Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Konflik Timur Tengah Meluas, Israel Mulai Intensif Gempur Libanon

Dhika Kusuma Winata
07/3/2026 08:17
Konflik Timur Tengah Meluas, Israel Mulai Intensif Gempur Libanon
ilustrasi(Xinhua)

Israel meningkatkan intensitas serangan udara ke wilayah Libanon pada Jumat waktu setempat, termasuk rangkaian serangan besar di distrik Baalbek. Otoritas kesehatan Libanon menyatakan sedikitnya sembilan orang tewas dan 17 lainnya terluka akibat serangan tersebut.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan Israel menghantam wilayah Nabi Sheet di distrik Baalbek. Media pemerintah Lkbanon menyebutkan sedikitnya 12 serangan udara dilancarkan di kawasan tersebut dalam satu hari. Operasi penyelamatan dan pembersihan puing-puing dilakukan untuk mencari korban yang kemungkinan masih tertimbun reruntuhan.

Konflik di Libanon kian memanas setelah kelompok Hizbullah yang didukung Iran menembakkan rudal ke wilayah Israel pada Senin lalu. Serangan itu disebut sebagai aksi balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.

Sejak eskalasi konflik tersebut, pemerintah Libanon mencatat korban jiwa terus bertambah. Pada Jumat pagi, kementerian kesehatan menyebut perang yang telah memasuki hari kelima itu telah menewaskan sedikitnya 217 orang.

Media pemerintah Libanon juga melaporkan Israel kembali melancarkan serangan ke pinggiran selatan Beirut pada Jumat sore. Serangan itu menyusul pemboman pada malam sebelumnya yang menyebabkan kerusakan besar di kawasan tersebut.

Sebelumnya, ribuan warga meninggalkan Libanon setelah Israel mengeluarkan peringatan evakuasi. Israel mengklaim operasi militernya telah menewaskan lebih dari 70 anggota Hizbullah yang didukung Iran.

Rekaman siaran langsung menunjukkan kepulan asap membubung dari sejumlah bangunan di pinggiran selatan Beirut, kawasan padat penduduk yang dikenal sebagai basis pengaruh Hizbullah.

Perdana Menteri Libanon Nawaf Salam memperingatkan dampak konflik Timur Tengah yang meluas dapat memicu krisis besar di negaranya.

“Konsekuensi dari pengungsian ini, baik pada tingkat kemanusiaan maupun politik, mungkin belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Salam.

Menurut otoritas Libanon, sejak Israel memperluas serangannya pada Senin, sedikitnya 217 orang tewas dan 798 lainnya terluka. Lebih dari 95.000 warga juga terpaksa meninggalkan rumah mereka.

“Negara kami telah terseret ke dalam perang yang menghancurkan yang tidak kami cari dan tidak kami pilih,” kata Salam.

Pemerintah Libanon memutuskan melarang aktivitas militer Hizbullah setelah kelompok tersebut menembakkan roket ke Israel untuk membalas kematian pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei yang kemudian menyeret Libanon ke dalam konflik regional.

Di sisi lain, Hizbullah juga mengeluarkan peringatan kepada warga Israel. Hizbullah meminta warga Israel untuk meninggalkan semua wilayah yang berada dalam jarak 5 km dari perbatasan.

Sementara itu, serangan Israel juga dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Libanon selatan dan timur, termasuk kota Sidon. Serangan besar juga dilaporkan terjadi di kota Tyre di selatan Libanon, wilayah yang dikenal sebagai lokasi situs warisan dunia UNESCO.

Pada hari yang sama, dua anggota pasukan penjaga perdamaian PBB mengalami luka kritis dan satu lainnya mengalami trauma setelah markas mereka di selatan dihantam dua rudal yang diduga dari Israel. (AFP/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya