Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Arab Saudi Siap Gempur Iran, Izinkan AS Gunakan Pangkalan Udara King Fahd

Wisnu Arto Subari
25/3/2026 20:25
Arab Saudi Siap Gempur Iran, Izinkan AS Gunakan Pangkalan Udara King Fahd
Ilustrasi.(Freepik)

KETEGANGAN di kawasan Teluk memasuki babak baru yang sangat krusial pada 2026. Arab Saudi dilaporkan tengah bersiap untuk terlibat langsung dalam konflik militer melawan Iran. Langkah ini diambil menyusul serangan terus-menerus yang dilancarkan Teheran terhadap negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang mengganggu stabilitas energi dan ekonomi regional.

Laporan dari Ynet News mengungkapkan bahwa Riyadh memberikan izin resmi kepada pasukan Amerika Serikat (AS) untuk menggunakan Pangkalan Udara King Fahd. Fasilitas militer yang terletak di pesisir barat Semenanjung Arab ini diproyeksikan menjadi titik sentral operasi udara terhadap target-target strategis di Iran.

Poin Kunci Perubahan Sikap Riyadh: Sebelumnya, Arab Saudi berkomitmen untuk tetap netral. Namun, serangan rudal dan drone Iran terhadap infrastruktur minyak nasional memaksa Kerajaan untuk membuka pangkalan militernya bagi pasukan koalisi pimpinan AS.

Pergeseran Strategis dan Target Ekonomi

Keputusan ini menandai perubahan drastis dalam kebijakan luar negeri Arab Saudi. Berdasarkan analisis The Wall Street Journal, negara-negara sekutu AS di Teluk kini bersikap lebih keras menyusul gangguan persisten di Selat Hormuz yang mengancam jalur perdagangan dunia. Selain dukungan pangkalan, negara-negara Teluk juga membantu AS dalam memetakan target ekonomi Iran guna melemahkan kemampuan logistik Teheran.

Di lapangan, militer Israel melaporkan ada deteksi peluncuran rudal dari Iran yang memicu sirene peringatan di Bahrain, Kuwait, hingga wilayah Arab Saudi sejak Senin malam hingga Selasa (24/3) pagi waktu setempat.

Klaim Kontradiktif Donald Trump

Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan yang memicu perdebatan global. Ia mengeklaim bahwa pihak Amerika dan Iran memulai diskusi yang sangat baik dan menyebut ada peluang besar untuk mencapai kesepakatan damai. Trump menyatakan bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir di bawah pengawasannya.

Namun, otoritas Iran dengan cepat membantah klaim tersebut. Teheran menegaskan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dan memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menghadapi konsekuensi berat jika terus menekan Iran dengan ultimatum militer.

Upaya Diplomasi Pakistan dan Peran Inggris

Di tengah ancaman perang terbuka, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan kesiapan negaranya untuk menjadi tuan rumah negosiasi damai. Melalui unggahan di media sosial X, Sharif menegaskan bahwa Pakistan akan merasa terhormat untuk memfasilitasi pembicaraan demi mengakhiri perang di Timur Tengah.

Di sisi lain, Inggris terus memperkuat pertahanan udara sekutu. Downing Street mengungkapkan pilot-pilot Inggris mencatatkan hampir 900 jam terbang untuk memproteksi wilayah udara mitra-mitra di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi dan Yordania, dari ancaman serangan udara Iran.

Data Statistik Pertahanan Udara Sekutu (Maret 2026)

Negara Mitra Status Pertahanan Dukungan Utama
Arab Saudi Siaga Tinggi Pangkalan King Fahd
Inggris (RAF) Aktif Patroli 900 Jam Terbang
Israel Intersepsi Rudal Iron Dome/Arrow System

Hingga berita ini diturunkan, situasi di perbatasan udara negara-negara Teluk masih dalam kondisi waspada penuh, menunggu langkah selanjutnya dari koalisi internasional terhadap aktivitas militer Iran. (The Daily Express/I-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya