Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali bersumpah untuk menyerang pejuang Hamas di kota Rafah di Gaza selatan. Ia menarik Israel keluar dari perundingan gencatan senjata di Kairo, Mesir, dengan alasan Hamas tidak mengubah tuntutan.
Pemimpin Israel itu tidak memberikan penjelasan mengenai waktu serangan Rafah. Invasi darat yang dikhawatirkan banyak negara termasuk sekutunya, Amerika Serikat, itu dapat menambah besar bencana kemanusiaan.
Dia mengatakan ratusan ribu warga sipil yang sekarang berdesakan di wilayah dekat perbatasan Mesir akan diizinkan mengosongkan wilayah tersebut. Tetapi dia tidak memberikan indikasi ke mana mereka akan pergi.
Baca juga : Tiongkok Minta Israel Segera Angkat Kaki dari Rafah
Netanyahu berada di bawah tekanan yang semakin besar dari para pemimpin dunia untuk tidak menyerang Rafah.
“Kami akan berjuang sampai kemenangan penuh, dan ini termasuk tindakan yang kuat di Rafah juga, setelah kami mengizinkan penduduk sipil. untuk meninggalkan zona pertempuran,” dikutip dari akun Netanyahu di aplikasi pesan Telegram.
Sebelumnya, kantor Netanyahu mengatakan Hamas tidak mengajukan tawaran baru dalam perundingan di Kairo untuk menghentikan perang empat bulan tersebut dan membebaskan lebih dari 100 atau lebih sandera yang diyakini ditahan oleh militan di Gaza.
Baca juga : Hamas: Israel Ingin Perpanjang Agresi di Gaza, Meski Tentara Mereka Kalah
Hamas telah menuntut agar Israel menarik semua pasukannya dari Gaza dan mengizinkan militan untuk terus menguasai wilayah di sepanjang Laut Mediterania. Netanyahu menyerukan “kemenangan mutlak” bagi negara Yahudi.
“Perubahan posisi Hamas akan memungkinkan kemajuan dalam perundingan,” kata kantor Netanyahu.
Kerabat para sandera Israel yang ditahan oleh Hamas mengatakan, keputusan Israel untuk tidak mengirim perunding ke sesi berikutnya perundingan di Kairo adalah sebuah skandal.
Baca juga : Netanyahu Tolak Gencatan Senjata 135 Hari di Gaza, Malah Perluas Agresi ke Rafah
Tindakan tersebut, kata mereka, sama dengan hukuman mati bagi para sandera yang tersisa di terowongan Hamas. Ini menjadi tanda meningkatnya perbedaan pendapat di dalam negeri di Israel mengenai perang tersebut.
Militer Israel mengatakan, mereka ingin menyerang empat batalyon militan Islam yang bersembunyi di tempat persembunyian Rafah.
“Kami sekarang menghitung mundur hari-hari sebelum Israel mengirimkan tank. Kami berharap mereka tidak mengirimkannya, tapi siapa yang bisa mencegahnya?” ucap Said Jaber, seorang pengusaha Gaza yang berlindung di Rafah bersama keluarganya.
Baca juga : Menlu AS Antony Blinken Dorong Gencatan Senjata Israel-Hamas
Richard Peeperkorn, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia untuk Gaza dan Tepi Barat, mengatakan serangan terhadap Rafah akan menjadi bencana yang tak terduga dan bahkan akan memperluas bencana kemanusiaan yang melampaui imajinasi.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengungkapkan kekhawatiran serupa dalam panggilan telepon dengan Netanyahu pada Rabu, beberapa hari setelah Presiden AS Joe Biden juga menyuarakan penentangannya terhadap serangan Rafah.
Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock mengatakan sebelum pembicaraan dengan Netanyahu bahwa orang-orang di Rafah yang tidak punya tempat untuk pergi tidak bisa hilang begitu saja.
Baca juga : Benjamin Netanyahu Bantah Ada Kemajuan dalam Negosiasi dengan Hamas
Setidaknya lebih dari 28 ribu warga Palestina tewas, termasuk 103 orang dalam satu hari terakhir, dan 68.291 orang terluka dalam serangan Israel di Gaza sejak 7 Oktober, menurut kementerian kesehatan di Gaza.
Perang dimulai dengan serangan kejutan Hamas terhadap Israel yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan penangkapan sekitar 240 sandera, 100 di antaranya dibebaskan selama gencatan senjata selama seminggu. (VoA/Z-3)
Baca juga : Ibu Warga Prancis yang Disandera Hamas Mohon kepada Netanyahu
Serangan Israel di Khan Younis tewaskan satu warga & lukai anak kecil. Pelanggaran gencatan senjata ini menambah daftar korban tewas menjadi 636 jiwa di Jalur Gaza.
Delapan tentara Israel terluka, termasuk putra Menteri Keuangan Smotrich, akibat serangan roket. Israel balas dengan menggempur Beirut secara besar-besaran.
Israel meningkatkan intensitas serangan udara ke wilayah Libanon pada Jumat waktu setempat, termasuk rangkaian serangan besar di distrik Baalbek.
Tiga personel pasukan perdamaian PBB terluka setelah markas mereka di Libanon selatan dihantam serangan yang diduga dilancarkan Israel.
Kementerian Kesehatan Libanon mengatakan serangan Israel di negara itu sejak Senin telah menewaskan total 217 orang, yang sebagian besar adalah warga sipil.
Jika dipadukan dengan serangan terhadap bangunan tempat tinggal, Israel menambah kesengsaraan dan penderitaan pada penduduk sipil yang sudah lelah.
Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi tegaskan tidak butuh gencatan senjata dan siap hadapi invasi darat AS.
Dalam wawancara terbaru, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak keras konsesi wilayah dan menyoroti tekanan dari Donald Trump terkait gencatan senjata.
Operasi evakuasi menghadapi tantangan besar karena minimnya alat berat dan kemampuan teknis yang memadai.
Korban jiwa di Gaza mencapai 72.027 orang. Meski gencatan senjata berlaku sejak Oktober 2025, evakuasi jenazah dan serangan sporadis Israel masih terus memakan korban.
Donald Trump desak Putin akhiri perang setelah Rusia melancarkan serangan besar ke infrastruktur energi Kyiv, melanggar janji jeda serangan di musim dingin.
Hal itu disampaikan Prasetyo menanggapi pertanyaan terkait sikap Presiden Prabowo Subianto atas situasi tersebut, di Sentul, Bogor, Senin (2/2).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved