Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Rusia Langgar Kesepakatan Jeda Serangan, Donald Trump Desak Putin Akhiri Perang

Thalatie K Yani
04/2/2026 05:54
Rusia Langgar Kesepakatan Jeda Serangan, Donald Trump Desak Putin Akhiri Perang
Serangan Rusia ke Ukraina(Media Sosial X)

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk segera mengakhiri perang di Ukraina yang telah berlangsung hampir empat tahun. Seruan ini muncul setelah Moskow kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke Kyiv, mengakhiri jeda serangan selama satu minggu yang sebelumnya disepakati demi alasan kemanusiaan di musim dingin.

"Saya ingin dia mengakhiri perang," tegas Trump kepada reporter AFP di Ruang Oval, Selasa. Meski kecewa karena jeda serangan tidak diperpanjang, Trump menyebut Putin setidaknya telah "menepati janji" untuk berhenti menyerang selama satu minggu penuh saat suhu ekstrem melanda.

Serangan Masif di Tengah Suhu Beku

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menuduh Rusia sengaja melanggar kesepakatan yang sebelumnya difasilitasi oleh Trump. Menurut Zelenskyy, Moskow meluncurkan serangan "sengaja" saat suhu di Kyiv merosot hingga -20°C. Serangan tersebut melibatkan rekor 71 rudal balistik dan 450 drone yang menargetkan infrastruktur energi.

Akibatnya, lebih dari 1.000 gedung hunian di Kyiv kehilangan akses pemanas. Zelenskyy menilai Rusia menggunakan jeda singkat tersebut hanya untuk menimbun senjata.

"Entah Rusia sekarang percaya bahwa dalam seminggu ada empat hari yang tidak lengkap, bukan tujuh, atau mereka benar-benar hanya bertaruh pada perang dan menunggu hari-hari terdingin di musim dingin ini," ujar Zelenskyy. "Kami percaya serangan Rusia ini jelas melanggar apa yang dibahas pihak Amerika, dan harus ada konsekuensinya."

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan Trump tidak terkejut dengan laporan pelanggaran tersebut. Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyebut serangan itu sebagai "sinyal buruk" dan upaya Rusia menciptakan kekacauan bagi warga sipil.

Teror Musim Dingin dan Kerusakan Simbolis

Di Kyiv, ledakan mulai terdengar sejak pukul 01.00 pagi waktu setempat, melukai sedikitnya sembilan orang. Natalia Hlobenko (35), seorang warga, menceritakan kengerian saat apartemennya dihujani pecahan kaca. "Di mana gencatan senjata itu?" ucapnya sambil terisak.

Selain menghancurkan fasilitas pemanas air, serangan ini juga merusak monumen Motherland, patung titanium setinggi 62 meter yang menjadi simbol perjuangan melawan agresi. Menteri Kebudayaan Ukraina, Tetyana Berezhna, menyebut tindakan ini sangat sinis karena menghantam tempat peringatan perjuangan melawan agresi abad ke-20 untuk mengulangi kejahatan di abad ke-21.

Menanti Dialog Abu Dhabi

Insiden berdarah ini terjadi tepat sehari sebelum putaran kedua pembicaraan antara Rusia, Ukraina, dan AS yang dijadwalkan berlangsung di Abu Dhabi pada Rabu dan Kamis.

Kini, rencana gencatan senjata berlapis sedang dibahas oleh sekutu Barat. Laporan Financial Times menyebutkan bahwa rencana tersebut mencakup respons militer dari "koalisi negara-negara yang bersedia" (coalition of the willing), termasuk pasukan Amerika, jika Rusia melakukan pelanggaran lebih lanjut setelah melewati batas waktu 72 jam.

Zelenskyy menegaskan bahwa tanpa tekanan maksimal terhadap Moskow, teror ini tidak akan berakhir. "Sekarang Moskow memilih teror dan eskalasi, itulah sebabnya tekanan maksimal sangat diperlukan," pungkasnya. (AFP/The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya