Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Bijak Memilih Takjil: Jangan Abaikan Nutrisi Utama Saat Berbuka Puasa

Basuki Eka Purnama
25/2/2026 07:03
Bijak Memilih Takjil: Jangan Abaikan Nutrisi Utama Saat Berbuka Puasa
Pedagang melayani pembeli menu takjil untuk berbuka puasa di Bazaar Takjil Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, Jumat (20/2/2026).(MI/Usman Iskandar)

BULAN Ramadan sering kali menjadi momen ketika daftar menu takjil yang manis dan digoreng menjadi primadona. Namun, di balik kenikmatannya, masyarakat perlu berhati-hati agar tidak menjadikan takjil sebagai sumber asupan utama saat berbuka puasa.

Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes., mengingatkan bahwa kebiasaan mengandalkan takjil dapat berisiko menyebabkan kekurangan zat gizi penting bagi tubuh. 

Menurut Ketua Indonesia Asosiasi Ahli Gizi Olahraga (ISNA) ini, mayoritas takjil yang beredar di masyarakat saat ini cenderung tidak seimbang.

"Biasanya takjil bahan utamanya karbohidrat, ada tambahan gula atau digoreng dengan minyak. Jadi kaya karbohidrat dan lemak saja, tapi rendah protein dan mikronutrien," ujar Rita, dikutip Rabu (25/2).

Dosen kesehatan masyarakat di Universitas Faletehan Serang ini menjelaskan bahwa masalah muncul ketika seseorang merasa kenyang lebih dulu setelah menyantap takjil, lalu memutuskan untuk melewatkan makan utama. Padahal, makan utama adalah waktu yang tepat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian yang krusial.

"Kalau seseorang hanya kenyang dengan takjil saja, berisiko kekurangan asupan protein yang merupakan zat gizi utama yang dibutuhkan tubuh, juga kekurangan serat dan beberapa mikronutrien," tambahnya.

Rita menekankan bahwa protein memiliki peran vital, yakni menjaga massa otot, memperbaiki jaringan tubuh, serta mendukung sistem kekebalan tubuh selama berpuasa. 

Oleh karena itu, kebutuhan utama saat berbuka puasa bukanlah pada takjil, melainkan pada pemulihan kadar gula darah yang menurun setelah seharian berpuasa. Hal ini sebenarnya dapat dicapai dengan mengonsumsi kurma atau buah serta cairan seperti air putih.

"Takjil itu bukan kebutuhan, tapi keinginan. Kalau ingin konsumsi, cukup satu sampai dua potong saja," tegasnya.

Sebagai solusi, Rita menyarankan masyarakat untuk tetap melanjutkan dengan makan utama yang mengandung komposisi seimbang. 

Menu makan malam harus mencakup karbohidrat, protein, sayuran, dan buah-buahan untuk memastikan kebutuhan gizi harian tetap terpenuhi.

Dengan menjaga keseimbangan pola makan antara takjil dan porsi utama, masyarakat dapat menjalani ibadah puasa dengan lebih sehat tanpa harus mengorbankan kebutuhan protein serta zat gizi esensial lainnya. Langkah ini sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas fisik tingg. 

Kedisiplinan dalam memilih asupan adalah kunci agar tubuh tetap prima sepanjang bulan suci. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya