Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
HIDANGAN sup tradisional dari Tionghia, ayam angkak dinilai bisa membantu atasi anemia terutama pada remaja putri. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sekitar 191 juta remaja putri di dunia mengalami anemia. Indonesia menempati peringkat ke-8 dari 11 negara di Asia, dengan jumlah pengidap sekitar 7,5 juta orang.
Angkak merupakan beras ragi merah hasil fermentasi beras putih dengan kapang Monascus purpureus, M. pilosus, atau M. anka. Bahan itu diketahui mengandung zat besi, vitamin B12, dan asam folat yang penting dalam pembentukan sel darah merah.
Salah satu penelitian pada 2020 menunjukkan, pemberian kapsul angkak pada 42 remaja putri kelas VIII di sebuah pondok pesantren di Klaten memberikan hasil signifikan. Dari 30 responden yang mengalami anemia, sebanyak 75 % di antaranya menjadi normal setelah mengonsumsi kapsul angkak.
Inovasi ini dipresentasikan dalam bentuk menu yang aplikatif dan mudah dibuat di rumah. Cindy Oktavian, juara pertama Lomba Presentasi Edukasi Gizi yang digelar Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II bersama Ikatan Alumni Gizi 1971–1972.
"Potong ayam menjadi potongan kecil. Hancurkan angkak dengan tangan, posisinya di dalam plastik saat dihancurkan," kata Cindy, Sabtu (24/1).
"Lalu ratakan angkak ke seluruh permukaan ayam dan marinasi kurang lebih 30 menit. Rebus air sampai mendidih, masukkan jahe, ayam, dan garam sesuai selera, lalu masak sampai ayam matang,” lanjutnya.
Menu ini diharapkan bisa menjadi contoh, bagaimana pangan lokal dan bahan tradisional dapat diolah menjadi makanan bergizi yang fungsional dan mudah diterima masyarakat.
Sebagai salah satu upaya meningkatkan edukasi gizi, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) menggelar lomba yang diikuti mahasiswa Prodi Diploma III Gizi serta Prodi Sarjana Terapan dan Dietetika. Acara ini juga dihadiri alumni gizi angkatan 1971 dan 1972, Ketua DPP PERSAGI, serta Direktur Poltekkes Kemenkes Jakarta II.
Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan peran gizi dalam menunjang kesehatan, produktivitas, dan kualitas SDM.
Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Doddy Izwardy mengatakan pada HGN ke-66, persoalan gizi masih menjadi perhatian besar. Mulai dari stunting, gizi kurang, anemia, obesitas, hingga meningkatnya penyakit tidak menular.
"Melalui lomba ini, mahasiswa didorong tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menyampaikan pesan gizi secara komunikatif, persuasif, dan berbasis bukti ilmiah, sekaligus menangkal hoaks di era banjir informasi digital," ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, PERSAGI menegaskan bahwa edukasi gizi yang kreatif, berbasis bukti ilmiah, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan penurunan stunting, menekan anemia, dan menyiapkan generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas menuju 2045. (Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved