Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMILIKI berat badan yang terlihat normal tidak selalu berarti tubuh benar-benar sehat. Banyak orang dengan berat badan ideal justru memiliki perut buncit. Kondisi ini bisa menjadi tanda obesitas sentral, yaitu penumpukan lemak di area perut yang berisiko tinggi bagi kesehatan.
Obesitas sentral berbeda dari kelebihan berat badan biasa karena lemak menumpuk di sekitar organ dalam perut. Seseorang bisa mengalaminya meski angka timbangan terlihat normal.
Indikator yang umum digunakan adalah lingkar pinggang. Pada pria, risiko meningkat jika lingkar pinggang lebih dari sekitar 90 sentimeter. Sedangkan wanita lebih dari sekitar 80 sentimeter.
Lemak di perut berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, gangguan metabolisme, hingga masalah pernapasan. Karena itu, obesitas sentral sering dianggap lebih berbahaya dibanding obesitas umum.
Penyebab utama kondisi ini adalah gaya hidup tidak sehat. Kurang aktivitas fisik, konsumsi makanan tinggi gula dan lemak jenuh, serta stres berkepanjangan berperan besar dalam penumpukan lemak perut. Faktor usia, hormon, dan genetik juga dapat memengaruhi distribusi lemak tubuh.
Untuk mengurangi obesitas sentral, perubahan gaya hidup menjadi langkah utama. Aktivitas fisik rutin seperti jalan cepat, bersepeda, dan latihan kekuatan otot sangat dianjurkan. Pola makan perlu diatur dengan memperbanyak sayur, buah, dan protein tanpa lemak, serta membatasi makanan olahan dan minuman manis. Tidur cukup dan pengelolaan stres juga membantu mengurangi penumpukan lemak di perut.
Mengukur lingkar pinggang secara berkala dapat menjadi cara sederhana untuk memantau risiko obesitas sentral. Jika ukuran pinggang terus bertambah meski berat badan stabil, hal ini sebaiknya menjadi peringatan untuk segera memperbaiki gaya hidup.
Perut buncit meski berat badan normal bukan kondisi yang bisa diabaikan. Obesitas sentral dapat berdampak serius pada kesehatan jangka panjang. Penting untuk dikenali sejak dini dan dicegah dengan pola hidup yang lebih sehat. (Halodoc.com/Z-10
Ingin berat badan tetap ideal saat puasa? Simak tips menjaga berat badan stabil selama Ramadhan 2026 dari ahli medis agar tidak kalap saat berbuka
Sebagai patokan sederhana, penurunan berat badan yang ideal berkisar antara 0,5–1 kg per minggu, atau tidak lebih dari 4 kg selama satu bulan penuh.
Sekitar 19 persen orang mengalami kenaikan berat badan saat Ramadan akibat pola makan berlebih saat berbuka.
Orang yang berolahraga lebih banyak membakar kalori ekstra, tetapi mereka tidak kehilangan berat badan sebanyak yang diharapkan berdasarkan jumlah kalori yang terbakar.
Diet karnivora tidak direkomendasikan karena bertentangan dengan prinsip dasar gizi seimbang dan tidak direkomendasikan untuk masyarakat umum.
Setiap orang memiliki respons metabolisme yang berbeda yang dapat dipengaruhi oleh hormon, kebiasaan makan, hingga kondisi kesehatan.
NASI dituding sebagai biang kerok perut buncit. Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Profesor Ali Khomsan menilai anggapan tersebut lahir akibat kurangnya pemahaman soal gizi seimbang
Perut buncit bukan sekadar masalah penampilan. Penumpukan lemak visceral di perut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi.
Kompetisi Merdeka dari Buncit telah diselenggarakan selama 2 tahun berturut-turut dan menarik peminat hingga ribuan peserta.
Untuk makanan, Ade Rai menyarankan untuk mengendalikan konsumsi karbohidrat dan gula berlebihan.
Perut buncit bukan hanya soal penampilan, tetapi juga tanda risiko penyakit serius. Pelajari penyebab, bahaya, serta cara mencegahnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved