Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Panduan Puasa bagi Penderita Diabetes dan Hipertensi: Atur Pola Makan, Kenali Batas Tubuh

Basuki Eka Purnama
20/1/2026 04:18
Panduan Puasa bagi Penderita Diabetes dan Hipertensi: Atur Pola Makan, Kenali Batas Tubuh
Ilustrasi(Freepik)

MENJALANKAN ibadah puasa bagi penderita penyakit penyerta atau komorbid, seperti hipertensi dan diabetes, memerlukan perhatian ekstra. Dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia, Dr. dr. Inge Permadhi, MS, SpGK (K), menekankan pentingnya strategi mengganti makanan pencetus penyakit dengan pilihan yang lebih sehat sesuai kondisi tubuh.

Strategi Diet Hipertensi dan Diabetes

Bagi penderita hipertensi, kunci utamanya terletak pada pengendalian asupan garam (natrium). 

Inge menjelaskan bahwa pembatasan garam harus tetap dilakukan, baik saat sedang berpuasa maupun tidak. Sebagai solusinya, pasien disarankan meningkatkan konsumsi kalium yang banyak ditemukan dalam sumber alami.

“Hipertensi itu salah satu penyebabnya adalah karena terlalu banyak garam, berarti dia puasa atau tidak puasa tetap kurangi garam. Salah satu untuk mengganti posisi dari natrium atau garam adalah kalium yang paling banyak terdapat pada buah dan sayur. Jadi kurangi garamnya tapi meningkatkan jumlah sayur dan buahnya,” kata Inge.

Sementara itu, bagi penderita diabetes, fokus utama adalah pada pemilihan jenis karbohidrat. 

Inge menyarankan penggantian karbohidrat sederhana seperti nasi putih dan tepung dengan karbohidrat kompleks. Komposisi nutrisi yang ideal dalam satu porsi makan adalah 50%-60% karbohidrat kompleks, 10%-15% protein, serta asupan lemak di bawah 30%.

Selain itu, penderita diabetes perlu berhati-hati saat berbuka. Konsumsi sirup atau kurma dalam jumlah berlebihan sangat tidak disarankan karena dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara drastis. Sebagai alternatif, jus buah segar tanpa pemanis tambahan jauh lebih aman karena mengandung gula alami.

Menjaga Keseimbangan Nutrisi

Inge mengingatkan bahwa saat berpuasa, tubuh hanya kehilangan waktu makan siang. Oleh karena itu, asupan nutrisi pada waktu sahur dan berbuka harus benar-benar diperhatikan agar kebutuhan vitamin, mineral, dan air tetap terpenuhi.

“Jadi komponen itu harus ada, termasuk di dalamnya harus juga ada sayur dan buah sebagai sumber dari vitamin, mineral dan juga air. Makannya seperti biasa, tapi kan berarti hanya makan siang yang hilang, berarti di sahur harus makan yang baik dan ketika berbuka juga harus makan yang baik,” tuturnya.

Kapan Harus Berhenti Berpuasa?

Keselamatan medis tetap menjadi prioritas utama. Dr. Inge memberikan panduan tegas kapan seorang pasien komorbid harus segera membatalkan puasanya:

  1. Hipertensi: Jika muncul keluhan sakit kepala hebat dan stres berlebihan yang memicu kenaikan tekanan darah, pasien disarankan berhenti berpuasa dan segera meminum obat.
  2. Diabetes: Jika kadar gula darah turun di bawah 80 mg/dL (hipoglikemia), pasien wajib membatalkan puasa. Kondisi ini sangat berisiko menyebabkan lemas hingga kehilangan kesadaran. Pasien disarankan mengonsumsi makanan manis yang cepat serap, seperti cokelat, untuk memulihkan energi.

Terakhir, Inge mengingatkan agar pasien tidak mengabaikan konsumsi obat-obatan rutin selama periode sahur dan berbuka. 

Konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam sebelum memulai puasa sangat dianjurkan untuk memastikan kesiapan kondisi fisik secara menyeluruh. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya