Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Survei: Popularitas Trump Anjlok Akibat Perang Iran dan Kenaikan Harga BBM

Haufan Hasyim Salengke
25/3/2026 21:16
Survei: Popularitas Trump Anjlok Akibat Perang Iran dan Kenaikan Harga BBM
Presiden AS Donald Trump.(Saul Loeb/AFP)

POPULARITAS Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyentuh titik terendah sejak ia kembali ke Gedung Putih. Berdasarkan jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos, tingkat persetujuan (approval rating) publik terhadap kinerja Trump merosot tajam, dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar dan ketidakpuasan luas atas operasi militer yang dilancarkan AS terhadap Iran.

Jajak pendapat yang berlangsung selama empat hari dan berakhir pada Senin (23/3), seperti dilansir Times of Israel, Rabu (25/3), menunjukkan bahwa hanya 36% warga Amerika yang menyetujui kinerja Trump. Angka ini turun signifikan dari 40% pada pekan sebelumnya.

Penurunan drastis ini terutama terlihat pada penilaian publik terhadap manajemen ekonomi dan biaya hidup. Padahal, isu ekonomi merupakan janji sentral kampanye Trump pada Pemilu 2024. Saat ini, hanya 25% responden yang menyetujui penanganan Trump terhadap biaya hidup, sementara persetujuan terhadap kepemimpinan ekonominya berada di angka 29%--lebih rendah dibandingkan capaian pendahulunya, Joe Biden.

Beban Ekonomi dan Dilema Perang

Lonjakan harga bensin di AS terjadi secara beruntun sejak AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi ke Iran pada 28 Februari lalu. Hal ini menciptakan paradoks bagi Trump yang saat pelantikan berjanji untuk menghindari "perang bodoh" dan menciptakan ekonomi yang bergairah.

Meskipun dukungan di internal Partai Republik masih relatif kuat, keresahan mulai merambah pendukungnya. Sebanyak 34% warga Republik kini tidak setuju dengan cara Trump menangani biaya hidup, naik dari 27% pada pekan lalu.

Terkait aksi militer, sebanyak 61% warga AS menyatakan ketidaksetujuannya terhadap serangan ke Iran. Selain itu, 46% responden meyakini bahwa keterlibatan militer ini justru akan membuat Amerika menjadi kurang aman dalam jangka panjang.

Di tengah ketidakpastian ini, laporan mengenai rencana Washington untuk mengirim ribuan tentara tambahan ke Timur Tengah kian memperkeruh persepsi publik, meskipun Trump sempat mengisyaratkan bahwa perang mungkin akan segera mereda. (B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya