Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
NASI dituding sebagai biang kerok perut buncit. Begini penjelasan ahli. Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Profesor Ali Khomsan menilai anggapan tersebut lahir dari cara pandang lama yang belum sepenuhnya memahami prinsip gizi seimbang.
Dalam keterangan tertulisnya, Prof Ali menjelaskan bahwa ukuran kesehatan tidak dapat ditentukan hanya dari tampilan fisik. Persepsi yang keliru justru berisiko memicu berbagai penyakit kronis sejak usia muda.
“Kalau zaman dulu gemuk dianggap lambang kemakmuran atau kesejahteraan, sekarang kita menyadari bahwa gemuk juga membuat seseorang lebih mudah terekspos penyakit tidak menular,”ungkapnya dalam siaran pers yang diterima Jumat (27/2).
Menurutnya, indikator anak sehat seharusnya mengacu pada kesesuaian berat badan dan tinggi badan berdasarkan standar medis. Kegemukan menjadi faktor risiko penting munculnya hipertensi, diabetes, hingga gangguan metabolik lainnya.
“Hipertensi, diabetes, penyakit gula, salah satunya disebabkan oleh faktor risiko penting yaitu kegemukan,” jelasnya.
Di sisi lain, kekhawatiran orang tua terhadap anak bertubuh kecil juga kerap menimbulkan salah persepsi. Prof Ali menegaskan bahwa anak kecil belum tentu mengalami stunting.
“Stunting itu sudah ada ukurannya. Setiap posyandu mengetahui standarnya. Misalnya anak usia lima tahun tingginya hanya 90 sentimeter, maka itu stunting karena indikatornya tinggi badan,” terangnya.
Standar tersebut tersedia di puskesmas maupun kader posyandu sehingga masyarakat dapat memperoleh penilaian yang objektif dan terukur.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa makan malam menjadi penyebab utama kenaikan berat badan. Menurutnya, persoalan sebenarnya terletak pada jeda waktu antara makan dan tidur.
“Tubuh membutuhkan jeda empat sampai lima jam antara makan dan waktu tidur agar proses pencernaan berlangsung optimal,” katanya.
Karena itu, ia lebih menganjurkan makan sore, terutama bagi kelompok usia paruh baya yang metabolisme tubuhnya mulai menurun.
Selain pola waktu makan, nasi juga sering dianggap sebagai penyebab utama kegemukan. Namun Prof Ali menilai persoalan tersebut lebih berkaitan dengan kebiasaan konsumsi.
“Mengapa nasi sering dianggap bermasalah? Karena nasi itu enak. Ketika orang makan nasi enak, dia cenderung makan lebih banyak,” ungkapnya.
Jika sumber karbohidrat lain seperti singkong atau ubi dikonsumsi berlebihan, lanjutnya, dampaknya terhadap berat badan tetap sama.
“Saya melihatnya bukan semata karena kalorinya, tetapi karena kuantitas yang dikonsumsi. Orang makan nasi biasanya jumlahnya lebih banyak".
Melalui edukasi gizi yang tepat, ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa kesehatan tidak ditentukan oleh satu jenis makanan atau bentuk tubuh tertentu, melainkan keseimbangan pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan. (H-4)
Perut buncit bukan sekadar masalah penampilan. Penumpukan lemak visceral di perut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi.
Memiliki berat badan yang terlihat normal tidak selalu berarti tubuh benar-benar sehat. Banyak orang dengan berat badan ideal justru memiliki perut buncit
Kompetisi Merdeka dari Buncit telah diselenggarakan selama 2 tahun berturut-turut dan menarik peminat hingga ribuan peserta.
Untuk makanan, Ade Rai menyarankan untuk mengendalikan konsumsi karbohidrat dan gula berlebihan.
Perut buncit bukan hanya soal penampilan, tetapi juga tanda risiko penyakit serius. Pelajari penyebab, bahaya, serta cara mencegahnya.
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan prinsip gizi seimbang dalam memilih menu berbuka puasa selama bulan Ramadan 2026.
Hati-hati, kenyang karena takjil berisiko picu kekurangan protein saat puasa. Simak penjelasan ahli gizi Dr. Rita Ramayulis tentang pola makan sehat.
Tren fibermaxxing atau konsumsi serat berlebihan picu masalah pencernaan dan defisit nutrisi. Simak takaran serat harian ideal menurut ahli gizi di sini.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengingatkan makanan manis, gorengan, dan soda boleh dikonsumsi, tapi proporsinya perlu dikurangi agar gizi seimbang.
Gizi seimbang adalah kombinasi menu makanan sehari-hari yang mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved