Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
MUSIM hujan meningkatkan risiko berbagai penyakit infeksi, mulai dari flu hingga leptospirosis, dengan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan karena kombinasi kelembapan tinggi, genangan air, serta perubahan pola aktivitas anak mempercepat penularan penyakit.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Anggraini Alam, menjelaskan hujan bukan penyebab langsung anak jatuh sakit. Namun, kondisi lingkungan saat musim hujan menciptakan situasi ideal bagi virus, bakteri, dan parasit untuk berkembang.
“Kelembapan yang tinggi, suhu yang lebih dingin, genangan air, hingga sanitasi yang terganggu membuat mikroorganisme lebih mudah hidup dan menular. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena sistem imun mereka masih berkembang,” kata Anggraini dalam media briefing IDAI, Jumat (30/1).
Ia menyebut penyakit saluran pernapasan seperti flu dan influenza kerap meningkat pada musim hujan. Lingkungan yang dingin dan lembap membuat virus lebih stabil, sementara aktivitas anak yang lebih banyak dilakukan di dalam ruangan dengan ventilasi terbatas mempercepat penularan.
Influenza, kata dia, berbeda dengan flu biasa karena dapat menimbulkan komplikasi berat seperti pneumonia.
Selain penyakit pernapasan, penyakit yang ditularkan melalui air dan makanan juga melonjak. Diare, disentri, demam tifoid, dan hepatitis A sering terjadi akibat kontaminasi air bersih dan buruknya sanitasi selama musim hujan dan banjir.
Pada anak, kondisi ini berisiko menyebabkan dehidrasi berat yang dapat berujung fatal bila tidak ditangani cepat.
“Anak lebih cepat mengalami dehidrasi dibandingkan orang dewasa. Diare berulang, muntah, dan kurang minum cairan bisa sangat berbahaya,” ujarnya.
Musim hujan juga identik dengan meningkatnya penyakit yang ditularkan melalui nyamuk. Genangan air menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah dengue (DBD), nyamuk Culex penyebab Japanese encephalitis, serta nyamuk Anopheles penyebab malaria. Anak-anak yang lebih banyak berada di rumah justru lebih mudah terpapar gigitan nyamuk, terutama pada pagi dan sore hari.
Tak kalah berbahaya, leptospirosis juga menjadi ancaman serius saat musim hujan dan banjir. Penyakit akibat bakteri dari urine tikus ini dapat masuk ke tubuh melalui luka kecil di kulit saat anak bermain di genangan air. Gejalanya meliputi demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan ginjal dan hati.
“Leptospirosis memiliki angka kematian yang relatif tinggi di Indonesia, terutama saat musim hujan. Anak-anak yang bermain di air banjir sangat berisiko,” kata Anggraini.
Ia menegaskan kelompok berisiko tinggi tidak hanya balita, tetapi juga anak dengan penyakit penyerta, sistem imun lemah, serta anak yang tinggal di lingkungan padat dan rawan banjir. Selain itu, lansia, ibu hamil, dan pekerja lapangan juga perlu mendapat perlindungan ekstra.
IDAI mengimbau orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila muncul tanda bahaya seperti demam tinggi yang tidak membaik, sesak napas, muntah hebat, diare berulang, penurunan kesadaran, perdarahan, atau berkurangnya frekuensi buang air kecil.
Sebagai upaya pencegahan, IDAI menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan, mengonsumsi makanan matang dan air bersih, menghindari genangan air dan banjir, serta melindungi anak dari gigitan nyamuk.
“Imunisasi juga menjadi kunci penting. Banyak penyakit yang meningkat di musim hujan sebenarnya bisa dicegah dengan vaksin,” pungkas Anggraini. (H-3)
Musim penghujan menjadi faktor risiko utama karena bakteri ini lebih mudah bertahan dan menyebar di lingkungan yang lembap dan berair.
Penularan utama leptospirosis terjadi melalui kontak kulit dengan air atau tanah yang telah tercemar urine hewan pembawa bakteri, dengan tikus menjadi perantara yang paling sering ditemukan.
Kasus leptospirosis di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, meningkat tajam sepanjang 2025. Sebaliknya, kasus demam berdarah dengue (DBD) justru mengalami penurunan.
Leptospirosis perlu mendapat perhatian serius, terutama di wilayah terdampak banjir.
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) menyebut per 29 November 2025 suspek kasus leptospirosis banyak ditemukan di Jawa Tengah yakni 1.550 kasus.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Mandi air hangat bukan sekadar untuk kenyamanan, melainkan langkah krusial untuk membantu menghilangkan kotoran dari lumpur serta menjaga suhu tubuh agar tidak kedinginan.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Pada 2025, tercatat 161.752 kasus Dengue dengan 673 kematian yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Musim hujan memicu lonjakan berbagai penyakit infeksi pada anak, mulai dari influenza, campak, hingga cacar air, yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved