Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

PBB Peringatkan Krisis Kemanusiaan di Iran: Warga Terjepit Perang dan Represi Brutal

Thalatie K Yani
12/3/2026 04:49
PBB Peringatkan Krisis Kemanusiaan di Iran: Warga Terjepit Perang dan Represi Brutal
Ilustrasi(Unsplash)

Tim penyelidik mandat PBB memperingatkan bahwa perang yang berkecamuk di Timur Tengah berpotensi memperburuk represi institusional terhadap warga sipil di Iran. Dalam laporan terbaru yang dirilis Rabu (11/3), Misi Pencari Fakta Independen Internasional PBB menyatakan bahwa penduduk Iran kini berada dalam posisi terjepit di tengah permusuhan bersenjata dan penindasan domestik yang mencapai level mematikan.

Krisis hak asasi manusia (HAM) yang mendalam ini diperkirakan akan memburuk menyusul rentetan serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak 28 Februari lalu, yang dibalas dengan serangan balasan Iran ke berbagai wilayah Teluk.

Pola Represi yang Sistematis

Tim penyelidik yang terdiri dari tiga orang ini telah mengidentifikasi pola yang jelas terkait situasi di lapangan. Mereka menyoroti bahwa perlindungan terhadap warga sipil, termasuk tahanan, menjadi sangat rentan selama konflik bersenjata.

"Perlindungan warga sipil, termasuk tahanan, menjadi sangat genting selama konflik bersenjata, dan setelahnya, represi negara meningkat, terutama ketika penutupan konektivitas dan internet diberlakukan seperti sekarang," ungkap tim misi tersebut dalam pernyataan resminya.

Misi ini dibentuk oleh Dewan HAM PBB pada November 2022, dipicu oleh tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstrasi besar-besaran pasca kematian Mahsa Amini. Namun, situasi kini dianggap lebih parah karena melibatkan kampanye militer skala besar yang diprediksi bisa berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Dugaan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

Laporan tersebut mencakup periode April 2025 hingga Februari 2026. Tim menemukan bahwa pola represi yang dijalankan negara tidak hanya bertahan, tetapi berevolusi menjadi lebih dalam. Pasukan keamanan dilaporkan menggunakan kekuatan mematikan yang ekstensif, termasuk senapan serbu dan senapan mesin berat, yang mengakibatkan jumlah kematian dan cedera yang sangat besar.

Tim penyelidik juga menyoroti peristiwa spesifik selama perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025. Terkait serangan di kompleks penjara Evin yang menewaskan sekitar 80 orang, misi tersebut menemukan bukti pelanggaran serius.

"Terkait serangan terhadap kompleks penjara Evin, misi menemukan bahwa Israel melakukan kejahatan perang dengan sengaja mengarahkan serangan terhadap objek sipil," tulis laporan tersebut.

Di sisi lain, tim juga menemukan bahwa banyak pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh pemerintah Iran dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Ini mencakup pembunuhan, pemenjaraan, penyiksaan, kekerasan seksual, persekusi gender, penghilangan paksa, serta tindakan tidak manusiawi lainnya yang dilakukan sebagai bagian dari serangan luas dan sistematis terhadap populasi sipil.

Misi PBB mendesak penghentian segera serangan oleh semua pihak untuk mencegah kerugian sipil yang lebih besar, baik di dalam Iran maupun secara luas di kawasan Timur Tengah. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya