Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Jangan Paksa Anak Anda Berpuasa, Kenali Tanda Tekanan Psikologisnya

Basuki Eka Purnama
28/1/2026 06:11
Jangan Paksa Anak Anda Berpuasa, Kenali Tanda Tekanan Psikologisnya
Ilustrasi(Freepik)

MENGENALKAN ibadah puasa Ramadan kepada anak memerlukan pendekatan yang bijak dan tidak boleh dipaksakan. Psikiater dari National Hospital Surabaya, dr. Aimee Nugroho, SpKJ, mengingatkan para orangtua untuk senantiasa memperhatikan kesiapan mental anak sebelum mengajak mereka menjalani ibadah tersebut.

Menurut Aimee, pengenalan puasa yang dilakukan dengan paksaan berisiko menimbulkan tekanan emosional yang berdampak negatif pada kesehatan mental anak. Oleh karena itu, orangtua perlu waspada terhadap perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh sang buah hati.

Mengenali Sinyal Bahaya

Tekanan psikologis pada anak sering kali tidak disampaikan secara verbal, melainkan melalui perubahan emosi dan fisik. 

Orangtua patut curiga jika anak menjadi lebih mudah marah, sering menangis tanpa alasan yang jelas, atau menarik diri dari interaksi sehari-hari.

Selain itu, stres pada anak dapat muncul dalam bentuk keluhan fisik tanpa sebab medis (psikosomatik), seperti sakit perut, pusing, hingga mual. 

Dalam beberapa kasus, anak bahkan menunjukkan perilaku regresif atau kembali ke tingkah laku masa kecil yang sudah ditinggalkan.

"Kecemasan berlebihan, misalnya takut gagal puasa, takut dimarahi, atau takut berdosa, juga bisa muncul," kata Aimee, dikutip Rabu (28/1). 

Ia menambahkan bahwa gejala lain seperti mengompol kembali, tantrum, gangguan tidur, hingga penurunan minat belajar merupakan sinyal bahwa beban psikologis anak telah melampaui kemampuannya.

Membedakan Disiplin dan Tekanan

Penting bagi orangtua untuk bisa membedakan antara penerapan disiplin yang sehat dengan tekanan psikologis yang merusak. Disiplin sehat terlihat ketika anak merasa tertantang namun tetap merasa aman. Mereka berani mencoba kembali meski gagal tanpa rasa takut, serta merasakan kebanggaan atas usahanya.

Sebaliknya, tekanan psikologis terjadi jika anak berpuasa hanya karena takut dihukum atau merasa malu. Kondisi ini biasanya ditandai dengan kecemasan berlebih menjelang waktu sahur atau berbuka. 

"Jika anak terlihat taat tapi tegang, orangtua perlu mengevaluasi pendekatan mereka," tegas Aimee.

Pendekatan Bertahap dan Empati

Sebagai solusi, Aimee menyarankan agar puasa diperkenalkan secara bertahap sesuai kesiapan mental masing-masing anak, bukan sekadar berdasarkan usia atau membandingkannya dengan anak lain. 

Anak perlu diberikan pemahaman bahwa rasa lapar dan lelah adalah hal yang wajar, dan harga diri mereka tidak diukur dari durasi puasa yang berhasil dijalani.

Dukungan terbaik yang bisa diberikan orangtua adalah melalui komunikasi yang penuh empati. 

Dengan memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya, proses belajar puasa akan menjadi pengalaman yang positif. 

Melalui pendekatan yang konsisten dan aman, anak tidak hanya belajar menahan lapar, tetapi juga memahami makna ibadah sebagai bagian dari pertumbuhan diri mereka di bulan Ramadan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya