Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
MENGENALKAN ibadah puasa Ramadan kepada anak memerlukan pendekatan yang bijak dan tidak boleh dipaksakan. Psikiater dari National Hospital Surabaya, dr. Aimee Nugroho, SpKJ, mengingatkan para orangtua untuk senantiasa memperhatikan kesiapan mental anak sebelum mengajak mereka menjalani ibadah tersebut.
Menurut Aimee, pengenalan puasa yang dilakukan dengan paksaan berisiko menimbulkan tekanan emosional yang berdampak negatif pada kesehatan mental anak. Oleh karena itu, orangtua perlu waspada terhadap perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh sang buah hati.
Tekanan psikologis pada anak sering kali tidak disampaikan secara verbal, melainkan melalui perubahan emosi dan fisik.
Orangtua patut curiga jika anak menjadi lebih mudah marah, sering menangis tanpa alasan yang jelas, atau menarik diri dari interaksi sehari-hari.
Selain itu, stres pada anak dapat muncul dalam bentuk keluhan fisik tanpa sebab medis (psikosomatik), seperti sakit perut, pusing, hingga mual.
Dalam beberapa kasus, anak bahkan menunjukkan perilaku regresif atau kembali ke tingkah laku masa kecil yang sudah ditinggalkan.
"Kecemasan berlebihan, misalnya takut gagal puasa, takut dimarahi, atau takut berdosa, juga bisa muncul," kata Aimee, dikutip Rabu (28/1).
Ia menambahkan bahwa gejala lain seperti mengompol kembali, tantrum, gangguan tidur, hingga penurunan minat belajar merupakan sinyal bahwa beban psikologis anak telah melampaui kemampuannya.
Penting bagi orangtua untuk bisa membedakan antara penerapan disiplin yang sehat dengan tekanan psikologis yang merusak. Disiplin sehat terlihat ketika anak merasa tertantang namun tetap merasa aman. Mereka berani mencoba kembali meski gagal tanpa rasa takut, serta merasakan kebanggaan atas usahanya.
Sebaliknya, tekanan psikologis terjadi jika anak berpuasa hanya karena takut dihukum atau merasa malu. Kondisi ini biasanya ditandai dengan kecemasan berlebih menjelang waktu sahur atau berbuka.
"Jika anak terlihat taat tapi tegang, orangtua perlu mengevaluasi pendekatan mereka," tegas Aimee.
Pendekatan Bertahap dan Empati
Sebagai solusi, Aimee menyarankan agar puasa diperkenalkan secara bertahap sesuai kesiapan mental masing-masing anak, bukan sekadar berdasarkan usia atau membandingkannya dengan anak lain.
Anak perlu diberikan pemahaman bahwa rasa lapar dan lelah adalah hal yang wajar, dan harga diri mereka tidak diukur dari durasi puasa yang berhasil dijalani.
Dukungan terbaik yang bisa diberikan orangtua adalah melalui komunikasi yang penuh empati.
Dengan memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya, proses belajar puasa akan menjadi pengalaman yang positif.
Melalui pendekatan yang konsisten dan aman, anak tidak hanya belajar menahan lapar, tetapi juga memahami makna ibadah sebagai bagian dari pertumbuhan diri mereka di bulan Ramadan. (Ant/Z-1)
Pada Ramadan ini yayasan membangun sumur bor beserta bangunan MCK di Ponpes dan Majelis Ta'lim Jamiatul Hidayah, Manglad, Warung Kondang, Kabupaten Cianjur.
Ingin khatam Al-Quran dalam 3 hari? Simak metode pembagian juz harian, dalil hadits, serta teladan para sahabat dan generasi salaf di sini.
Gangguan pencernaan kerap muncul akibat pergeseran pola makan dari masa Ramadan ke Lebaran, terutama saat konsumsi makanan tinggi lemak meningkat sementara asupan serat justru berkurang.
Koleksi terbaru Charles & Keith ini mengambil inspirasi mendalam dari suasana senja yang syahdu serta elemen geometri yang lazim ditemukan dalam arsitektur Timur Tengah.
Tujuan utama inisiatif ini ialah merespons krisis iklim global yang dampaknya semakin terasa di Indonesia, lewat pendekatan moral, spiritual, dan aksi kolektif berbasis nilai-nilai Islam.
Olahraga saat puasa justru membantu meningkatkan metabolisme, menjaga berat badan ideal, serta memperbaiki sensitivitas insulin.
Penguatan pelayanan kesehatan primer, terutama Puskesmas dan Posyandu, harus menjadi prioritas dalam strategi nasional penanganan kesehatan mental anak.
Pemerintah mengajak para orangtua untuk kembali menghadirkan waktu berkualitas di rumah melalui gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga.
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved