Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
Hipertensi dikenal sebagai “silent killer” karena kerap berkembang tanpa keluhan berarti hingga memicu komplikasi serius. Data dari World Health Organization menyebutkan sekitar 1,28 miliar orang dewasa usia 30–79 tahun di dunia hidup dengan hipertensi, dan hampir 46 persen tidak menyadari dirinya mengidap kondisi tersebut.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 melaporkan prevalensi hipertensi masih tinggi, termasuk pada kelompok usia produktif. Kondisi ini menunjukkan tekanan darah tinggi bukan hanya masalah lansia, tetapi juga ancaman bagi usia muda.
Meski sering tidak bergejala, sejumlah tanda kerap muncul namun luput dari perhatian.
Sakit kepala berulang, terutama di bagian belakang kepala saat pagi hari, dapat terjadi akibat peningkatan tekanan pada pembuluh darah otak. Selain itu, pusing atau sensasi melayang yang muncul tiba-tiba juga dapat menjadi sinyal lonjakan tekanan darah.
Pandangan kabur perlu diwaspadai karena tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah retina dan memengaruhi ketajaman penglihatan. Pada beberapa kasus, mimisan tanpa sebab jelas juga dapat terjadi akibat pecahnya pembuluh darah kecil di hidung saat tekanan meningkat.
Jantung berdebar atau detak terasa lebih cepat dan tidak teratur dapat menandakan peningkatan beban kerja jantung. Sesak napas saat aktivitas ringan pun bisa menjadi tanda bahwa hipertensi mulai memengaruhi fungsi jantung.
Selain itu, mudah lelah dan sulit berkonsentrasi dapat muncul akibat aliran darah yang tidak optimal ke otak.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention, tekanan darah dinyatakan tinggi bila mencapai atau melebihi 130/80 mmHg. Jika tidak terkontrol, hipertensi dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal ginjal, serta berbagai penyakit kardiovaskular lainnya.
Karena sering tanpa gejala jelas, banyak penderita baru menyadari kondisinya setelah terjadi komplikasi.
Pencegahan menjadi langkah utama dalam menekan risiko hipertensi. WHO merekomendasikan pembatasan konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari, aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu, menjaga berat badan ideal, serta menghindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan.
Pemeriksaan tekanan darah secara rutin, bahkan sejak usia 20 tahun, dianjurkan untuk mendeteksi hipertensi lebih dini. Skrining berkala membantu mencegah komplikasi yang dapat berujung fatal.
Hipertensi memang kerap tak terasa, tetapi dampaknya sangat serius. Mengenali sinyal tubuh sejak dini dan menerapkan gaya hidup sehat menjadi investasi penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Sumber: World Health Organization, Centers for Disease Control and Prevention, Kementerian Kesehatan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved