Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, Klara Yuliarti, mengatakan orangtua harus pandai membaca label pangan pada kemasan sebelum memberikan kepada anak. Karena jika salah, bisa berpengaruh pada perkembangan gizi anak.
"Label pangan bisa disosialisasikan terutama pada orangtua yang memiliki anak usia 0-3 tahun yang membutuhkan kadar protein tinggi," kata Klara dalam konferensi secara daring, Selasa (27/1).
Orangtua harus lebih waspada pada produk-produk yang dianggap memberikan protein pada anak, padahal tidak. Ia mencontohkan produk susu kental manis (SKM), padahal kandungan susunya sangat sedikit dan lebih banyak krimer serta gula. Contoh lainnya yakni minuman coklat diberi susu, sehingga tidak boleh dikategorikan atau dilabeli sebagai susu. Minuman tersebut seharusnya hanya disebut mengandung susu.
Sementara itu pihak produsen juga harus mencantumkan label pangan sejelas mungkin.
"Tidak boleh menyesatkan. Misalnya, susu dikasih nama yang menyiratkan susu itu membuat pintar, membuat tinggi, tidak boleh menyesatkan. Bahkan nanti gambar pun akan dicek oleh Badan POM kalau menyangkut anak di bawah 3 tahun, atau 0-3," ujar dia.
Klara pun meminta orangtua untuk lebih teliti membaca kandungan gula pada produk susu anak. Gula diketahui memiliki banyak jenis yang bisa ditemui di produk susu anak seperti sukrosa, glukosa, fruktosa, laktosa, maltosa, karbohidrat, dan gula.
"Yang tidak baik adalah gula yang berlebih dan yang ditambahkan. Gula yang ditambahkan itu bisa berupa madu, bisa juga ditambah sukrosa atau gula pasir," pungkasnya.(M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved