Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS leptospirosis kembali menjadi perhatian seiring meningkatnya risiko penularan penyakit tersebut pada musim penghujan. Pengamat kesehatan dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra menegaskan bahwa leptospirosis memiliki keterkaitan erat dengan kondisi sanitasi dan lingkungan yang buruk.
Menurutnya, salah satu faktor utama penyebaran penyakit ini adalah keberadaan tikus yang banyak ditemukan di saluran-saluran pembuangan air, terutama setelah turunnya hujan.
"Leptospirosis ini erat kaitannya dengan sanitasi dan lingkungan yang buruk. Karena faktor penyebabnya ini biasanya adalah tikus yang memang ada di saluran-saluran pembuangan air dan utamanya setelah musim penghujan. Ini juga cukup mengkhawatirkan," kata Hermawan saat dihubungi, Selasa (2/12).
Ia mengimbau masyarakat untuk memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk menghindari penggunaan air yang berasal dari genangan atau sumber yang terpapar lingkungan terbuka.
"Paling penting setiap orang harus betul-betul menjaga perilaku hidup bersih dan sehat. Tidak menggunakan dan mengonsumsi air yang bersumber dari genangan atau air di mana dia sudah terpapar terbuka dengan paparan hewan-hewan dan utamanya adalah tikus," ujarnya.
Hermawan menilai bahwa kasus leptospirosis harus menjadi peringatan keras bagi pemerintah agar lebih proaktif dalam penyediaan sumber air bersih serta percepatan perbaikan sanitasi dan drainase.
Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, termasuk menghindari penumpukan barang yang berpotensi mengundang tikus serta memastikan makanan dan minuman tersimpan dengan aman.
"Biasakan menutup tempat-tempat minum, tempat makanan, dan yang paling penting kalau bisa kemana-mana menggunakan sepatu atau sandal yang tertutup agar tidak mudah digigit atau dicemari oleh bakteri pembawa leptospirosis," jelasnya.
Lebih lanjut, Hermawan juga menekankan perlunya respons cepat dari dinas kesehatan dalam mengantisipasi penyebaran penyakit.
"Yang paling penting juga dari dinas kesehatan agar respon cepat ya untuk menyiapkan obat-obatan dan juga mengantisipasi penyebarannya melalui lokalisir tempat di mana dideteksi adanya leptospirosis dan melakukan investigasi cepat untuk meminimalisir hama penyebabnya," tuturnya.
Dengan meningkatnya curah hujan, upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat dinilai sangat penting untuk menekan potensi penyebaran leptospirosis dan menjaga kesehatan publik. (E-4)
Kasus leptospirosis di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, meningkat tajam sepanjang 2025. Sebaliknya, kasus demam berdarah dengue (DBD) justru mengalami penurunan.
Leptospirosis perlu mendapat perhatian serius, terutama di wilayah terdampak banjir.
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) menyebut per 29 November 2025 suspek kasus leptospirosis banyak ditemukan di Jawa Tengah yakni 1.550 kasus.
KASUS leptospirosis di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menunjukkan tren peningkatan.
Hingga akhir November 2025, Dinas Kesehatan Klaten mencatat terdapat 133 kasus leptospirosis dengan 22 di antaranya meninggal dunia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved