Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Angka Obesitas Terus Naik, Masyarakat Diminta Cermat Memilih Makanan Olahan

M Iqbal Al Machmudi
04/3/2026 17:15
Angka Obesitas Terus Naik, Masyarakat Diminta Cermat Memilih Makanan Olahan
Ilustrasi ultra processed food atau makanan ultra proses (UPF) penyebab obesitas.(Dok. Freepik)

PREVALENSI obesitas nasional pada penduduk berusia sekitar 18 tahun di Indonesia mengalami peningkatan. Angka ini naik dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023.

Obesitas disebabkan oleh konsumsi kalori yang berlebihan dalam jangka panjang, yang bersumber dari makanan dan minuman yang dikonsumsi, baik dalam bentuk pangan olahan maupun siap saji atau pangan olahan seperti ultra processed food (UPF). Oleh karena itu diharapkan masyarakat untuk cermat dalam memilih pangan olahan guna mencegah obesitas. Selain itu masyarakat juga diharapkan bisa membatasi konsumsi Garam, Gula, Lemak (GGL) sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi,  menjelaskan bahwa data prevalensi obesitas di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. 

Pernyataan itu menegaskan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang berdampak serius terhadap kesehatan dan bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup semata. 

"Sebagian besar asupan kalori harian masyarakat sebenarnya masih berasal dari pangan olahan dan siap saji. Karena itu, yang terpenting adalah menerapkan pola makan seimbang, memperhatikan porsi, serta menghindari konsumsi berlebihan agar risiko obesitas dapat ditekan," kata Nadia di Jakarta, Selasa (3/3).

Di tengah gaya hidup modern, konsumsi pangan olahan tidak dapat dihindari. Namun, masyarakat perlu mampu mengenali informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan, sehingga pangan olahan yang dikonsumsi justru dapat membantu mengurangi risiko obesitas. 

"Gunakan bulan puasa Ramadan ini untuk mengurangi takaran konsumsi gula, garam dan lemak," ujar Nadia.

Direktur SEAFAST Center IPB, Puspo Edi Giriwono, menjelaskan  teknologi pangan modern dirancang untuk menjamin keamanan dan kualitas produk, masa simpan hingga pengurangan dampak lingkungan. 

Namun, tantangan yang muncul adalah bagaimana masyarakat memahami proses pengolahan, bahan dan ingredien yang digunakan, serta informasi yang tertera di kemasan. 

Pangan olahan adalah bagian dari sistem pangan modern yang dihasilkan melalui proses berlandaskan sains dan teknologi untuk meningkatkan keamanan, mutu, masa simpan, dan kemudahan konsumsi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. 

"Bahan tambahan pangan yang tercantum pada kemasan digunakan untuk menghasilkan produk yang baik dan telah melalui kajian keamanan serta batas aman konsumsi, sehingga aman dikonsumsi sesuai ketentuan," ungkap Puspo.

Adapun proses pengolahan pangan yang direkomendasikan adalah proses yang mengutamakan keamanan, menjaga kualitas gizi, serta mengikuti standar dan regulasi yang berlaku, sehingga produk tetap aman dan bernilai gizi. 

"Edukasi publik menjadi kunci penting untuk menurunkan risiko obesitas tanpa harus membatasi akses pangan. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat memilih pangan secara lebih bijak dan bertanggung jawab, serta berperan aktif dalam upaya mencegah obesitas,” ujar Puspo. 

Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana mengatakan pangan olahan dan siap saji yang beredar saat ini sangat beragam. Maka konsumen tetap perlu memperhatikan informasi pada label kemasan, seperti takaran saji, energi total, persentase AKG, serta komposisi bahan. 

"Dengan memahami informasi tersebut, masyarakat dapat mengontrol asupan gula, garam, dan lemak sesuai kebutuhan hariannya," pungkasnya.  (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya