Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Ini Kelompok Orang yang Perlu Waspada Ketika Berolahraga Saat Puasa Ramadan

Basuki Eka Purnama
20/2/2026 07:22
Ini Kelompok Orang yang Perlu Waspada Ketika Berolahraga Saat Puasa Ramadan
Ilustrasi(Freepik)

OLAHRAGA merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat, Namun, saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, aktivitas fisik memerlukan penyesuaian khusus. 

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga lulusan Universitas Indonesia, dr. Risky Dwi Rahayu, M.Gizi, Sp.K.O, mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri dalam berolahraga demi menjaga keselamatan tubuh.

Dalam sebuah temu media daring di Jakarta, dikutip Jumat (20/2),  Risky menekankan bahwa meski puasa bukan alasan untuk berhenti bergerak, memaksakan intensitas yang berlebihan justru dapat berdampak buruk.

"Olahraga itu bukan salah satu aktivitas yang harus dihindari pada waktu berpuasa, tapi, memang kalau kita memaksakan diri itu tidak bagus," ujar Risky.

Kelompok Rentan yang Perlu Perhatian Khusus

Menurut Risky, terdapat beberapa kelompok masyarakat yang tidak perlu memaksakan diri untuk berolahraga berat atau harus sangat berhati-hati dalam melakukannya. 

Kelompok tersebut mencakup ibu hamil, ibu menyusui, serta penderita penyakit penyerta atau komorbid.

Bagi kelompok ini, perhatian utama harus tertuju pada keseimbangan antara asupan gizi, tingkat aktivitas fisik, dan durasi olahraga. 

Khusus bagi ibu hamil dan menyusui, pilihan untuk berpuasa bersifat opsional, sehingga aktivitas fisik yang dilakukan pun wajib disesuaikan dengan kondisi fisik agar tidak menimbulkan risiko bagi ibu maupun buah hati.

Strategi Latihan bagi Penderita Komorbid

Bagi penderita penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi, Risky menyarankan untuk melakukan diskusi mendalam dengan dokter sebelum memulai rutin olahraga saat Ramadan. Hal ini penting untuk mendapatkan rekomendasi jenis latihan yang aman dan tepat.

Meski harus hati-hati, aktivitas fisik bagi penderita komorbid tetap diperlukan sebagai bagian dari manajemen penyakit mereka.

"Mereka (penderita komorbid) harus tetap melakukan latihan fisik sebagai bagian dari terapi mereka karena tidak cuma obat. Mungkin ada beberapa yang melakukan aktivitas fisik secara rutin untuk mengatur kondisi penyakit yang sedang diderita, jadi harus hati-hati," tambahnya.

Mempertahankan Kebugaran, bukan Mengejar Prestasi

Prinsip utama berolahraga di bulan Ramadan adalah mempertahankan tingkat kebugaran, bukan waktu yang tepat untuk mencapai target fisik yang ekstrem. 

Bagi individu yang belum pernah melakukan latihan fisik rutin sebelum Ramadan, sangat disarankan untuk tidak menetapkan target yang terlalu berat, seperti penurunan berat badan yang drastis.

Ia memberikan ilustrasi mengenai atlet atau pegiat olahraga yang sedang dalam masa persiapan kompetisi. 

Menurutnya, Ramadan bukanlah momentum untuk memforsir kemampuan fisik hingga batas maksimal.

"Misalnya kita sedang ada dalam program latihan untuk maraton. Ini bukan waktu yang tepat untuk mencapai performa puncak," tutup Risky.

Fokus utama selama bulan suci ini adalah membangun kebiasaan baru yang bermanfaat bagi kesehatan jangka panjang tanpa mengabaikan kondisi fisik yang sedang berpuasa. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya