Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Bahaya Takjil Berlebihan: Risiko Kurang Protein saat Puasa Mengintai

Putri Rosmalia Octaviyani
21/2/2026 18:10
Bahaya Takjil Berlebihan: Risiko Kurang Protein saat Puasa Mengintai
Ilustrasi takjil gorengan.(Dok. Freepik)

KUDAPAN manis dan gorengan atau yang akrab disebut takjil seolah menjadi menu wajib saat berbuka puasa. Namun, di balik kelezatannya, konsumsi takjil yang berlebihan menyimpan risiko kesehatan yang serius. Ahli gizi mengingatkan bahwa rasa kenyang yang muncul akibat takjil dapat memicu kekurangan protein.

Ketua Indonesia Asosiasi Ahli Gizi Olahraga (ISNA), Rita Ramayulis,menegaskan agar masyarakat tidak menjadikan takjil sebagai sumber utama asupan saat berbuka. Menurutnya, dominasi karbohidrat dan lemak pada takjil tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi harian tubuh selama menjalankan ibadah puasa.

Takjil Hanya Kaya Karbohidrat dan Lemak

Sebagian besar takjil yang populer di masyarakat berbahan dasar tepung, gula, dan minyak. Komposisi ini membuat takjil tinggi akan energi namun sangat rendah protein serta mikronutrien.

“Biasanya takjil bahan utamanya karbohidrat, ada tambahan gula atau digoreng dengan minyak. Jadi kaya karbohidrat dan lemak saja, tapi rendah protein dan mikronutrien,” ujar Dr. Rita dalam keterangannya baru-baru ini.

Kondisi ini menjadi bermasalah ketika seseorang merasa sudah sangat kenyang setelah menyantap takjil, sehingga mereka memutuskan untuk melewatkan makan utama. Padahal, makan utama adalah jendela waktu terpenting untuk memasok protein ke dalam tubuh.

Pesan Ahli Gizi:

  • Takjil bukan kebutuhan utama, melainkan keinginan.
  • Batasi konsumsi takjil hanya 1 sampai 2 potong.
  • Prioritaskan kenaikan kadar gula darah secara bertahap melalui buah dan air putih.

Risiko Kesehatan Akibat Melewatkan Protein

Protein memiliki peran vital yang tidak bisa digantikan oleh karbohidrat maupun lemak. Saat berpuasa, tubuh membutuhkan protein untuk menjaga massa otot agar tidak mengalami penyusutan (muscle wasting). Selain itu, protein berfungsi memperbaiki jaringan tubuh dan mendukung sistem imun agar tetap optimal.

“Kalau seseorang hanya kenyang dengan takjil saja, berisiko kekurangan asupan protein yang merupakan zat gizi utama yang dibutuhkan tubuh, juga kekurangan serat dan beberapa mikronutrien,” tambah dosen kesehatan masyarakat di Universitas Faletehan Serang tersebut.

Cara Bijak Mengatur Menu Berbuka Puasa

Agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi tanpa mengorbankan kesehatan, berikut adalah panduan praktis yang disarankan oleh para ahli:

1. Hidrasi dan Gula Alami

Kebutuhan utama saat berbuka adalah mengembalikan kadar gula darah yang menurun setelah belasan jam berpuasa. Hal ini paling baik dilakukan dengan mengonsumsi air putih dan buah-buahan segar seperti kurma, yang memberikan energi secara bertahap tanpa membebani pencernaan secara mendadak.

2. Batasi Porsi Takjil

Jika ingin menikmati takjil seperti gorengan atau kolak, pastikan porsinya sangat terbatas. Cukup konsumsi satu hingga dua potong agar ruang di lambung tetap tersedia untuk makanan padat nutrisi nantinya.

3. Makan Utama dengan Gizi Seimbang

Segeralah beralih ke makan utama yang mengandung komposisi lengkap. Pastikan piring makan Anda terdiri dari:

  • Karbohidrat: Nasi, kentang, atau gandum sebagai sumber energi.
  • Protein: Ikan, ayam, telur, tempe, atau tahu untuk perbaikan sel.
  • Sayuran: Sumber serat dan mineral untuk kelancaran pencernaan.
  • Buah-buahan: Sebagai pelengkap vitamin.

Dengan menerapkan pola makan yang benar, Anda dapat menjalankan ibadah puasa dengan tubuh yang tetap bugar, massa otot yang terjaga, dan sistem kekebalan tubuh yang kuat meskipun di tengah aktivitas yang padat. (Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya