Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

IDAI: Jangan Anggap Remeh Campak dan Cacar Air di Musim Hujan

Atalya Puspa    
30/1/2026 16:07
IDAI: Jangan Anggap Remeh Campak dan Cacar Air di Musim Hujan
Ilustrasi cacar air pada anak.(Dok. Freepik)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh penyakit campak dan cacar air pada anak, terutama saat musim hujan. Pasalnya, kedua penyakit berpotensi menimbulkan komplikasi serius, bahkan mengancam nyawa.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Anggraini Alam, mengatakan musim hujan menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran virus, terutama karena kelembapan tinggi, suhu yang lebih dingin, serta aktivitas anak yang lebih banyak dilakukan di ruang tertutup.

“Campak dan cacar air sering dianggap penyakit biasa pada anak, padahal komplikasinya bisa sangat berat. Di musim hujan, penularannya jauh lebih mudah,” ujar Anggraini dalam media briefing IDAI, Jumat (30/1). 

Menurut dia, campak merupakan salah satu penyakit paling menular. Satu anak yang terinfeksi dapat menularkan virus ke 12–18 anak lainnya, terutama di ruang tertutup dengan ventilasi buruk. 

Penularan terjadi melalui udara, sehingga risiko meningkat saat anak-anak banyak beraktivitas di dalam rumah atau ruang kelas.

Anggraini menjelaskan, campak tidak hanya ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam kulit, tetapi juga dapat menyebabkan komplikasi serius seperti radang paru, infeksi telinga, gangguan mata hingga kebutaan, bahkan infeksi otak.

“Komplikasi campak bisa sangat luas dan berbahaya, apalagi bila daya tahan tubuh anak lemah,” katanya.

Sementara itu, kasus cacar air juga dilaporkan meningkat selama musim hujan. Penyakit ini mudah menyebar di lingkungan tertutup dan sering dianggap ringan oleh orang tua. Padahal, cacar air dapat menyebabkan komplikasi berat seperti infeksi bakteri sekunder, sepsis, hingga gangguan serius pada organ tubuh.

IDAI juga mengingatkan bahaya pemberian obat yang tidak tepat pada anak dengan cacar air. “Pemberian aspirin pada anak yang menderita cacar air dapat memicu  kerusakan hati dan otak yang bisa berujung pada kondisi kritis,” tegas Anggraini. 

Ia menekankan bahwa paracetamol merupakan pilihan obat penurun panas yang paling aman untuk anak.

IDAI mengimbau orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda bahaya seperti demam tinggi yang tidak turun, demam turun tetapi kondisi anak memburuk, sesak napas, muntah hebat, kejang, penurunan kesadaran, atau muncul perdarahan.

Sebagai langkah pencegahan, IDAI menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga ventilasi rumah, menghindari kerumunan saat ada wabah, serta melengkapi imunisasi anak sesuai rekomendasi. 

“Vaksin campak, rubella, cacar air, dan influenza tersedia dan efektif mencegah penyakit berat. Pencegahan jauh lebih baik daripada mengobati,” pungkas Anggraini.
(H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya