Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
BEBERAPA hari menjelang Ramadan, saya biasanya sibuk menyiapkan banyak hal. Dari saling maaf dan memaafkan orang-orang terdekat, membuat timeline aktivitas dan pekerjaan, jadwal menu sahur dan berbuka yang selalu saja tak sesuai rencana, janjian untuk buka bersama, sampai urusan klasik: 'zakat di hari ke berapa ya?”
Dulu, jawabannya hampir selalu sama, “Nanti saja, masih panjang Ramadannya”.
Nyatanya, Ramadan itu pendek. Pendek banget. Tahu-tahu sudah masuk sepuluh hari terakhir, tahu-tahu sudah sibuk cari baju Lebaran, belum lagi bikin-bikin parsel buat teman-teman dekat. Tahu-tahu zakat jadi urusan yang dientar-entarin. Bukan karena berat atau nggak mau, tapi justru karena sepele dan ketunda sama urusan lain.
Sejak itu, saya memutuskan satu hal kecil yang lumayan berdampak. Bayar zakatnya di awal Ramadan saja. Sebelum semua kesibukan itu makin menumpuk.
Bukan keputusan besar. Bukan juga keputusan yang bikin hidup langsung berubah drastis. Tapi entah kenapa, rasanya beda. Biar nggak kebanyakan alasan. Karena saya kenal diri saya sendiri. Kalau sesuatu bisa ditunda, besar kemungkinan akan memang ditunda. Entah karena sibuk, capek, main sama anak, atau cuma karena pengin rebahan.
Dengan bayar zakat di awal Ramadan, saya seperti “mengamankan” satu kewajiban sejak awal. Nggak ada lagi catatan kecil di kepala yang isinya, “eh, jangan lupa zakat ya”. Kepala jadi lebih kosong, dalam arti yang baik.
Dan anehnya, setelah itu ibadah terasa lebih ringan. Bukan lebih rajin, tapi lebih tenang.
Selain itu, awal Ramadan biasanya orang-orang lagi banyak kebutuhan dasar. Terutama bagi si penerima zakat itu sendiri. Mungkin di saat saya sibuk mengatur jadwal puasa dan buka bersama, di luar sana, ada orang-orang yang justru masuk Ramadan dengan pikiran yang menggelisahkan. Di saat orang-orang sekitarnya pada senang dengan menu buka yang bermacam-macam, ada yang cuma bisa buka dengan cara berburu takjil di masjid-masjid.
Sementara harga kebutuhan naik, pengeluaran nambah, tapi pemasukan tetap segitu-gitu saja. Puasa tetap jalan, tapi rasa cemas ikut puasa juga.
Di titik itu, saya merasa bayar zakat di awal Ramadan lebih bijak. Bukan nunggu momen akhir yang serba meriah, tapi hadir sejak awal, di saat orang-orang benar-benar butuh bantuan untuk bertahan. Mungkin kalau di akhir-akhir, orang-orang pada euforia demen banget bagi-bagi.
Tapi kalau di awal-awal gini, hal itu ngga terjadi. Semuanya sibuk masing-masing. Balik lagi ke paragraf awal pembukaan tulisan ini. Kalau zakat bisa berubah jadi beras, biaya sekolah, atau modal kecil buat hidup sebulan ke depan, ya kenapa harus ditahan?
Saya juga akhirnya belajar hal lain. Zakat itu bukan cuma “ngebuang” hak orang lain yang ada di kita, tapi soal bagaimana itu tersampaikan dengan bijak dan tepat sasaran. Makanya saya memilih menyalurkannya lewat Dompet Dhuafa. Ya, di samping itu, saya memang kerja di lembaga ini sih. Hehe. (Tapi, urusan zakat fitrah dan donasi Palestina, aku memang selalu dan akan selalu ke Dompet Dhuafa).
Biar zakat saya nggak berhenti di satu tangan, tapi bisa bergerak. Bisa menjelma jadi program pendidikan, layanan kesehatan, penguatan ekonomi, atau bantuan kemanusiaan. Saya pun tenang karena saya ikut mengawal pergerakan dananya.
Selanjutnya diiringi doa. Semoga yang menerimanya senang dan bermanfaat.
Ada lagi alasannya. Saya nggak tahu ini sugesti atau bukan. Tapi setelah bayar zakat di awal Ramadan, ada rasa lega yang susah dijelaskan. Seperti selesai membereskan kamar sebelum tidur. Nggak bikin kaya, tapi bikin nyaman.
Jadinya puasa nggak cuma soal menahan (lapar), tapi juga belajar melepas. Melepas sebagian harta, sebagian ego, dan kebiasaan menunda kebaikan.
Bukan suatu keharusan. Tapi buat saya, ini pilihan kecil yang ingin terus diulang. (H-2)
Panduan lengkap zakat fitrah: Syarat, waktu, dan cara bayar yang benar sesuai syariat Islam. Tunaikan zakat fitrahmu dengan mudah & pahami ketentuannya!
Pimpinan Baznas Bidang Pengumpulan, Rizaludin Kurniawan mengapresiasi langkah Kementerian Kehutanan dalam menggalakkan pembayaran zakat di lingkungan instansi pemerintah.
Kegiatan ini bertujuan menguatkan ukhuwah Islamiyah serta memperkuat sinergi dan silaturahmi antar rekan seprofesi yang tergabung dalam INI dan IPPAT.
DT Peduli kembali menggelar program Ramadan Peduli Negeri (RPN) 2026 dengan tema Teguhkan Kepedulian untuk Saudaramu di Pelosok dan Lintas Negeri.
Sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional, Laznas Yakesma terus menjunjung tinggi prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah.
RAMADAN selalu datang dengan misi yang sama: jeda dari hiruk-pikuk kehidupan, kesempatan menata ulang batin, dan panggilan untuk memurnikan relasi manusia dengan Tuhan dan sesamanya
SUKU Dinas Sosial Jakarta Selatan menyampaikan bahwa anggapan besarnya peluang ekonomi di Ibu Kota menjadi salah satu pemicu kedatangan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved