dalam wawancara di televisi pemerintah Iran, Araghchi menjelaskan pesan-pesan dari AS tersebut disampaikan melalui "negara-negara sahabat". Meski Iran menanggapi pesan tersebut, Araghchi menegaskan posisi mereka tetap pada memberikan peringatan.

"Ini bukan dialog, bukan negosiasi, atau apa pun sejenisnya," tegas Araghchi. Ia menambahkan kebijakan Iran saat ini adalah terus melakukan "pembelaan" dan mereka "tidak memiliki niat untuk bernegosiasi saat ini."

Araghchi juga melemparkan kritik tajam terhadap eskalasi yang terjadi. "Ini adalah perang Israel, dan penduduk di kawasan ini serta rakyat AS yang menanggung biayanya," ujarnya.

Peringatan Keras dari PBB

Di tengah kebuntuan diplomatik antara Teheran dan Washington, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan agar perang segera dihentikan. Guterres secara khusus memperingatkan Israel dan AS, sembari mendesak Iran untuk berhenti menyerang negara-negara tetangga.

Guterres menggambarkan kondisi memprihatinkan yang ia saksikan langsung saat mengunjungi Lebanon baru-baru ini. Ia menegaskan eskalasi di Libanon tidak boleh berujung seperti tragedi di Palestina.

"Model Gaza tidak boleh terulang di Libanon," tegas Guterres. Ia meminta Hizbullah menghentikan serangan ke Israel, dan mendesak Israel menghentikan operasi militer serta serangannya.

Kebuntuan di Meja Diplomasi

Sementara itu, di Washington, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt bersikeras Presiden Donald Trump sedang melakukan "diskusi produktif" dengan Iran. Namun, klaim ini berbenturan langsung dengan pernyataan Araghchi yang menolak adanya niat negosiasi. Leavitt juga membantah kabar mengenai adanya 15 poin rencana perdamaian AS dan menyebutnya sebagai spekulasi.

Kondisi di lapangan justru menunjukkan arah yang berlawanan dengan perdamaian. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, baru saja mengumumkan rencana pembuatan "zona penyangga yang lebih luas" di Lebanon untuk memukul mundur ancaman Hizbullah.

Situasi kian mencekam bagi negara-negara Teluk yang berada di garis depan. Di Dubai, dilaporkan  Bandara Internasional Kuwait sedang berjuang memadamkan api akibat serangan pesawat tak berawak (drone), yang menunjukkan api peperangan terus meluas melampaui perbatasan Israel dan Lebanon. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya