Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Bukber dengan1.000 Difabel, Menteri Mu'ti Tegaskan Penguatan Pendidikan Inklusif Tahun 2026

Syarief Oebaidillah
15/3/2026 21:09
Bukber dengan1.000 Difabel, Menteri Mu'ti Tegaskan Penguatan Pendidikan Inklusif Tahun 2026
Ilustrasi(Dok Istimewa)

SUASANA hangat dan ceria mewarnai  Mesjid Baitut Tholibin, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Sabtu (14/3). Lebih dari 1.600 peserta dari berbagai komunitas berkumpul dalam kegiatan “Ramadan Ceria: Berbuka Bersama 1.000 Difabel” yang tidak hanya menghadirkan kebahagiaan Ramadan, juga momen penegasan Kemendikdasmen  memperkuat pendidikan inklusif bagi seluruh anak Indonesia.

Pada kesempatan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah ( Mendikdasmen)  Abdul Mu’ti, mengutarakan pendidikan adalah hak setiap anak bangsa tanpa terkecuali. Negara,  memiliki tanggung jawab memastikan anak-anak berkebutuhan khusus memperoleh layanan pendidikan yang setara dan berkualitas. 

“Semua anak Indonesia, apapun keadaannya, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan layanan pendidikan. Kami  berkomitmen memperkuat pendidikan inklusi agar anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama dengan anak lainnya,” tandas Abdul Mu'ti

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Kemendikdasmen menyiapkan sejumlah langkah pada tahun 2026 untuk memperluas akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Selain memperkuat praktik pendidikan inklusif di sekolah reguler, pemerintah juga akan menambah sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) di beberapa daerah yang masih membutuhkan layanan pendidikan khusus. 

Kemendikdasmen juga akan memperkuat kapasitas sekolah melalui program pelatihan guru pendamping bagi anak berkebutuhan khusus, sehingga semakin banyak sekolah yang mampu memberikan layanan pendidikan inklusif secara optimal. 

“Tantangan pendidikan inklusi bukan hanya pada fasilitas,  juga pada kesiapan guru dan lingkungan sekolah. Karena itu pada tahun 2026, kami akan mulai melatih lebih banyak guru pendamping agar sekolah-sekolah mampu memberikan layanan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” jelasnya. 

Menurut Mu'ti, penguatan pendidikan inklusif tidak hanya soal kebijakan pendidikan, juga bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih terbuka dan menghargai keberagaman. 

“Kita ingin membangun  masyarakat yang tidak membuat sekat antara mereka yang berkebutuhan khusus dengan yang lainnya. Semua anak Indonesia memiliki potensi untuk menjadi anak-anak hebat jika mereka mendapatkan kesempatan pendidikan yang berkualitas,” tambahnya. 

Kegiatan buka puasa bersama tersebut berlangsung dalam suasana  meriah. Para peserta difabel menampilkan berbagai kreativitas, mulai dari hadroh, pembacaan surat Al-Qur’an, mengaji dengan bahasa isyarat, dongeng, hingga pembacaan puisi. Penampilan tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk berkarya dan berpartisipasi aktif di ruang publik. 

Komunitas PijatMu

Dalam kesempatan sama, Mendikdasmen turut meluncurkan komunitas PijatMu, sebuah inisiatif Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menghimpun para terapis pijat tunanetra di lingkungan Muhammadiyah. 

Program ini bertujuan memperkuat jejaring, meningkatkan kapasitas, serta mendorong kemandirian ekonomi penyandang disabilitas melalui pengembangan keterampilan dan perluasan akses layanan kesehatan alternatif bagi masyarakat. Selain itu, diperkenalkan pula program mudik gratis bagi penyandang disabilitas yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Ramadan Ceria, dengan penyediaan layanan transportasi bagi peserta yang akan pulang ke kampung halaman. Kemendikdasmen juga memberikan bantuan berupa paket sembako, perlengkapan ibadah, baju koko untuk anak-anak, serta Al-Qur’an Braille guna mendukung aktivitas ibadah para peserta selama Ramadan.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan inklusif tidak hanya dibangun melalui kebijakan,  juga melalui praktik nyata kepedulian sosial yang menghadirkan ruang kebersamaan bagi semua. Ramadan menjadi momentum memperkuat empati sekaligus meneguhkan komitmen bahwa tidak ada satupun anak Indonesia yang tertinggal dalam memperoleh pendidikan. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya