Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
OBESITAS bukan sekadar masalah penampilan, melainkan gerbang menuju kondisi kesehatan serius, salah satunya adalah sindrom metabolik. Kondisi ini, yang kerap diawali oleh kelebihan berat badan, secara signifikan meningkatkan kompleksitas penanganan kadar kolesterol jahat atau LDL (Low-Density Lipoprotein).
Peringatan ini disampaikan oleh ahli penyakit dalam dan Kardiovaskular terkemuka, Dr. dr. Birry Karim Sp.PD., K-KV., dalam sebuah sesi seminar di RS Medistra, Jakarta, dikutip Rabu (10/12).
Birry, yang juga menjabat sebagai Kepala Departemen Kardiovaskular Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), menyoroti bahwa obesitas menyebabkan serangkaian masalah yang saling berkaitan, menjadikan pengendalian LDL hanya sebagian kecil dari tantangan medis yang lebih besar.
Dalam penjelasannya, Birry memberikan contoh kasus seorang pria berusia 43 tahun dengan berat 158 kg yang sudah memiliki riwayat hipertensi dan kolesterol tinggi. Pasien tersebut didiagnosis mengidap aritmia, yaitu gangguan irama jantung.
“Pasien ini mengidap sindrom metabolik. Masalahnya bukan sekadar LDL tinggi, tapi juga aritmia, gagal jantung, dan risiko penyakit lain yang lebih berat,” ujar Birry, seraya menyarankan agar pria tersebut segera mendapatkan penanganan medis intensif.
Birry menguraikan hubungan sebab-akibat yang terjadi antara kelebihan berat badan dan masalah jantung. Obesitas dapat memicu Obstructive Sleep Apnea (OSA), gangguan pernapasan saat tidur, yang pada akhirnya menyebabkan kekurangan oksigen kronis dalam tubuh.
Gangguan oksigenasi kronis inilah yang secara langsung dapat memicu timbulnya aritmia.
Lebih lanjut, obesitas secara umum telah terbukti meningkatkan risiko hipertensi dan gagal jantung kronis. Kombinasi dari kondisi-kondisi ini kemudian dapat memicu aritmia, yang pada akhirnya menciptakan lingkaran penyakit kardiovaskular yang semakin berat dan sulit ditangani.
Penanganan aritmia pada pasien dengan obesitas juga memiliki tingkat kompleksitas tersendiri. Birry menyoroti adanya tantangan regenerasi berat badan, yaitu kondisi di mana berat badan naik kembali setelah berhasil diturunkan, yang sering kali disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon. Tantangan ini menjadi latar belakang pentingnya intervensi medis yang berkelanjutan dan komprehensif.
Birry menutup penjelasannya dengan pesan utama: risiko penyakit kardiovaskular yang tinggi pada pasien obesitas menuntut intervensi serius.
Penanganan tidak hanya terfokus pada pengobatan, tetapi harus dimulai dari modifikasi gaya hidup, termasuk rutin berolahraga dan pengaturan makan yang disiplin.
Selain itu, penanganan harus melibatkan masalah penyerta seperti aritmia serta kepatuhan yang ketat pada terapi medis yang telah diresepkan. (Ant/Z-1)
MENJELANG momentum liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), pola makan sebagian masyarakat cenderung berubah.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 oleh Kementerian Kesehatan mencatat bahwa hanya 3,6% pasien di Indonesia yang berhasil mencapai target LDL-C yang ideal.
LDL, yang dikenal sebagai kolesterol jahat, merupakan faktor utama penyakit kardiovaskular.
Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang paling populer di Indonesia. Selain mudah ditemukan, telur juga kaya nutrisi dan harganya terjangkau.
Penurunan kolesterol LDL dan trigliserida terjadi di semua tingkat dosis, dengan penurunan awal muncul dalam dua minggu pertama pengobatan dan bertahan setidaknya selama 60 hari.
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Nyeri leher tak selalu akibat salah tidur. Dalam kondisi tertentu, sakit leher bisa menjadi gejala serangan jantung. Kenali tanda dan risikonya.
Tes darah baru mampu mendeteksi risiko komplikasi mematikan pada pasien hypertrophic cardiomyopathy (HCM). Terobosan besar bagi jutaan pengidap jantung genetik.
Peradangan kronis pada gigi dan gusi bukan sekadar rasa nyeri, melainkan proses biologis yang memengaruhi pembuluh darah.
Para pelari disarankan agar rutin mendeteksi masalah jantung, seperti keberadaan plak, sedini mungkin.
LDL, yang dikenal sebagai kolesterol jahat, merupakan faktor utama penyakit kardiovaskular.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved