Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Pentingnya Memaknai Takjil: Bukan Ajang Makan Besar

Basuki Eka Purnama
24/2/2026 04:36
Pentingnya Memaknai Takjil: Bukan Ajang Makan Besar
Pedagang melayani pembeli menu takjil untuk berbuka puasa di Bazaar Takjil Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, Jumat (20/2/2026)(MI/Usman Iskandar)

SELAMA bulan Ramadan, budaya berbuka puasa sering kali disalahartikan sebagai ajang untuk "balas dendam" dengan mengonsumsi berbagai jenis makanan dalam jumlah banyak. 

Dokter dan ahli gizi masyarakat, Dr. dr. Tan Shot Yen, mengingatkan masyarakat untuk tidak menjadikan waktu takjil sebagai ajang makan besar.

Menurut Tan, konsumsi gorengan, kolak, atau berbagai makanan tinggi gula dan lemak secara berlebihan saat berbuka justru dapat meningkatkan asupan kalori yang tidak diperlukan oleh tubuh. Padahal, tujuan utama dari takjil seharusnya sangat sederhana.

“Tujuan takjil hanya untuk membatalkan puasa dan rehidrasi. Rehidrasi itu air, bukan teh manis, bukan susu, bukan sirup,” tegas ahli gizi lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut, dikutip Selasa (24/2).

Lebih lanjut, Tan menyarankan agar masyarakat cukup mengonsumsi air putih dan tiga butir kurma saat berbuka. 

Kombinasi tersebut dinilai efektif untuk menjaga gula darah tetap stabil sekaligus memastikan asupan nutrisi yang seimbang. 

Air putih merupakan pilihan terbaik untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang setelah seharian berpuasa, sementara kurma dalam jumlah terbatas berfungsi mempersiapkan sistem pencernaan sebelum seseorang mengonsumsi makanan berat.

“Makanan kecil seperti kurma membantu ‘membangunkan’ pencernaan tanpa menjadi beban sebelum salat magrib,” jelasnya.

Ia pun menyarankan urutan yang tepat bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan, terutama bagi yang tengah berupaya menjaga atau menurunkan berat badan. 

Setelah berbuka dengan air putih dan kurma, masyarakat diimbau untuk segera melaksanakan salat Maghrib sebelum melanjutkan ke porsi makan utama. Prinsip yang dipegang haruslah moderat, yakni mengutamakan gizi seimbang dengan porsi yang wajar.

“Bukan lebih, bukan kurang, tapi cukup,” tuturnya.

Untuk makan utama setelah berbuka, Tan menekankan pentingnya mengikuti panduan “Isi Piringku” yang diterbitkan Kementerian Kesehatan. 

Panduan ini bertujuan untuk memastikan tubuh mendapatkan nutrisi yang optimal melalui pembagian porsi yang tepat. 

Menurutnya, satu porsi makan yang ideal terdiri dari setengah piring yang diisi dengan sayur dan buah, sementara setengah piring sisanya diisi dengan makanan pokok dan lauk pauk sebagai sumber protein.

Dengan mengikuti pola makan yang terukur dan tetap mengutamakan hidrasi, diharapkan masyarakat dapat menjalani ibadah puasa dengan kondisi tubuh yang tetap bugar dan terjaga kesehatannya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya