Headline

Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.

Menjaga Kesehatan Selama Puasa: Tips Nutrisi hingga Pentingnya Skrining JKN

Basuki Eka Purnama
23/2/2026 11:41
Menjaga Kesehatan Selama Puasa: Tips Nutrisi hingga Pentingnya Skrining JKN
Ilustrasi(Freepik)

MEMASUKI bulan puasa, pengaturan pola makan menjadi krusial agar kondisi tubuh tetap prima. Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Prof. Trina Astuti, menekankan bahwa pola, porsi, dan jenis makanan yang dikonsumsi harus disesuaikan dengan kondisi tubuh selama berpuasa.

Menurut Prof. Trina, kesalahan dalam mengatur pola makan berisiko menimbulkan masalah kesehatan yang berkepanjangan. 

"Saat berpuasa perut kosong lebih dari 8 jam, maka saat berbuka harus makan perlahan supaya perut tidak kaget. Minum air putih atau teh manis hangat, dilanjutkan dengan kurma, baru dilanjutkan dengan makanan utama setelah sholat maghrib. Konsumsi ini dapat memberikan energi secara berangsur," jelasnya.

Untuk menjaga kestabilan gula darah, terutama bagi penderita diabetes, Prof. Trina menyarankan konsumsi karbohidrat dengan indeks glikemik rendah di bawah 55, seperti beras basmati, beras merah, oat, roti gandum, atau pasta gandum utuh. 

Ia juga mengingatkan pentingnya menyeimbangkan asupan protein nabati, protein hewani, serta serat dari buah dan sayuran.

Terkait proporsi, ia menyarankan konsumsi karbohidrat yang lebih sedikit saat sahur, sementara saat berbuka disarankan untuk memperbanyak sumber protein. 

Selain itu, pemenuhan kebutuhan cairan harus diatur dengan pola 2-4-2: dua gelas saat berbuka, empat gelas sepanjang malam, dan dua gelas saat sahur. Masyarakat juga diimbau untuk membatasi konsumsi teh, kopi, dan gorengan.

Deteksi Dini Kesehatan melalui Mobile JKN

Selain menjaga asupan nutrisi, masyarakat diajak untuk lebih proaktif memantau risiko kesehatan. 

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, mengingatkan pentingnya memanfaatkan fitur Skrining Riwayat Kesehatan pada Aplikasi Mobile JKN bagi peserta berusia 15 tahun ke atas. Skrining ini dapat dilakukan setahun sekali untuk mendeteksi potensi penyakit kronis sejak dini.

“Melalui Skrining Riwayat Kesehatan, masyarakat bisa mengetahui kondisi kesehatannya, apakah berisiko mengidap penyakit kronis atau tidak. Skrining ini dilakukan setahun sekali, tapi besar dampaknya terhadap kesehatan masyarakat di masa depan. Makin cepat diketahui seberapa besar risiko seorang peserta mengidap penyakit kronis, makin cepat ditangani. Artinya, jika sudah diketahui sejak dini, maka makin besar pula peluang peserta tersebut untuk mencegah kondisinya bertambah parah,” kata Rizzky.

Jika hasil skrining menunjukkan risiko, peserta akan diarahkan ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk penanganan lebih lanjut. Rizzky juga mengimbau masyarakat untuk memastikan status kepesertaan JKN tetap aktif melalui kanal resmi seperti PANDAWA, Aplikasi Mobile JKN, atau BPJS Kesehatan Care Center 165.

“Selagi masih sehat, sempatkan lah untuk mengecek status kepesertaan JKN Anda. Prosesnya tidak lama, namun penting dilakukan supaya tidak terkendala saat tiba-tiba sakit. Kalau status kepesertaan JKN kita aktif, sudah ada kepastian jaminan pembiayaan dari BPJS Kesehatan apabila sewaktu-waktu peserta JKN perlu segera membutuhkan layanan kesehatan,” tegasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya