Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITIAN terbaru mengindikasikan bahwa energi gelap tidak diperlukan untuk memahami percepatan perluasan alam semesta. Sebaliknya, hasil studi menunjukkan bahwa adanya kekosongan besar di ruang angkasa dapat menciptakan ilusi tersebut.
Para ilmuwan berpendapat bahwa energi gelap, yang selama ini dipahami sebagai kekuatan misterius yang mendorong percepatan perluasan alam semesta, mungkin sebenarnya tidak ada. Penelitian ini mempertanyakan salah satu pilar dari kosmologi modern.
Dalam sebuah studi yang dirilis pada 19 Desember 2024 di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, para peneliti menganalisis data dari survei Pantheon+, yang merupakan kumpulan data supernova tipe Ia paling komprehensif dan akurat.
Kecerahan konsisten supernova ini memungkinkan astronom untuk mengukur jarak ke berbagai lokasi di alam semesta dengan tingkat presisi yang tinggi.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa apa yang kita anggap sebagai percepatan dapat jadi hanyalah sebuah ilusi yang disebabkan oleh struktur kosmos berskala besar.
Supernova tipe Ia, yang merupakan kematian bintang katai putih yang meledak, telah menjadi instrumen penting dalam kosmologi. Fenomena ini terjadi ketika katai putih mengakumulasi cukup materi dari bintang pendampingnya untuk memicu ledakan termonuklir. Karena supernova tipe Ia menghasilkan kecerahan puncak yang konsisten, pengukuran kecerahannya dari Bumi dapat mengungkapkan jarak yang sebenarnya.
"Supernova tipe Ia sangat berharga dalam astronomi karena bertindak sebagai 'lilin standar' yang dapat kita gunakan untuk mengukur jarak yang sangat jauh di alam semesta," ungkap Zachary Lane, penulis studi dan peneliti dari Universitas Canterbury di Selandia Baru.
Dengan menggabungkan informasi jarak ini dengan pergeseran merah supernova—yang merupakan peregangan cahaya menjadi panjang gelombang yang lebih merah akibat perluasan alam semesta—para ilmuwan telah berhasil memetakan perkembangan alam semesta dari waktu ke waktu.
Beberapa dekade lalu, metode ini digunakan untuk menunjukkan bahwa perluasan alam semesta berlangsung semakin cepat, penemuan yang kemudian mendorong munculnya hipotesis energi gelap, sebuah kekuatan misterius yang diyakini mengisi ruang angkasa dan memicu percepatan ini.
Kumpulan data Pantheon+ adalah pengumpulan supernova tipe Ia terlengkap dan terakurat yang pernah ada. Data ini mencakup pengamatan selama puluhan tahun dari teleskop darat dan luar angkasa, dengan informasi mengenai 1. 500 supernova yang tersebar di berbagai ruang-waktu.
Ketepatan dan komprehensif data ini menjadikannya sumber yang kaya untuk menguji berbagai model kosmologi. Catatan rinci tentang kecerahan serta pergeseran merahnya memberikan wawasan yang tak tertandingi mengenai evolusi alam semesta, menciptakan platform penting untuk menguji teori-teori alternatif bagi model kosmologi standar.
Walaupun energi gelap mampu menjelaskan banyak fenomena percepatan yang diamati di alam semesta, konsep ini tetap menyimpan banyak misteri. Energi gelap belum pernah terdeteksi secara langsung, dan asal-usulnya juga belum terjelaskan secara teoritis, mendorong sejumlah ilmuwan untuk mencari penjelasan lain.
Asumsi yang mendasari penggunaan energi gelap untuk menjelaskan perluasan alam semesta selalu ada. Namun, Lane dan rekan-rekannya menguji ide alternatif yang dikenal sebagai model bentang waktu.
Konsep ini menyatakan bahwa percepatan yang terlihat mungkin merupakan hasil dari struktur kosmik seperti kekosongan, yaitu wilayah ruang yang sangat luas dan hampir kosong yang terletak di antara gugusan galaksi.
Meskipun temuan yang diperoleh sangat meyakinkan, Lane menekankan pentingnya melakukan penelitian lebih lanjut untuk mendukung argumen terkait bentang waktu. "Walaupun ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan agar hal ini dapat diterima lebih luas dalam komunitas kosmologi, hasil ini menunjukkan pengujian awal yang sangat menjanjikan," ungkapnya. (Livescience/P-5)
Astronomer akhirnya membuktikan keberadaan Siwarha, bintang pendamping Betelgeuse. Penemuan ini menjelaskan mengapa bintang raksasa merah ini sering meredup secara aneh.
NASA lewat James Webb berhasil mendeteksi supernova paling awal dan paling jauh, terjadi 730 juta tahun setelah Big Bang. Fenomena ini membuka wawasan baru tentang bintang awal
Supernova merupakan peristiwa ledakan bintang raksasa yang sangat hebat dan dramatis.
Sinyal gelombang gravitasi AT2025ulz diduga menjadi bukti pertama keberadaan superkilonova. Peristiwa kosmik langka yang melibatkan supernova dan penggabungan bintang neutron.
Para astronom tengah menyoroti sebuah peristiwa di alam semesta yang diduga sebagai superkilonova, jenis ledakan kosmik yang selama ini hanya ada dalam teori.
Sistem bintang V Sagittae diprediksi menuju ledakan nova dan supernova yang dapat terlihat dengan mata telanjang, bahkan pada siang hari.
Astronom menggunakan Teleskop James Webb menemukan bukti awal keberadaan bintang raksasa purba bermassa hingga 10.000 kali Matahari.
Dua fisikawan dari University of Southern Mississippi mengajukan gagasan mengejutkan: alam semesta mungkin tidak hanya mengembang, tetapi juga berdenting
Penelitian baru ungkap ekspansi alam semesta mungkin melambat dan energi gelap mulai melemah. Temuan ini bisa mengubah pandangan kosmologi.
Penelitian terbaru menunjukkan alam semesta mungkin tidak mengembang selamanya. Kosmos diprediksi runtuh dalam 20 miliar tahun mendatang.
Alam semesta awal diduga sudah memiliki medan magnet yang amat lemah, miliaran kali lebih kecil dari magnet kulkas, setara dengan arus listrik di neuron otak manusia.
Dua studi terbaru mengungkap bintang pertama setelah Big Bang mungkin tidak selalu raksasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved