Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Ini Tips Menjaga Daya Tahan Tubuh Saat Ramadan di Musim Hujan

Basuki Eka Purnama
22/1/2026 06:30
Ini Tips Menjaga Daya Tahan Tubuh Saat Ramadan di Musim Hujan
Ilustrasi(Freepik)

MENJALANKAN ibadah puasa di tengah cuaca yang tidak menentu memerlukan kesiapan fisik ekstra. Dokter umum lulusan Universitas Indonesia, dr. Irwan Heriyanto, menyarankan masyarakat untuk memperhatikan asupan mikronutrien guna menjaga daya tahan tubuh, terutama karena Ramadan tahun ini diprediksi bertepatan dengan musim hujan.

Menurut Irwan, kombinasi antara Vitamin C dan Zinc merupakan kunci utama dalam memperkuat imunitas selama berpuasa. Keduanya dinilai cukup untuk membantu tubuh menangkal infeksi dan penyakit yang mengintai di tengah cuaca lembap.

“Untuk pertahanan tubuh, mencegah infeksi dan sebagainya, biasanya vitamin C dan yang banyak mengandung zinc juga itu sebetulnya sudah cukup,” ujar Irwan, dikutip Kamis (22/1).

Keuntungan Cuaca Dingin bagi Tubuh

Meski musim hujan membawa risiko penyakit, Irwan menyebutkan bahwa suhu yang lebih dingin sebenarnya memberikan keuntungan tersendiri bagi orang yang berpuasa. Suhu lingkungan yang sejuk dapat menekan penguapan cairan tubuh, sehingga risiko dehidrasi dapat diminimalisir.

Kondisi hidrasi yang terjaga ini juga berdampak positif pada pencegahan gangguan kesehatan umum saat puasa, seperti vertigo atau pusing berputar secara tiba-tiba.

“Kalau di bulan puasanya itu musim hujan, itu memang lebih enak katanya, lebih tidak panas, tidak terlalu dehidrasi, tidak keluar keringat terlalu banyak. Sehingga tadi yang hidrasi terkait dengan vertigo dan lain sebagainya itu mungkin bisa reduksi,” jelas Board of Medical Excellence Halodoc tersebut.

Puasa Sebagai Momentum Detoksifikasi

Lebih lanjut, Irwan menjelaskan bahwa momentum Ramadan bukan sekadar kewajiban agama, melainkan waktu bagi sel-sel tubuh untuk melakukan proses pembersihan diri atau self cleaning dari racun yang mengendap selama 12 bulan terakhir.

Namun, agar proses "pembersihan" ini berjalan optimal, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam memilih menu berbuka, terutama terkait konsumsi gula. 

Gula berlebih, baik dari makanan manis maupun nasi, dapat memicu peradangan, lonjakan gula darah, hingga masalah kulit seperti jerawat.

Bijak Mengelola Hasrat Manis

Ia menekankan pentingnya mengatur pola pikir (mindset) dalam mengonsumsi makanan manis saat berbuka. Ia mengingatkan bahwa kepuasan dari rasa manis sifatnya sangat sementara dan hanya terasa di indera perasa.

“Itu sebenarnya rasanya cuma yang di mulut aja. Lewat dari leher sini udah nggak ada rasanya. Rasanya enaknya cuma di sini (di mulut). Jadi itu yang mungkin dicamkan di kita bahwa sebetulnya apa yang kita makan itu hanya untuk cukup saja, jangan terlalu berlebihan,” pesan Irwan.

Sebagai penutup, ia mempersilakan masyarakat untuk mencicipi hidangan manis sebagai pelengkap, asalkan tetap dalam porsi yang wajar. Sebab, segala sesuatu yang dikonsumsi secara berlebihan justru akan berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya