Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
Dokter spesialis anak Leonirma Tengguna mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan anak-anak ketika bersilaturahmi pada momen Idul Fitri. Ia menilai kebiasaan menyentuh, mencium, atau bahkan menyuapi anak secara sembarangan dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama campak, karena sistem kekebalan tubuh anak belum berkembang secara sempurna.
Dalam unggahan di akun Instagramnya, Leonirma menegaskan bahwa rasa gemas terhadap anak sebaiknya tetap disertai dengan kehati-hatian.
“Gemas sama anak orang boleh, tapi jangan main cium, pegang, apalagi asal suapin. Kita tidak tahu kuman apa yang menempel di tangan kita dan apakah makanan itu aman untuk anak tersebut,” ujarnya.
Dokter lulusan Universitas Gadjah Mada itu menjelaskan bahwa anak-anak memiliki daya tahan tubuh yang berbeda dengan orang dewasa sehingga lebih mudah terpapar penyakit apabila terjadi kontak dengan kuman dari luar.
Jika seseorang ingin berinteraksi dengan anak, Leonirma menyarankan agar terlebih dahulu meminta izin kepada orang tua. Hal tersebut terutama penting jika ingin memberikan makanan kepada anak, karena beberapa bahan makanan berpotensi memicu alergi atau tidak sesuai dengan kondisi kesehatan anak. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan tangan sebelum berinteraksi dengan anak, misalnya dengan mencuci tangan menggunakan sabun atau cairan antiseptik.
Penggunaan masker juga disarankan bagi orang yang sedang merasa kurang sehat agar kegiatan silaturahmi tetap berlangsung aman. Menutup pesannya, Leonirma mengingatkan bahwa bentuk kasih sayang kepada anak tidak harus melalui sentuhan fisik.
“Kasih THR-nya saja. Sayang anak tidak harus pegang, peduli tidak harus membuat anak sakit,” katanya.
Ia menambahkan, kewaspadaan tersebut penting mengingat beberapa penyakit menular seperti Measles (campak) dan super flu sedang meningkat di sejumlah wilayah. Sentuhan tanpa memperhatikan kebersihan berpotensi mempercepat penularan penyakit tersebut, terutama jika tidak disertai penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). (Ant/E-3)
Campak pada orang dewasa bisa menyebabkan komplikasi serius. Kenali gejala, masa inkubasi, cara penanganan, dan pentingnya vaksinasi booster MR/MMR.
Campak bukan hanya penyakit anak-anak. Orang dewasa juga berisiko terkena campak dengan komplikasi yang lebih serius seperti pneumonia dan ensefalitis.
WAKIL Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan vaksinasi campak dewasa seperti untuk tenaga kesehatan (nakes) butuh studi efikasi dari Badan POM.
Anggota Komisi IX DPR RI Vita Ervina mendesak penambahan anggaran imunisasi menyusul meningkatnya KLB Campak pada awal 2026
DINAS Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau mencatat sebanyak 1.303 suspek campak di Riau sepanjang 2026.
Tingkat kesembuhan campak sangat bergantung pada kondisi imun tubuh pasien.
Sejak bulan Januari hingga Maret terdapat 100 kasus suspek dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium Labkesda Provinsi Jawa Barat tercatat 30 orang positif campak.
Pemkab Jember gelar imunisasi massal (ORI) campak di Bintoro untuk cegah penularan dan kejar target herd immunity di tengah ancaman KLB 2026.
Dinkes Bali siagakan layanan vaksinasi campak 24 jam di posko mudik Pelabuhan Gilimanuk & Padangbai guna cegah penyebaran virus selama Lebaran 2026.
Dinkes Kabupaten Tangerang umumkan nol kasus campak hingga Maret 2026. Simak upaya pencegahan dan imbauan imunisasi bagi orang tua di sini.
Meski banyak kasus campak dapat sembuh dengan sendirinya, penyakit ini perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan komplikasi serius seperti radang paru, diare, dehidrasi dan radang otak.
DINAS Kesehatan Sulawesi Selatan mencatat adanya ancaman serius penyebaran penyakit campak di Kota Makassar sepanjang tahun 2026. Sebanyak 187 kasus suspek dilaporkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved