Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
BEBERAPA hari menjelang Ramadan, saya biasanya sibuk menyiapkan banyak hal. Dari saling maaf dan memaafkan orang-orang terdekat, membuat timeline aktivitas dan pekerjaan, jadwal menu sahur dan berbuka yang selalu saja tak sesuai rencana, janjian untuk buka bersama, sampai urusan klasik: 'zakat di hari ke berapa ya?”
Dulu, jawabannya hampir selalu sama, “Nanti saja, masih panjang Ramadannya”.
Nyatanya, Ramadan itu pendek. Pendek banget. Tahu-tahu sudah masuk sepuluh hari terakhir, tahu-tahu sudah sibuk cari baju Lebaran, belum lagi bikin-bikin parsel buat teman-teman dekat. Tahu-tahu zakat jadi urusan yang dientar-entarin. Bukan karena berat atau nggak mau, tapi justru karena sepele dan ketunda sama urusan lain.
Sejak itu, saya memutuskan satu hal kecil yang lumayan berdampak. Bayar zakatnya di awal Ramadan saja. Sebelum semua kesibukan itu makin menumpuk.
Bukan keputusan besar. Bukan juga keputusan yang bikin hidup langsung berubah drastis. Tapi entah kenapa, rasanya beda. Biar nggak kebanyakan alasan. Karena saya kenal diri saya sendiri. Kalau sesuatu bisa ditunda, besar kemungkinan akan memang ditunda. Entah karena sibuk, capek, main sama anak, atau cuma karena pengin rebahan.
Dengan bayar zakat di awal Ramadan, saya seperti “mengamankan” satu kewajiban sejak awal. Nggak ada lagi catatan kecil di kepala yang isinya, “eh, jangan lupa zakat ya”. Kepala jadi lebih kosong, dalam arti yang baik.
Dan anehnya, setelah itu ibadah terasa lebih ringan. Bukan lebih rajin, tapi lebih tenang.
Selain itu, awal Ramadan biasanya orang-orang lagi banyak kebutuhan dasar. Terutama bagi si penerima zakat itu sendiri. Mungkin di saat saya sibuk mengatur jadwal puasa dan buka bersama, di luar sana, ada orang-orang yang justru masuk Ramadan dengan pikiran yang menggelisahkan. Di saat orang-orang sekitarnya pada senang dengan menu buka yang bermacam-macam, ada yang cuma bisa buka dengan cara berburu takjil di masjid-masjid.
Sementara harga kebutuhan naik, pengeluaran nambah, tapi pemasukan tetap segitu-gitu saja. Puasa tetap jalan, tapi rasa cemas ikut puasa juga.
Di titik itu, saya merasa bayar zakat di awal Ramadan lebih bijak. Bukan nunggu momen akhir yang serba meriah, tapi hadir sejak awal, di saat orang-orang benar-benar butuh bantuan untuk bertahan. Mungkin kalau di akhir-akhir, orang-orang pada euforia demen banget bagi-bagi.
Tapi kalau di awal-awal gini, hal itu ngga terjadi. Semuanya sibuk masing-masing. Balik lagi ke paragraf awal pembukaan tulisan ini. Kalau zakat bisa berubah jadi beras, biaya sekolah, atau modal kecil buat hidup sebulan ke depan, ya kenapa harus ditahan?
Saya juga akhirnya belajar hal lain. Zakat itu bukan cuma “ngebuang” hak orang lain yang ada di kita, tapi soal bagaimana itu tersampaikan dengan bijak dan tepat sasaran. Makanya saya memilih menyalurkannya lewat Dompet Dhuafa. Ya, di samping itu, saya memang kerja di lembaga ini sih. Hehe. (Tapi, urusan zakat fitrah dan donasi Palestina, aku memang selalu dan akan selalu ke Dompet Dhuafa).
Biar zakat saya nggak berhenti di satu tangan, tapi bisa bergerak. Bisa menjelma jadi program pendidikan, layanan kesehatan, penguatan ekonomi, atau bantuan kemanusiaan. Saya pun tenang karena saya ikut mengawal pergerakan dananya.
Selanjutnya diiringi doa. Semoga yang menerimanya senang dan bermanfaat.
Ada lagi alasannya. Saya nggak tahu ini sugesti atau bukan. Tapi setelah bayar zakat di awal Ramadan, ada rasa lega yang susah dijelaskan. Seperti selesai membereskan kamar sebelum tidur. Nggak bikin kaya, tapi bikin nyaman.
Jadinya puasa nggak cuma soal menahan (lapar), tapi juga belajar melepas. Melepas sebagian harta, sebagian ego, dan kebiasaan menunda kebaikan.
Bukan suatu keharusan. Tapi buat saya, ini pilihan kecil yang ingin terus diulang. (H-2)
Zakat menjadi salah satu kewajiban bagi umat Muslim, terutama di bulan Ramadan yang penuh berkah.
Panduan lengkap zakat fitrah: Syarat, waktu, dan cara bayar yang benar sesuai syariat Islam. Tunaikan zakat fitrahmu dengan mudah & pahami ketentuannya!
Pimpinan Baznas Bidang Pengumpulan, Rizaludin Kurniawan mengapresiasi langkah Kementerian Kehutanan dalam menggalakkan pembayaran zakat di lingkungan instansi pemerintah.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Human Initiative terus melakukan evaluasi dalam setiap pelaksanaan program.
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Inisiatif ini hadir sebagai solusi nyata bagi para pekerja kebun dan masyarakat sekitar dalam menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok yang biasanya terjadi selama bulan suci.
Suasana lingkungan yang kondusif hanya bisa tercipta jika terdapat hubungan harmonis antar pemeluk agama.
Namun, di tengah kemajuan tersebut, optimalisasi zakat nasional belum menunjukkan lompatan yang sepadan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved