Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Anak Sekolah harus Jadi Agen Perubahan Pola Makan Sehat di Keluarga

Despian Nurhidayat
21/1/2026 18:38
Anak Sekolah harus Jadi Agen Perubahan Pola Makan Sehat di Keluarga
Ilustrasi(Antara)

Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) memperingati Hari Gizi Nasional dengan menggelar edukasi gizi serentak di ribuan sekolah di seluruh Indonesia. Kegiatan ini tak hanya bertujuan memecahkan rekor, tetapi juga menyiapkan anak-anak sekolah sebagai agent of change atau agen perubahan pola makan sehat di lingkungan keluarga.

Ketua Umum DPP Persagi, Doddy Izwardy, mengatakan kegiatan ini melibatkan sekitar 9.300 tenaga edukator gizi, lebih dari 55 ribu peserta didik, serta sekitar 18 ribu sekolah di seluruh Indonesia.

“Tujuan kita hari ini, pertama insyaallah mendapatkan rekor MURI karena melakukan edukasi gizi serentak dan besar. Tapi yang paling penting, ini adalah bagian dari upaya jangka panjang memperbaiki kualitas gizi bangsa,” beber Doddy dalam agenda Edukasi Gizi Serentak di Titik Lokasi Sekolah Seluruh Indonesia, Rabu (21/1).

Doddy mengingatkan, Indonesia sebenarnya sudah mencatat kemajuan besar dalam 10 tahun terakhir dalam menurunkan angka stunting. Dari 37,2 persen pada 2013, turun menjadi 19,8 persen pada 2024.

“Kalau dihitung, penurunannya sekitar 1,3 sampai 1,5 persen per tahun. Ini bukan angka kecil. Dan kenapa stunting ini penting? Karena ini berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas SDM, terutama dari sisi kognitif, lewat makanan yang diberikan,” jelasnya.

Selama satu dekade terakhir, upaya penurunan stunting difokuskan pada 1.000 hari pertama kehidupan melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif yang digarap bersama Kementerian Kesehatan dan Setwapres. Di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, upaya itu diperkuat lewat Program Makan Bergizi.

“Bagi kami, satu negara memberi makan kepada targetnya itu luar biasa. Ini program spektakuler. Dan kami para ahli gizi terpanggil untuk menjaga kualitas standar gizinya,” kata Doddy.

Doddy menekankan, tujuan utama program gizi nasional bukan sekadar membuat anak kenyang. Yang ingin dicapai adalah keberhasilan penerapan Pedoman Gizi Seimbang, yang memiliki empat pilar: makan beragam, aktivitas fisik, minum air putih yang cukup, serta konsumsi buah dan sayur.

“Itu yang ingin kita dorong, dan itu sudah mulai diterapkan di tahun pertama Kabinet Merah Putih ini,” ujarnya.

Dalam edukasi kali ini, PERSAGI menekankan pentingnya pemahaman kualitas makan di sekolah. Menurut Doddy, makanan dari program pemerintah hanya mencakup sekitar 25%-30% kebutuhan gizi harian anak.

“Sehari itu kan makan dari pagi, siang, sore. Jadi jangan sampai anak-anak dan guru berpikir, ‘oh saya sudah dikasih makan, selesai’. Yang kita kejar adalah perubahan perilaku makan,” jelasnya.

Anak-anak juga didorong memahami bahwa dalam satu piring makan harus ada sumber karbohidrat, protein, serta vitamin dan mineral. Harapannya, pemahaman ini dibawa pulang ke rumah.

“Mudah-mudahan ini membawa mereka jadi agent of change di keluarga,” kata Doddy.

Doddy menjelaskan, Persagi ingin memutus mata rantai masalah gizi lewat pendekatan yang lebih panjang, yang ia sebut sebagai 8.000 hari pertama kehidupan, atau sekitar 19 tahun.

“Supaya remaja putra-putri ini, sebelum nanti berumah tangga, sudah paham bahwa stunting itu penting, paham sumber makanan seperti apa yang dibutuhkan. Ini sudah dibuktikan di India, mereka bisa menurunkan masalah gizi dalam 20 tahun dan kualitas SDM-nya meningkat pesat,” ujarnya.

Persagi juga mengingatkan bahwa ancaman masalah gizi bisa kembali meningkat jika situasi darurat, seperti bencana, tidak ditangani dengan baik. Doddy menyinggung berbagai bencana banjir yang belakangan melanda Aceh, Sumatera Utara, Padang, dan daerah lain.

“Dalam ilmu gizi bencana, kelompok rentan itu yang kena duluan. Ibu hamil, balita 0–2 tahun. Kalau tidak dijaga, dampaknya bisa ke underweight, wasting, sampai stunting,” jelasnya.

Ia mencontohkan di Aceh Tamiang, di mana sekolah darurat didampingi tenaga gizi yang diturunkan Kemenkes dan Persagi untuk memberikan praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), disertai konseling psikolog dan dokter.

“Tujuannya supaya mereka tidak jatuh ke kondisi masalah gizi. Tiga indikator itu harus dijaga: underweight, wasting, dan stunting,” tegasnya.

Doddy menutup dengan menegaskan bahwa kunci utama menjaga keberlanjutan perbaikan gizi nasional adalah edukasi yang konsisten.

“Kalau edukasi ini terabaikan, kita khawatir kasusnya akan naik lagi. Karena itu, kami di Persagi yakin, perubahan besar itu harus dimulai dari anak-anak,” pungkasnya. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya