Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Curah Hujan Tinggi, Risiko Meningkat Leptospirosis lebih Mudah Menyebar

Agus Utantoro
07/2/2026 09:47
Curah Hujan Tinggi, Risiko Meningkat Leptospirosis lebih Mudah Menyebar
Ilustrasi(Dok Istimewa)

TINGGINYA curah hujan yang masih berlangsung menjadikan risiko penularan penyakit leptospirosis tetap tinggi. Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM menyikapi hal tersebut dengan membuat program tanya jawab TropmedAsk dengan menghadirkan Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Akademik UGM dr. Noviantoro Sunarko Putro, Sp.PD, mengungkapkan leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang paling sering ditularkan dari hewan ke manusia.

Dokter yang akrab disapa dr. Koko tersebut, hari Jumat  menjelaskan penyakit yang dikenal juga sebagai penyakit kencing tikus ini disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans, dengan gejala yang dapat bervariasi, dari ringan hingga berat. 

Dia menelaskan musim penghujan menjadi faktor risiko utama karena bakteri ini lebih mudah bertahan dan menyebar di lingkungan yang lembap dan berair.

Meski dikenal sebagai penyakit kencing tikus, jelasnya Leptospira interrogans tidak hanya menginfeksi tikus. Bakteri ini ujarnya juga dapat ditemukan pada mamalia lain seperti kucing, anjing, sapi, babi, kambing, dan domba. Namun, tikus memiliki peran khusus karena bakteri Leptospira interrogans dapat bertahan di kandung kemih tikus selama berbulan-bulan dan dikeluarkan melalui urin sehingga berpotensi menularkan infeksi ke lingkungan dalam waktu lama.

Dokter Koko menambahkan leptospirosis kerap sulit dikenali karena gejalanya menyerupai infeksi umum dan sebagian besar kasus bersifat ringan seperti demam, sakit kepala, menggigil, dan nyeri otot. Namun, nyeri otot pada leptospirosis memiliki ciri khas, terutama pada otot betis, punggung, dan perut. 

"Pada gejala yang lebih berat, leptospirosis ditandai oleh tiga kondisi utama, yaitu perdarahan, badan menguning akibat gangguan hati, dan gagal ginjal akut yang menyebabkan produksi urin berkurang. Akibatnya, racun yang harusnya dibuang lewat kencing jadi menumpuk di dalam dan meracuni tubuh,” jelas dr. Koko.

Lebih lanjut, dr. Koko menekankan pentingnya mengikuti anjuran dokter apabila pasien mengalami gejala berat leptospirosis. Pada banyak kasus, kondisi tersebut bersifat sementara, namun membutuhkan perawatan intensif seperti penggunaan ventilator atau cuci darah. Bila pasien mampu melewati fase kritis, peluang untuk pulih sepenuhnya tergolong  tinggi.

Terkait pencegahan, dr. Koko menganjurkan untuk mengurangi risiko kontak dengan sumber penularan. Bakteri Leptospira interrogans masuk ke tubuh melalui kulit yang terluka maupun  mukosa, seperti kelopak mata dan rongga mulut. Bakteri ini dapat bertahan lama di lingkungan lembap dan air tergenang, seperti got, kolam, sungai berarus lambat, dan genangan air lainnya, bahkan hingga berbulan-bulan. Oleh karena itu, masyarakat disarankan menghindari kontak dengan air tergenang dan menggunakan alat pelindung diri, seperti sarung tangan dan sepatu boot, saat berisiko dengan risiko paparan.

Dalam penegakan diagnosis leptospirosis, informasi dari pasien memegang peran yang sangat penting, terutama terkait riwayat  paparan lingkungan. “Keterangan dari pasien menjadi kunci, misalnya apakah di sekitarnya terdapat got, tumpukan sampah, atau adanya kasus leptospirosis di lingkungan sekitar,” jelas dr. Koko. 

Kondisi ini menjadi krusial karena secara klinis maupun pemeriksaan laboratorium, leptospirosis kerap sulit dibedakan dari penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD) dan tifus.

Kemiripan gejala tersebut juga kerap menyebabkan leptospirosis keliru didiagnosis sebagai DBD. Menurut dr. Koko, hal tersebut tidak sepenuhnya keliru selama pasien tetap berada dalam pengawasan ketat. “DBD itu risiko kematiannya bisa terjadi di minggu-minggu pertama, sedangkan Leptospirosis bisa minggu kedua atau setelahnya,” ungkap dr. Koko. 

Menutup sesi TropmedAsk, dr. Koko mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan air tergenang, mengingat manusia tidak dapat mengendalikan di mana hewan seperti tikus membuang urin. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak panik apabila mengalami atau mendapati anggota keluarga dengan gejala leptospirosis, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, serta mengikuti seluruh anjuran medis. Dengan penanganan yang tepat, termasuk perawatan intensif bila diperlukan, peluang pemulihan tetap tinggi selama fase kritis dapat dilalui. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya