Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengingatkan masyarakat agar lebih cermat memilih makanan yang dikonsumsi dan menyesuaikannya dengan proporsi yang tepat. Ia menekankan, makanan yang terasa nikmat belum tentu bergizi seimbang.
“Apa yang kita makan memengaruhi metabolisme tubuh. Kita sering menikmati makanan enak seperti yang manis-manis, padahal itu sebenarnya kurang baik bagi kesehatan. Gorengan, minuman bersoda juga sering kita nikmati. Bukan berarti tidak boleh, tetapi proporsinya lebih baik dikurangi,” kata Dadan Hindayana dalam siniar yang diikuti di Jakarta, Selasa.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangka pekan gizi menjelang Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari.
Dadan menjelaskan, jika masyarakat lebih memperhatikan nilai gizi pada makanan sehari-hari, kualitas hidup dapat meningkat dan mendukung terwujudnya sumber daya manusia Indonesia yang lebih berkualitas.
“Perhatikan pola makan dan bijaklah dalam memilih makanan agar kesehatan kita membaik. Dengan demikian pengeluaran pemerintah untuk mengatasi orang-orang sakit menurun, karena masyarakatnya sudah hidup sehat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memahami Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk menjaga kondisi tubuh dalam aktivitas harian. Menurut Dadan, saat tidak melakukan aktivitas berat, tubuh manusia tetap membutuhkan energi sekitar 1.200 kalori.
“Bernapas saja butuh energi, apalagi kalau olahraga atau aktivitas lainnya. Maka harus kita perhitungkan makanan apa yang kita konsumsi untuk mengimbangi kalori yang dikeluarkan,” tuturnya.
Dadan menambahkan, kebutuhan gizi menjadi lebih krusial bagi anak-anak karena mereka membutuhkan energi tidak hanya untuk beraktivitas, tetapi juga untuk masa pertumbuhan, ketika sel-sel tubuh masih berkembang.
Selain itu, ia menegaskan orang tua perlu memahami kebutuhan gizi dasar anak di rumah untuk mencegah stunting. Pasalnya, ketika anak sudah mengalami stunting, kondisinya akan lebih sulit dipulihkan.
“Bagi seluruh komponen keluarga di Indonesia, semua perlu memperhatikan gizi. Tidak hanya yang kita intervensi dengan Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi kelompok masyarakat secara umum,” kata Dadan. (Ant/Z-10)
Dadan mengatakan dana bantuan pemerintah yang terserap untuk program MBG mencapai Rp55,2 triliun.
Kepala BGN Dadan Hindayana melaporkan program MBG menjangkau 55,1 juta siswa dengan klaim sukses 99,99%. Namun, Komisi IX DPR menyoroti temuan serius terkait menu berpengawet dan susu impor.
Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat dampak ekonomi program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama satu tahun, mulai dari pelibatan 46 ribu UMKM hingga penyerapan 780 ribu tenaga kerja.
Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 bergulir serentak pada 8 Januari tanpa penundaan, didukung 19 ribu satuan pelayanan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan tetap berlanjut selama masa libur sekolah Desember 2025 hingga awal Januari 2026.
Setiap 25 Januari, Hari Gizi Nasional diperingati untuk memberikan kesadaran pentingnya gizi seimbang bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Masalah gizi nasional yang saat ini harus diperhatikan antara lain adalah angka prevalensi stunting balita yang masih 21,5 % dan gizi kurang pada balita 8,5%.
Pada 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi, momen penting di dunia kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang.
Sayangnya, pasar pangan di Indonesia kian dibanjiri pangan impor yang harganya relatif lebih murah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved