Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
BULAN Ramadan telah tiba, ditandai dengan penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi oleh pemerintah melalui Kementerian Agama yang jatuh pada Kamis (19/2).
Di tengah antusiasme menjalankan ibadah puasa, masyarakat diingatkan untuk tetap memperhatikan pola makan, khususnya dalam mengonsumsi asupan manis saat berbuka.
Dietisien dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Luthfianti Diana Mauludiyah, S.Gz, RD, menekankan pentingnya pembatasan asupan gula selama bulan puasa.
Menurutnya, tubuh memang membutuhkan asupan gula setelah menahan lapar selama 12–14 jam untuk memulihkan energi yang hilang.
"Setelah puasa 12–14 jam, kadar glukosa darah menurun, tubuh butuh sumber energi cepat," jelas Luthfianti, dikutip Rabu (25/2).
Meski demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak berlebihan. Ia menyarankan cukup mengonsumsi satu porsi kecil makanan manis saat berbuka puasa.
Selain itu, tidak perlu ada tambahan asupan manis lagi saat menyantap sahur. Hal ini bertujuan menjaga stabilitas kadar glukosa dalam darah.
Luthfianti menjelaskan bahwa gula sederhana memang dapat meningkatkan glukosa darah dengan cepat. Namun, ada risiko yang perlu diwaspadai jika terjadi lonjakan yang terlalu drastis.
"Tapi masalahnya jika lonjakan gula darah cepat mengakibatkan insulin meningkat sehingga gula darah bisa turun lagi dengan cepat yang mengakibatkan cepat lapar, ngantuk, atau lemas," ujarnya.
Demi kesehatan jangka panjang, ia menyarankan agar masyarakat bijak dalam mengatur frekuensi konsumsi makanan manis. Sebaiknya, konsumsi tersebut dilakukan sesekali dan tidak dalam porsi besar setiap hari.
Terkait takaran, ia merujuk pada standar World Health Organization (WHO) yang merekomendasikan gula tambahan kurang dari 10% dari total energi harian, bahkan lebih baik jika di bawah 5%. Bagi orang dewasa dengan kebutuhan energi sekitar 2000 kkal, 10% setara dengan 50 gram gula, sedangkan 5% setara dengan 25 gram gula per hari.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menganjurkan batas praktis yang serupa, yakni kurang lebih 50 gram atau setara dengan empat sendok makan gula per hari.
Sebagai alternatif yang lebih sehat, Luthfianti mengimbau masyarakat untuk lebih bijak memilih sumber rasa manis.
"Pilih manis alami (buah utuh) dibanding sirup, es buah dengan gula tambahan, teh manis pekat, atau kolak dengan santan dan gula tinggi," tutupnya.
Dengan menerapkan pola konsumsi yang terukur dan memilih sumber gula alami, masyarakat diharapkan dapat menjalani ibadah puasa dengan stamina yang tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kesehatan tubuh. (Ant/Z-1)
Untuk menyiasati agar THR lebih bermanfaat, Aliyah menyarankan pembagian pos pengeluaran berdasarkan persentase yang ideal.
OpenAI meluncurkan serangkaian panduan berupa prompt praktis yang dirancang untuk membantu pengguna mengelola keseharian mereka agar tetap terarah selama bulan Ramadan.
Kebiasaan mengandalkan takjil dapat berisiko menyebabkan kekurangan zat gizi penting bagi tubuh.
BELUM hilang dalam ingatan kita semua, sejumlah wilayah di Sumatra mengalami bencana hidrometeorologi yang sangat parah
Memasuki bulan suci Ramadan, banyak individu menjadikan momentum ini sebagai titik balik untuk memulai perubahan positif.
Berbagai hidangan takjil yang tinggi kandungan gula justru dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara drastis dalam waktu singkat.
Makanan manis merupakan makanan dengan kandungan gula yang memberikan rasa manis, yang sebaiknya dikonsumsi secukupnya dan seimbang.
Gula dapat merangsang pelepasan serotonin dan endorfin di otak, yaitu zat kimia yang membuat perasaan lebih nyaman dan bahagia.
Untuk mengurangi gula, coba ganti minuman manis dengan air putih atau teh tanpa gula, pilih buah utuh daripada jus kemasan, batasi camilan manis seperti cokelat, biskuit, atau kue.
Makanan ini biasanya disukai banyak orang karena rasanya yang menyenangkan dan dapat memberikan energi cepat, tetapi jika dikonsumsi berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved