Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Pentingnya Deteksi Dini Leptospirosis agar tidak Terlambat Ditangani

Ardi Teristi Hardi
11/2/2026 18:30
Pentingnya Deteksi Dini Leptospirosis agar tidak Terlambat Ditangani
Ilustrasi(Dok Freepik)

KASUS leptospirosis di Kota Yogyakarta sepanjang 2025 tercatat sebanyak 34 kasus atau meningkat dibandingkan 2024 yang hanya 24 kasus. 

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, menyebut peningkatan kasus leptospirosis pada 2025 dipengaruhi kewaspadaan puskesmas yang lebih tinggi. 

Setiap pasien demam dengan faktor risiko kini langsung dipertimbangkan kemungkinan leptospirosis. Kewaspadaan tersebut bertujuan untuk mempercepat penanganan kasus leptospirosis dan menekan potensi komplikasi berat pasien yang didiagnosis leptospirosis. 

"Kini deteksi dini dan pemeriksaan laboratorium bisa lebih sistematis di seluruh fasilitas kesehatan," kata dia.

Penyakit leptospirosis atau dikenal juga sebagai penyakit kencing tikus. Musim hujan yang masih berlangsung membuat risiko penularan tatap tinggi. 

Sementara itu, Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Akademik UGM, Noviantoro Sunarko Putro, menyampaikan bahwa penyakit leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang paling sering ditularkan dari hewan ke manusia. 

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans, yang tidak hanya menginfeksi tikus tetapi juga pada mamalia lain seperti kucing, anjing, sapi, babi, kambing, dan domba. 

“Bakteri Leptospira interrogans dapat bertahan di kandung kemih tikus selama berbulan-bulan dan dikeluarkan melalui urin sehingga berpotensi menularkan infeksi ke lingkungan dalam waktu lama,” ucapnya, Rabu (11/2).

Gejala Leptospirosis 

Gejala penyakit leptospirosis sulit dikenali karena menyerupai penyakit infeksi pada umumnya dan sebagian besar kasus bersifat ringan seperti demam, sakit kepala, menggigil, dan nyeri otot. Namun, nyeri otot pada leptospirosis memiliki ciri khas, terutama pada otot betis, punggung, dan perut. 

Pada gejala yang lebih berat, leptospirosis ditandai oleh tiga kondisi utama, yaitu perdarahan, badan menguning akibat gangguan hati, dan gagal ginjal akut yang menyebabkan produksi urin berkurang. “Akibatnya, racun yang seharusnya dibuang lewat kencing jadi menumpuk di dalam dan meracuni tubuh,” jelas dr. Koko. 

Penularan bakteri Leptospira interrogans masuk ke tubuh melalui kulit yang terluka maupun mukosa, seperti kelopak mata dan rongga mulut. Bakteri ini dapat bertahan lama di lingkungan lembab dan air tergenang, seperti got, kolam, sungai berarus lambat, dan genangan air lainnya, bahkan hingga berbulan-bulan. Hal ini menjadikan musim hujan menjadi faktor risiko utama penularan penyakit leptospira.

Cara Mencegah Tertular Leptospirosis 

Oleh karena itu, dr. Koko menyarankan agar masyarakat menghindari kontak dengan air tergenang dan menggunakan alat pelindung diri, seperti sarung tangan dan sepatu boot, saat berisiko dengan risiko paparan. 

Lebih lanjut, Koko menekankan pentingnya mengikuti anjuran dokter apabila pasien mengalami gejala berat leptospirosis.

Informasi dari pasien memegang peran yang sangat penting, terutama terkait riwayat paparan lingkungan dan kasus leptospirosis di lingkungan sekitar. 

Kondisi tersebut menjadi krusial karena secara klinis maupun pemeriksaan laboratorium, leptospirosis kerap sulit dibedakan dari penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD) dan tifus. 

“Hal tersebut tidak sepenuhnya keliru selama pasien tetap berada dalam pengawasan ketat. DBD itu risiko kematiannya bisa terjadi di minggu-minggu pertama, sedangkan Leptospirosis bisa minggu kedua atau setelahnya,” ungkapnya.

Jaga Kebersihan Lingkungan 

Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan air tergenang, mengingat manusia tidak dapat mengendalikan di mana hewan seperti tikus membuang urin. 

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak panik apabila mengalami atau mendapati anggota keluarga dengan gejala leptospirosis, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, serta mengikuti seluruh anjuran medis. 

“Dengan penanganan yang tepat, termasuk perawatan intensif bila diperlukan, peluang pemulihan tetap tinggi selama fase kritis dapat dilalui,” tutup dia. (AT/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya