Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Ancaman Senyap PTM pada Generasi Muda: Mengapa Usia Produktif Kini Rentan?

N Apuan Iskandar
19/2/2026 23:18
Ancaman Senyap PTM pada Generasi Muda: Mengapa Usia Produktif Kini Rentan?
Ilustrasi, penyakit jantung pada usia muda.(Dok. Freepik)

PENYAKIT Tidak Menular (PTM) kini bukan lagi monopoli kelompok usia lanjut. Memasuki tahun 2026, pergeseran epidemiologi menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi semakin sering ditemukan pada kelompok usia produktif, bahkan remaja. Fenomena ini menjadi ancaman serius bagi visi Indonesia Emas 2045, mengingat kesehatan adalah modal utama produktivitas bangsa.

Mengapa PTM Kini Menyerang Usia Muda?

Perubahan gaya hidup radikal dalam satu dekade terakhir menjadi pemicu utama. Pola hidup sedenter digital, di mana aktivitas fisik berkurang akibat ketergantungan pada layar, berpadu dengan konsumsi makanan olahan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL).

Tren minuman manis kekinian seperti boba dan kopi susu, serta peningkatan penggunaan rokok elektrik (vape) yang mencapai prevalensi 8 persen pada 2023, mempercepat kerusakan metabolik sejak dini. Selain itu, beban stres psikososial di era kompetisi digital turut berkontribusi pada peningkatan tekanan darah dan gangguan hormon.

Data Terbaru: Alarm Keras bagi Indonesia

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) terbaru dan laporan Global Burden of Disease 2025, situasi kesehatan generasi muda berada di titik kritis:

  • Obesitas Anak: Sekitar 11,9 persen pelajar usia 5–12 tahun mengalami berat badan lebih.
  • Hipertensi Remaja: 6,7 persen pelajar usia 13–17 tahun sudah memiliki tekanan darah tinggi.
  • Diabetes Melitus: Prevalensi nasional meningkat menjadi 8,6 persen dengan tren usia yang semakin muda.
  • Kematian Dini: PTM bertanggung jawab atas 74 persen kematian global setiap tahunnya.

Gejala PTM yang Sering Diabaikan Anak Muda

Banyak anak muda merasa "kebal" karena merasa masih bugar. Namun, tubuh sering kali memberikan sinyal halus yang kerap diabaikan:

1. Kelelahan Kronis

Rasa lelah yang tidak hilang meski sudah istirahat cukup bisa menjadi indikasi awal gangguan metabolisme glukosa atau fungsi jantung.

2. Sering Haus dan Buang Air Kecil

Dua gejala klasik ini merupakan tanda awal diabetes tipe 2 yang mulai banyak ditemukan pada usia 20-an.

3. Sakit Kepala dan Tengkuk Berat

Sering dianggap sebagai efek kurang tidur, padahal bisa jadi merupakan tanda hipertensi atau tekanan darah tinggi.

4. Penurunan Penglihatan Mendadak

Kadar gula darah yang tidak stabil dapat memengaruhi lensa mata, menyebabkan pandangan kabur secara tiba-tiba.

Solusi dan Langkah Pencegahan: Strategi 2026

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah memulai langkah masif dengan program skrining kesehatan gratis bagi 53 juta pelajar sejak Juli 2025. Namun, kesadaran individu tetap menjadi kunci utama.

Gunakan prinsip CERDIK untuk memitigasi risiko:

  • Cek kesehatan secara berkala (tekanan darah, gula darah, dan IMT).
  • Enyahkan asap rokok dan uap rokok elektrik.
  • Rajin aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu.
  • Diet seimbang dengan membatasi gula, garam, dan lemak.
  • Istirahat cukup (7-9 jam per malam).
  • Kelola stres dengan meditasi atau hobi positif.

People Also Ask (FAQ)

Apakah PTM bisa disembuhkan total?
Sebagian besar PTM bersifat kronis, namun dapat dikendalikan dengan gaya hidup sehat agar penderita tetap bisa produktif.

Kapan sebaiknya mulai cek gula darah?
Bagi individu dengan gaya hidup kurang aktif, pemeriksaan rutin disarankan mulai usia 20 tahun.

Apakah vape lebih aman dari rokok biasa?
Tidak. Vape mengandung zat kimia yang dapat memicu peradangan pembuluh darah dan gangguan paru kronis.

(WHO NCD Report 2025, Kemenkes RI (SKI 2023), Global Burden of Disease/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya