Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

MBS Desak Trump Bongkar Rezim Iran, Sebut Kesempatan Bersejarah

Wisnu Arto Subari
25/3/2026 21:26
MBS Desak Trump Bongkar Rezim Iran, Sebut Kesempatan Bersejarah
Donald Trump dan MBS.(Al Jazeera)

DI tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang kini memasuki minggu keempat, peran Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) kembali menjadi sorotan tajam. Konflik yang dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran bulan lalu kini mengungkap dinamika diplomatik di balik layar yang melibatkan lobi tingkat tinggi.

Dalam laporan terbaru New York Times, MBS dikabarkan mendesak Presiden AS Donald Trump untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran. Pemimpin Saudi tersebut menyebut situasi saat ini sebagai kesempatan bersejarah untuk membentuk kembali tatanan geopolitik di Timur Tengah.

Lobi MBS: Pembubaran Pemerintahan Teheran

Mengutip sumber yang mengetahui diskusi tersebut, MBS menyampaikan kepada Washington bahwa AS harus terus bergerak menuju pembubaran pemerintahan garis keras Iran. Ia berargumen bahwa Iran merupakan ancaman eksistensial jangka panjang bagi negara-negara Teluk dan hanya perubahan kepemimpinan di Teheran yang dapat menghilangkan risiko tersebut secara permanen.

Tak hanya mendesak penargetan infrastruktur energi Iran, laporan tersebut bahkan menyebutkan bahwa dalam beberapa diskusi, pihak Saudi mengemukakan gagasan tentang pengerahan pasukan darat untuk memastikan stabilitas transisi di kawasan.

Respons Donald Trump dan Bantahan Saudi

Meskipun pihak Kerajaan Arab Saudi secara resmi membantah klaim tekanan pribadi tersebut, Presiden Donald Trump justru memberikan pernyataan yang memperkuat indikasi kemitraan militer mereka. Saat ditanya mengenai laporan NYT pada Selasa (24/3/2026), Trump memuji MBS sebagai sekutu setia.

"Dia seorang pejuang. Ngomong-ngomong, dia berjuang bersama kita. Arab Saudi sangat baik," tegas Trump di hadapan media.

Keterlibatan Saudi dalam eskalasi ini sebenarnya terendus sejak awal. Washington Post melaporkan bahwa keputusan Trump untuk menyerang Iran pada akhir Februari lalu diambil setelah lobi intensif selama berminggu-minggu oleh Israel dan Arab Saudi.

Dukungan Inggris dan Krisis Selat Hormuz

Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga melakukan pembicaraan dengan MBS. Starmer menegaskan dukungan Inggris terhadap Arab Saudi dan menginformasikan pengerahan tambahan peralatan militer pertahanan Inggris ke kawasan tersebut.

"Serangan Iran yang terus berlanjut, termasuk terhadap infrastruktur nasional yang penting, sangat mengerikan," ujar juru bicara Downing Street merujuk pada pernyataan Starmer.

Konflik yang berlangsung selama empat minggu ini bermula dari serangan militer yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, Iran membalas dengan menargetkan aset-aset AS dan Israel di negara-negara Teluk, yang berdampak langsung pada gangguan jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Ekonomi Minyak dan Visi 2030

Stabilitas regional merupakan pilar utama bagi agenda Visi 2030 milik MBS yang ingin menjadikan Saudi sebagai pusat investasi global. Namun, trauma serangan drone Iran ke fasilitas Aramco pada 2019 yang memangkas produksi 5,7 juta barel per hari tampaknya memicu pergeseran paradigma di Riyadh. Para pejabat regional memperingatkan bahwa kepercayaan antara blok Teluk dan Iran kini telah hancur total.

Persaingan panjang antara Arab Saudi yang mewakili mayoritas Suni dan Iran sebagai kekuatan Syiah kini memasuki babak paling berbahaya. Analis menilai, terlepas dari bagaimana konflik ini berakhir, luka diplomatik yang terjadi akan menimbulkan ketidakstabilan jangka panjang bagi pasar energi internasional dan ekonomi global. (Mint/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya