Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Bibit Siklon Tropis 97S Picu Cuaca Ekstrem di NTB

Media Indonesia
22/1/2026 11:42
Bibit Siklon Tropis 97S Picu Cuaca Ekstrem di NTB
Ilustrasi(Dok freepik )

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya Bibit Siklon Tropis 97S di barat daya Teluk Carpentaria, Australia, memicu cuaca ekstrem di Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Sistem tersebut mempengaruhi pola angin dan suplai massa udara basah ke wilayah NTB," kata Kepala Stasiun Meteorologi BMKG NTB Satria Topan Primadi di Mataram, Rabu (21/1).

Satria mengatakan Bibit Siklon Tropis 97S memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 25 knot dengan tekanan udara minimum 998 hectopascal dan bergerak ke arah barat. Menurutnya, sistem bibit badai tropis tersebut berdampak tidak langsung terhadap dinamika atmosfer di Nusa Tenggara Barat.

"Gangguan atmosfer lain seperti aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby ekuator, dan gelombang Kelvin juga terpantau aktif di NTB," papar Satria.

Lebih lanjut ia menambahkan saat ini ada potensi terbentuknya daerah tekanan rendah di perairan selatan NTB yang dapat menyebabkan pertemuan dan perlambatan kecepatan angin. 

Keberadaan tekanan rendah menyebabkan kelembapan udara cenderung basah di berbagai lapisan ketinggian serta meningkatkan labilitas atmosfer yang mendukung proses konvektif skala lokal. 

"Kondisi itu berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang," ujar Satria. 

Berdasarkan analisa BMKG, kemunculan Bibit Siklon Tropis 97S juga menimbulkan dampak tidak langsung berupa peningkatan kecepatan angin di wilayah NTB yang mempengaruhi tinggi gelombang laut.

Pada 21 Januari 2025, BMKG menyampaikan kecepatan maksimum angin permukaan yang berhembus di wilayah NTB mencapai 55 kilometer per jam. Angin kencang tersebut menyebabkan perairan Samudera Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat menjadi zona merah pelayaran akibat gelombang laut setinggi empat sampai enam meter. 

"Kami mengimbau seluruh pihak terkait dan masyarakat untuk senantiasa memantau perkembangan cuaca, peringatan dini, serta potensi risiko bencana melalui kanal resmi BMKG," pungkas Satria. (Ant/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya